TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KAMU MARAH HONEY?



“Kamu edan Da. Dulu saat mereka bayi kamu buang mereka. Sekarang kamu ngotot mau ambil? Benerlah kalau anakmu aja ji-jik padamu. Bener kalau dia bilang enggak mau jadi ban serep. Kamu bahkan tega ngebunuh anak pertama sebelum bertemu Syahrul kan?” Ida yang sedang berkeluh kesah pada kakak iparnya malah dimaki-maki.


“Dan kalau dia sudah punya pengacara. Walau Syahrul meninggal sekali pun, kamu enggak berhak ambil anak-anak itu. Karena dasar penentuan hak asuh karena kamu meninggalkan mereka saat mereka balita. Itu enggak akan bisa dianulir!”


Rupanya Ida tetap akan ngotot mengambil hak asuh Nazwa dan Fahri. Dia sedang mencari pengacara yang bisa membantunya.


***


Di rumah sakit  Ilyas sedang menunggu kedatangan calon istrinya. Mereka akan menjenguk Syahrul sehabis makan siang bersama. “Win,” Namira yang baru turun dari ojek online melihat Wiwin yang akan kelura rumah sakit.


“Kamu mau ngapain?” tanya Wiwin.


“Lha ‘kan tunanganku dokter disini. Kami akan makan siang lalu nengok teman yang sedang sakit,” jawab Namira.


“Oh, aku baru tahu kalau tunanganmu dokter disini,” jawab Wiwin.


“Kamu sendiri mau kemana?” tanya Namira.


“Biasa aku baru nungguin ibunya Wisnu. Biar bagaimana pun dia masih ibu mertuaku. Dan sekarang aku hendak beli makan siang untukku dan ayah. Sekarang ayah yang full jaga ibu,” jawab Wiwin.


“Baiklah, aku masuk ya. Nih dia sudah telepon. Pasti enggak sabaran nunggu,” Namira memperlihatkan panggilan telepon dari Ilyas dan segera pamit dari Wiwin.


“Aku sudah di lobby,” jawab Namira saat Ilyas bertanya dia dimana. Karena sejak tadi Namira sudah bilang tiba di rumah sakit.


“Kamu kesini sebentar ya Yank,” Ilyas meminta Namira datang ke poli umum tempatnya bertugas.


Namira pun segera menuju poli umum. Dia sudah tahu tempatnya. Waktu sepulang dirawat, Ilyas mengajaknya untuk memberitahu ruangan tugasnya. Sebenarnya sekarang Ilyas sedang ambil specialisasi. Sehingga bila telah lulus tentu dia akan pindah ruangan.


“Assalamu’alakum,” Namira mengucap salam pada beberapa perawat dan dokter yang ada diruangan poli umum yang memang pintunya terbuka lebar. Sudah tidak ada pasien dan poli memang sudah tutup sejak tadi. Hanya mereka sedang ngobrol saja.


“Wa’alaykum salam,” sahut semua yang ada disana termasuk Ilyas.


“Nah ini bidadariku. Jadi mohon kalian hentikan perjodohan yang kalian rancang itu!” Ilyas langsung berdiri menghampiri Namira dipintu ruangan. Dipeluknya pinggang Namira dengan posesif.


“Serius Dok?” tanya seorang perawat yang terlihat sangat tebal dandanannya.


“Masa saya bohong. Kalau selama ini saya diam, bukan karena saya mau. Tapi saya menghargai kalian.  Tapi lama-lama saya keqi bila dihubung-hubungkan dengan sosok yang saya enggak suka dan ngaku-ngaku habis jalan sama saya. Kalau seriusan saya jalan sih enggak apa-apa. Lha ini kan saya enggak jalan ama dia? Kalau calon istri saya salah kira, kalian mau tanggung jawab?” tanya Ilyas keqi.


Rupanya sejak kemarin di story sosial media seorang pemuja Ilyas ditulis perempuan itu habis kencan dengan dokter idolanya. Dan semua teman heboh lalu nge tag akun Ilyas menggoda tentang kencan itu.


Namira yang mengetahui Ilyas sedang keqi hanya tersenyum saja. “Kalau suka sama dokter Ilyas, bilang aja kesaya langsung. Saya akan mundur kalau dokter yang minta koq,” Namira sengaja memberi peluang siapa yang ingin dekat dengan Ilyas.


“Honey …,” rajuk Ilyas.


“Lha aku ‘kan bilang akan mundur bila kamu mau? Kalau kamu enggak mau ya aku enggak akan mundur lah,” jawab Namira diplomatis.


“Ya sudah yuk kita pulang,” ajak Namira kalem. Semua melihat bagaimana Ilyas sangat bucin pada Namira. Ilyas yang sangat datar pada semua perempuan cantik, bahkan banyak dokter muda yang mendekatinya. Malah terlihat kolokan didepan gadis ayu yang sejak tadi dia panggil honey.


“Terserah, Bunda mah ngikut aja,” jawab Namira lembut.


Ilyas dan Namira mengambil makanan mereka. Dikantin rumah sakit memang semua konsumen mengambil sendiri semua makanan yang tersaji juga minuman lalu mereka berjalan ke kasir. Baru sesudah bayar cari tempat duduk untuk menikmati makanan yang telah mereka bayar.


“Wah Dok, koq baru makan,” seorang perempuan cantik menyapa Ilyas. Dia duduk dengan keempat teman wanitanya. Semua menatap taajam pada Ilyas dan Namira. Salah satu dari lima perempuan itu adalah Adinda.


“Hehe, sengaja, kiranin jam segini sudah sepi,” balas Ilyas. Nasib baik rupanya sedang berpihak pada Ilyas.adinda dan genks nya melihat dia makan siang dengan Namira.


“Meja ujung aja Honey,” Ilyas sengaja mengajak Namira melewati meja kelima dokter muda cantik itu. Semua bisa melihat, Ilyas membawa nampan makan untuk mereka berdua sementara Namira hanya mengikuti dari belakang.


“Itu yang kamu ceritain Din?” bisik seorang teman pada Adinda. Yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan sambil terus memandangi Ilyas.


“Cantik sih. Natural tanpa polesan dan sederhana,” yang lain memberi pemilaian terhadap sosok Namira yang sudah jelas-jelas memenangkan hati Ilyas.


“Enggak usah julid. Kita bukan sosok antagonis. Lebih baik kamu segera move on Din,” usul yang lain. Semua tahu hampir dua tahun ini Adinda jatuh bangun mengejar cinta Ilyas. Sampai kadang mereka merasa Adinda tak punya harga diri.


***


“Bund, semalam teteh Pia nelepon Ayah,” Ilyas membuka percakapan mereka kali ini.


“Kenapa?” tanya Namira pelan.


“Ini serius teteh yang bilang. Ayah juga bingung. Kamu kemaren aja ngambeg belum hilang. Eh sekarang ada masalah ini lagi,” Ilyas juga tak bisa menahan permintaan kakaknya.


“Bunda tu kesel. Bunda minta pendapat malah Ayah bilang terserah. ‘kan keqi,” jawab Namira. Dia sedang akan kedatangan tamu bulanan sehingga mungkin emosinya jadi tak tentu karena PMS ( Premenstrual syndrome ).


“Ayah minta maaf ya?” Ilyas mengambil jemari tangan kiri Namira dan mengecupnya. Dan hal itu malah terlihat oleh Adinda dan dua orang rekannya.


Namira mengangguk dan tersenyum manis. “Emang teteh bilang apa? Koq Ayah bingung?”


“Teteh minta kita minggu ini juga nikah resmi. Karena teteh enggak ingin terjadi hal buruk. Soal resepsi boleh tahun depan,” hati-hati Ilyas mengatakan kemauan Novia.


Namira diam. Dia tak marah atau keberatan dengan permintaan Novia. Dia malah berterima kasih, karena dasar pemikiran Novia adalah demi kepentingan Namira yang sama-sama perempuan. Dia tidak memikirkan adik kandungnya yang seorang lelaki. Tak ada kerugian dari tinggal bersama bahkan sampai hamil buat seorang lelaki.


“Kamu marah Honey?” Ilyas bingung melihat Namira yang hanya diam.


======================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta