TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
NASI LIWET



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\===========================================================================


“Assalamu’alaykum,” terdengar salam dari pintu depan. Pintu depan rumah August memang selalu terbuka bila dia sedang ada di rumah. Dia tak ingin dibilang sombong oleh tetangganya. Walau sebenarnya tak perlu karena rumahnya ada diujung jalan buntu. Tak akan ada tetangga yang lewat depan rumahnya.


Wulan ingin bangkit tapi August melarangnya. “Biar Ayah aja. Ibu diam disitu.”


Wulan tetap bangkit dan membereskan setrikaan. Karena dia tahu siapa yang datang bertamu pagi menjelang siang ini. Tamu yang memang sudah janjian dengannya.


***


“Ya ampuuuuuuun. Mami kenapa enggak ngasih tahu kalau mau datang?” August kaget melihat papi, mami, oma, Bagas, Yayuk, istri Bagas dan Ratna tantenya -ibu Bagas- ada didepan pintu ruang tamunya.


“Kalau ngasih tahu dulu ya enggak surprise lah,” balas Oma. Dia memeluk erat cucu terbesarnya. Oma hanya memiliki dua cucu yaitu August dan Bagas.


“Selamat ulang tahun ya,” satu persatu mereka masuk dan mengucapkan selamat ulang tahun pada August. Oma juga membawa tart yang mereka pesan secara online ditoko kue terdekat dengan rumah August ini. Membawa tart dari Jakarta tentu besar kemungkinan akan rusak selama perjalanan. Tadi mereka tinggal mengambil saja saat akan menuju rumah August.


August curiga Wulan terlibat dalam kejutan kali ini karena istrinya membuat puding busa besar. Biasanya Wulan membuat sesuatu tak mau banyak sisa.


Wulan dibantu oleh Rahayu atau yang biasa dipanggil Yayu, -istri Bagas- membuat minuman. Juga mengatur snack yang dibawa Nenden -mami August-.


“Sweety, bisa bicara sebentar?” tanya August. Dia harus pesan makanan untuk makan siang bagi para kerabatnya yang datang tiba-tiba tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu. Tapi dia ingin tanya pendapat istrinya dulu menu apa yang diinginkan Wulan.


“Mbak Yayu, saya kedalam sebentar ya. Dipanggil mas August,” dengan sopan Wulan pamit pada adik iparnya August. Tapi karena dia yakin Yayu usianya lebih tua dia memanggilnya dengan sebutan mbak.


“Kenapa Mas?” tanya Wulan. Dia lihat August sudah memegang ponselnya.


“Ayah mau pesan makan siang. Enaknya menu apa ya?” tanya August, dia ingin pendapat istrinya.


“Gust, Lan, ada tamu,” mami Nenden mengetuk pintu kamar mereka.


“Sebentar Mas, nanti aku kasih tahu menu yang enak. Sekarang keluar dulu karena ada tamu,” jawab Wulan. Dia tahu pasti petugas catering datang mengantar pesanannya.


August mengikuti Wulan menuju ruang tamu, dia lihat ada mobil bak dengan nama sebuah resto didepan pagar rumahnya.


‘Benar dugaanku. Wulan terlibat acara kejutan ini,’ batin August.


“Kamu tu ya. Bisa aja bersandiwara dibelakangku,” dengan gemas August menciumi pipi Wulan dari sisi belakang, tak peduli semua melihatnya.


Wulan memesan nasi liwet lengkap. Dia sudah menyediakan tikar karena nasi akan dihidangkan diatas daun pisang utuh sehingga nanti akan makan lesehan.


“Silakan diatur disini ya Kang,” Wulan menunjuk ruang tengah yang sudah ada tikar digelar Bagas.


“Wah keren kamu Lan. Pesan nasi liwet?” tanya Nenden. Tentu saja Nenden suka akan menu yang disiapkan oleh menantunya kali ini.


“Mas masih mau pesan makan siang di resto?” tanya Wulan sambil memegang pipi August yang menaruh kepala dipundaknya.


“Kamu memang minta Mas hukum. Liat aja nanti malam kamu akan Mas eksekusi,” bisik August agar tak ada yang mendengar. Wulan sudah tahu apa yang August maksud dengan hukuman.


Nenden dan Prabu bahagia melihat August bisa ekspresif seperti sekarang. Bahkan dengan Julia dia tak terlihat seperti sekarang.


“Oma mau diambilin di piring aja dan duduk dikursi?” tanya Wulan. Dia tahu oma akan sulit duduk dilantai makan lesehan bersama yang lain.


“Oma bisa koq duduk dilantai. Nanti saat akan berdiri dibantu Bagas dan August,” sahut oma Stelle. Dia tak ingin melewati keseruan makan bersama nasi liwet kali ini.


“Kamu kapan pesannya Sweety?” tanya August pada istrinya yang penuh kejutan ini.


“Pas aku minta izin soal diskusi. Kami -aku dan Kemuning- pergi pesan nasi liwet sekalian beli tart kecil. Habis itu baru kami diskusi.” Wulan tak bohong. Dia memang ada diskusi hanya sebelum diskusi dia menyempatkan kabur bersama sahabatnya.


“Ya ampuuuuuuuuuuun. Bisaan ya kamu tuh,” August sangat menghargai jerih payah istrinya yang mau bersusah payah mensukseskan kejutan dari maminya.


Pantas dia bisa kecolongan, tahu-tahu Wulan punya tart kecil dan sekarang ada nasi liwet.


***


“Nindi punya akte kelahiran enggak?” tanya Ilyas pada istrinya.


“Aku belum pernah lihat,” sahut Namira. “Mau buat apa?”


“Aku ingin dia punya akte sesuai jati dirinya. Aku tak akan pernah menghilangkan asal usulnya. Kita cukup memeliharanya saja. Tapi tetap harus punya surat adopsi agar suatu saat punya kekuatan hukum bila terjadi sesuatu,” sahut Ilyas.


“Bikin akte pemutihan aja. Apa bisa? Data orang tuanya kita perlihatkan data di raportnya. Walau aku hafal data nama dan tanggal lahir teh Almi dan kang Halim,” sahut Namira. Dia sedang membereskan baju Ilyas kedalam lemari.


“Nanti aku cari info membuat akte pemutihan. Yang pasti biarkan dia tetap sesuai dengan jati diri aslinya. Kita tak perlu takut dia akan melupakan kita bila kita selalu menghujani dengan cinta dan kasih sayang,” Ilyas memeluk Namira dari belakang membuat perempuan itu sulit bergerak.


“Tanggung ini, hampir selesai. Jangan ganggu ah,” perempuan itu menepis tangan suaminya.


“Besok kita belanja yok Bund, berdua aja,” ajak Ilyas.


“Kenapa enggak bawa anak-anak?” Namira bukan tak suka jalan berdua dengan suaminya. Dia malah sadar mereka harus sesekali jalan berdua. Karena sebagai seorang suami tentu Ilyas ingin merasakan jalan berdua saja. Namira hanya ingin tahu alasan Ilyas.


“Pengen ngerasain nge date ama kekasih,” balas Ilyas jujur.


“Oke. Besok pagi-pagi Bunda bikin buburnya Dede dulu. Juga puding buah buat teteh. Jadi selama kita keluar bibik enggak terlalu terbebani.” Namira pun menyanggupi permintaan suaminya.


***


Sehabis berkumpul hingga makan malam dirumah August. Semua menginap di hotel termasuk Wulan dan August.


Kali ini Prabu mengambil empat kamar terpisah karena mereka memang hanya butuh tidur setelah puas berkumpul dirumah August. Tentu oma dan Ratna satu kamar karena mereka berdua memang tak ada pasangan suami.


“Kalau August kerja, apa kamu akan sendirian dirumah?” tanya oma pagi ini. Mereka berkumpul di ruang makan hotel. Semua tamu hotel mendapat jatah makan pagi.


“Enggak Oma, aku menginap di panti asuhan. Tempat kerjaku dulu. Tapi sekarang aku hanya kerja sosial enggak digaji lagi. Aku mundur kerja sejak akan menikah dengan mas August. Tapi selama mas August enggak ada dirumah, aku akan sumbangin tenaga disana,” jawab Wulan tanpa malu.