
“Koq bisa mami kecolongan?” tanya Prabu Siswodihardjo, papinya August pada Nenden istrinya.
“Itulah, aku juga bingung,” jawab Nenden sambil membersihkan wajahnya. Mereka bersiap tidur.
“Papi ‘kan bilang, kita semua menikah tanpa perjodohan. Mengapa August harus menerima perlakuan tidak adil seperti ini? Kalau menurut Papi, biar August menikah dengan janda sekali pun, asal perempuan baik-baik ya silakan saja. Jangan seperti pela_cur yang merusak pertunangan August dengan Julia atau perempuan tak punya harga diri seperti teman hidup bersamanya dulu. Perempuan baik-baik tak akan pernah mau making love bila belum halal,” Prabu geregetan anaknya ditekan oleh maminya.
“Ya Papi bilang dong ke oma. Jangan bikin August menjauh lagi dari kita. Kalau dia ditekan seperti itu August akan kembali memberontak. Anak kita cuma satu. Kalau dia menjauh seperti kemarin, kita juga yang kesepian,” balas Nenden sambil membaringkan tubuhnya.
“Besok Papi akan bilang ke Mami. Semakin hari dia semakin senewen aja,” Prabu pun keqi karena anaknya jadi target perjodohan oleh ibunya.
***
‘Sudah mulai kuliah?’ chat dari August masuk ke ponsel Wulan malam ini.
‘Sudah Pak,’ balas Wulan. Dia baru saja mencatat semua judul buku yang harus mulai dia beli sedikit demi sedikit sesuai kondisi tabungannya. Bekerja di panti ini Wulan bisa lebih banyak menabung karena tidak keluar uang untuk makan seperti saat di rumah pamannya dulu.
‘Sudah dapat daftar buku pegangan setiap mata kuliah?’ lanjut August bertanya pada Wulan.
‘Beberapa dosen sudah kasih, yang lain belum karena belum tatap muka,’ balas Wulan.
‘Berikan nomor rekeningmu,’ balas August lagi. Wulan yang membacanya langsung menghentikan chat. Dia tak mau membalasnya lagi.
‘Kenapa hanya dibaca? Aku hanya mau membantu sedikit. Untuk kamu beli buku. Kan tidak mungkin kalau aku kirim lewat rekening yayasan.’ August terus mendesak Wulan. Kembali hanya dibaca.
Karena kesal August langsung melakukan panggilan telepon. Wulan tak mengangkatnya.
‘Angkat teleponku. Kalau tidak aku akan telepon melalui nomor panti. Biar semua tahu kamu tidak sopan karena menolak panggilanku,’ August menggertak Wulan. Dia akan tunggu sampai pesannya dibaca oleh perempuan kuat itu. Tapi Wulan sudah tidak membaca pesannya lagi.
‘Mungkin dia sudah tidur,’ pikir August. Lalu dia pun menghubungi anak buahnya di foto studio. Dia membahas program kerja dengan bicara dalam percakapan team.
***
Hari Minggu ini Wulan sengaja akan kontrol kandungannya lalu belanja baju dan celana untuk dia gunakan selama kuliah. Kemarin Sabtu dia tidak keluar sama sekali. Kalau tak ada keperluan Wulan benar-benar full di panti. Dia sadar diri. Tak mau menyia-nyiakan kebaikan semua orang yang sudah membantunya.
“Semakin besar, dia tetap terlihat sehat ya Teteh. Jangan lupa jaga asupan agar dede tetap sehat,” nasihat bu bidan. Bidan ini memang membuka praktik tujuh hari selama 24 jam tanpa libur. Kalau dia pergi atau berhalangan ada bidan pengganti.
“Terima kasih Bu,” sahut Wulan. Dia senang menyimpan foto USG bayinya. Di klinik ini memang dilengkapi dengan alat USG. Dan bila dibutuhkan juga bisa operasi Caecar dengan dokter kandungan yang mengayomi klinik ini. Sehingga banyak warga yang senang periksa di klinik kecil tapi lengkap ini.
Wulan langsung melangkah menuju jalan raya untuk naik angkot menuju pasar. “Wulan?” sapa perempuan muda yang sedang menunggu angkot di halte yang baru saja Wulan datangi.
“Ceu ( panggilan untuk perempuan yang lebih tua, dari kata ceuceu ) Ramla, apa khabar Ceu?” tanya Wulan sopan.
“Meni geulis pisan. Kamu teh’ tinggal dimana?” perempuan bernama Ramla malah tidak menjawab pertanyaan Wulan. ( Meni geulis pisan = cantik sekali ).
“Saya duluan Ceu, itu angkot sudah datang,” Wulan pamit pada perempuan itu.
“Eh kita naik angkot yang sama. Ceuceu juga mau ke pasar,” balas Ramla. “Kamu teh kenapa keluar dari rumah Bibimu itu?”
“Karena kerja di panti asuhan, ‘kan malam juga menemani bayi tidur. Saya sulit kalau bolak balik ke rumah Paman. Lagi biar irit ongkos,” jawab Wulan. Dia tetap tak akan membongkar aib bibinya.
“Apa kamu enggak pernah ke rumah Bibimu lagi?” selidik Ramla.
“Enggak pernah Ceu. Saya full di panti. ‘Kan saya juga setengah harinya sekolah,” balas Wulan jujur.
“Jadi kamu enggak tahu kalau Rubby ( namanya Rubiyah ) habis diperkosa rame-rame saat pulang main ke diskotik kampung?” Ramla memberitahu info yang mengagetkan Wulan. Dia tak menyangka adik sepupunya yang masih kelas sepuluh SMA itu mengalami kejadian mengerikan seperti itu. Dia memang sudah lama tak berbalas pesan dengan pamannya.
“Dan bibimu sekarang stress, karena Rita hamil tapi tak ada yang mau tanggung jawab. Orang-orang pada ngomongin bibimu ketulah ( kena akibat buruk suatu perbuatan / karma ) karena menzolimi anak yatim,” Ramla melanjutkan gosipnya. Ramla memang bukan penduduk satu kampung dengan paman Wulan. Hanya rumah mertuanya persis didepan rumah pamannya itu. Jadi dia mendengar berita tak sedap yang pastinya selalu dibicarakan setiap saat.
Wulan tak aneh kalau soal Rita, karena dia tahu anak bibinya itu sering gonta ganti pacar sejak SMA. Dan sekarang mungkin di kampus dia terus seperti itu. Sehingga saat hamil bingung siapa yang jadi ayah bayinya.
‘Andai kalian tahu, aku dijual oleh bibi, maka cerita kalian pasti akan lebih heboh lagi,’ batin Wulan. Wulan tahu gosip dikampung itu cepat tersebar. Semua pasti akan menyebarkannya.
‘Karma itu ada!’ batin Wulan. Bukan tak kasihan pada kedua adik sepupunya.
“Ceu, saya turun disini,” Wulan berhenti satu halte sebelum pasar. Dia tak ingin Ramla tahu dirinya akan membeli celana hamil.
“Kenapa enggak dipasar sekalian?” tanya Ramla.
“Tadi ibu panti pesan untuk dibelikan kue di depan itu,” Wulan menunjuk sebuah toko kue besar sebagai alasan.
Wulan bertekad akan mengunjungi bengkel pamannya sehabis kuliah lusa. Karena besok jadwal dia membeli buku dengan Kemuning. Minggu lalu mereka menunda karena beberapa dosen belum memberitahu buku apa yang harus mereka beli. Wulan tak ingin harus sering-sering keluar panti diluar jam kuliah.
Wulan membeli empat celana hamil. Biru, hijau, coklat dan maroon. Dia akan memadu padankan dengan warna kemeja yang dia beli. Untuk kemeja dia memang membeli lebih banyak. Karena selama hamil ukuran bra juga berubah, dia membeli bra khusus untuk ibu menyusui. Dia harus berhemat, sehingga membeli sekalian yang bisa digunakan lebih panjang jangka waktunya.
‘Dia ada disini,’ Wulan kaget saat memasuki panti, ada sebuah mobil yang dia hafal siapa pemiliknya.
========================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta