TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
BUKAN AKAN NIKAH SIRI!



Hai!


Sehat selalu ya. hari ini Yanktie kembali up 2 bab lho


Semoga kalian suka. Jangan lupa kasih hadiah dan komen manis ya


“Naz memang masih kecil, tapi Naz tahu dari beberapa orang. Jadi ibu itu …,” keluarlah semua hal tentang Firda.


“Itu yang bikin Daddy enggak ingin menikah lagi. Tapi akhirnya mommy Laura bisa membuat Daddy dan kami nyaman.”


Claudia dan Anjas tak menyangka dua anak kecil ini sangat kuat mentalnya karena sejak kecil sudah tak dirawat seorang ibu.


“Ini makanan sudah datang, kita makan agar enggak pulang kemaleman. Yang perlu kalian ingat, kalian berdua anak Mommy Laura dan cucu Opa dan Oma,” Anjas menghentikan kisah sedih Fahri dan Nazwa.


“Nanti Oma minta nomor ponselmu ya, kita bisa ngobrol atau kita bikin kejutan buat Mommy dan Daddy kalian,” Claudia juga berupaya membuang ketegangan antara mereka.


***


“Lagi apa Yank?” tanya August setelah mereka bertukar salam. Sesuai janji malam ini August menghubungi Wulan.


“Baru masuk kamar anak. Malam ini aku piket jaga malam jadi tidur di ruang anak,” jawab Wulan. Dia menyiapkan sebuah buku yang akan dia baca menjelang tidur. Wulan sudah tak kaget disebut Yank, Honey, Babe atau panggilan lainnya oleh August. Hanya dirinya belum bisa menyebut itu. Dia masih belum bisa menyayangi August. Dan kalau itu sudah keluar ddari mulutnya, dia ingin itu juga keluar dari hatinya. Bukan hanya dimulut saja.


“Susuu ibu hamil sudah diminum?” tanya August lagi.


“Ini aku bawa, masih panas,” sahut Wulan. Dia tak mau jutek-jutek lagi menjawab August.


“Tadi pagi Mas sudah bilang ke mami dan papi. Mereka merestui kita dan ingin bertemu paklekmu. Kapan bisa? Mas masih ada dua hari free sebelum kembali terbang,” August memberi tahu tentang keputusan kedua orang tuanya.


“Enggak bisa kalau dalam dua hari ini Mas. Tadi paklek baru bilang, besok dia akan ambil Riesty dan pindah ke kontrakannya. Lusa dia mau beli kasur dan alat masak karena mereka berdua kan tidak punya apa pun. Jadi dua hari ini paklek enggak bisa diganggu,” jawab Wulan.


“Oke sepulang Mas terbang ya? Seminggu lagi Mas dan mami papi akan melamarmu ke paklek. Kita langsung akad aja ya Yank. Kamu siapkan berkas untuk ke KUA. Tolong kirim alamat KUA tempatmu biar Mas bikin surat numpang nikah dari sini,” August langsung memutuskan akan melamar Wulan seminggu lagi.


“Tapi Mas, rumah paklek kan super kecil didalam gang,” jawab Wulan ragu.


“Kita ketemuan di rumah makan sayank. Mas yang atur lokasi pertemuan. Tolong kamu beli baju untuk Riesty dan kamu buat minggu depan ya. Mas kirim uangnya habis ini. Juga kamu yang belikan alat dapur dan kasur untuk paklekmu. Uang dia biar dia gunakan untuk Riesty saja,” sahut August tanpa merasa bersalah memerintah semaunya seperti itu.


“Mas jangan kelewatan!” tentu saja Wulan tak terima.


“Sayank denger dulu. Mas bukan mau menghinamu. Tapi baju kuliah masa dipakai buat makan malam dengan calon mertua? Oh Mas lupa, kamu pakai baju yang Mas beli kemaren di London aja deh. Beli buat Riesty aja. Kalau perlu kita juga belikan Riesty buku sekolah, tas dan sepatu Yank,” bujuk August.


“Ya sudah, besok aku dan Riesty akan belanja keperluannya. Sama alat dapur dan kasur juga,” akhirnya Wulan mengalah. Dia sayang pada Riesty, karena mengingatkan pada almarhum adiknya.


“Tapi kamu enggak boleh kecapean ya, dan jangan telat makan,” August memperingatkan Wulan. Dia segera menutup pembicaraan malam ini. Dia tak ingin mengganggu waktu tidur calon istrinya itu.


‘Yank jangan lupa bikin pas foto dengan dasar yang tepat dengan tahun kelahiranmu untuk buku nikah kita,’ August mengirim chat karena saat telepon tadi dia lupa mengatakan pada Wulan. August dan Wulan memang bukan hanya akan menikah siri. Mereka akan menikah resmi di KUA. Tercatat resmi di negara dan sah menurut hukum agama. Yang akan mereka tunda hanya resepsinya saja.


Nenden dan Prabu berniat akan membuat resepsi di Jakarta. Karena semua kenalan mereka dan August ada di Jakarta. Sementara di Bandung pun kenalan Wulan hanya sedikit jadi Wulan tak masalah untuk mengadakan resepsi di Jakarta.


***


“Paklek, nanti sepulang kuliah Ndari akan ke bengkel untuk bertemu Riesty. Dia sekolah ‘kan hari ini?” tanya Wulan saat dia sedang menunggu angkot menuju kampusnya.


“Iya, tadi dia Paklek jemput  dirumah seperti biasa dan mengantarnya ke sekolah. Sebagian baju dan buku Riesty sudah Paklek bawa sekalian. Pulang sekolah dia Paklek jemput dan bawa ke bengkel. Paklek baru akan libur besok untuk pindahan.” sahut Suparman dia sudah tiba di bengkel tempat kerjanya.


“Ya sudah Paklek, siang Ndari ke bengkel. Sekarang mau berangkat kuliah. Assalamu’alaykum,” Wulan langsung memutus sambungan telepon dengan pamannya itu.


‘Pagi Yank, inget nanti jangan kecapean ya.’ Chat manis dari August, Wulan terima ketika dia tiba di halaman kampusnya.


‘Ya,’ balas Wulan lalu dia segera masuk kelasnya.


“Kamu mau kemana kali ini?” tanya Kemuning. Gadis itu selalu bertanya tiap mereka pulang kuliah. Kemuning anak tunggal yang kesepian.


“Hari ini aku akan menjemput adik sepupuku di bengkel. Lalu kami mau belanja alat dapur dan kasur karena paman mengontrak rumah dan dia tak punya alat dapur apa pun,” jawab Wulan jujur.


“Boleh aku menemani? Aku bosan sendirian dirumah,” rengek Kemuning.


“Tapi kami mau muter-muter. Banyak yang akan kami beli,” jawab Wulan. Dia tak enak selalu menyusahkan Kemuning.


“Aku malah senang kalau muter-muter dan lama,” sahut Kemuning. Tentu saja Wulan senang jadi ada teman diskusi untuk memilih sesuatu nanti.


***


“Paklek, kunci rumahnya mana?” tanya Wulan.


“Kamu mau apa? Rumah masih kosong. Baru besok Paklek beli isinya. Malam ini Paklek sudah izin akan membawa Riesty tidur disini,” sahut Suparman.


“Nanti sepulang kerja Paklek langsung kerumah aja ya. Bawa barang Riesty tadi. Aku dan Riesty tunggu Paklek di rumah,” jawab Wulan sambil menggandeng adik sepupunya meninggalkan benkel tempat pamannya bekerja.


“Ning, tujuan pertama ke penjual pakaian seragam, sepatu dan tas sekolah. Baru ke pakaian bebas untuk anak-anak ya,” Wulan memberitahu Kemuning toko yang ingin dia tuju.


“Nah kedua ke toko alat rumah tangga dan ketiga ketoko kasur,” Wulan akan membelikan semua sesuai pesan August semalam. Tadi pagi dia sudah melihat August mengirim sejumlah uang untuk belanja hari ini. Padahal tanpa ditransfer pun uang Wulan masih cukup. Transferan August sebelumnya masih banyak.


\=========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta