
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=========================================================================
Selesai makan mereka langsung menuju mall guna mencari sepatu dan tas untuk Namira, tentu juga baju untuk putri dan putra mereka walau nanti keduanya tak ikut ke gedung. Mereka juga akan membeli kebutuhan harian seperti biasa.
“Wah ini nih pelakor yang bikin suamiku selingkuh dan lupa sama istri yang banting tulang di negara lain,” ucapan pedas dari perempuan bergaun kurang bahan dengan dandanan cukup menor menusuk telinga Namira.
“Enggak mikir ya selingkuh sama kakak ipar sendiri,” lanjut perempuan itu selanjutnya sambil memandang Namira dengan ji-jik.
“Kalau anda tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, jangan asal bicara mengenai istri saya,” Ilyas geram pada perempuan yang secara kasat mata dia tahu siapa perempuan itu. Wajahnya persis dengan Nindi.
“Siapa anda berani ikut-ikut urusan saya?” tanya perempuan itu.
Ilyas langsung menggeret perempuan itu. Namira menggandeng Nindi mengikuti mereka dari belakang. Ilyas menuju pos satpam dan minta izin bicara disana. Dia tak ingin banyak orang merekam dengan ponsel bila dia ribut di mall. Namanya juga reputasinya bisa rusak.
“Saya suami Namira. Kalau anda tak tahu apa-apa dan hanya mendengar berita sampah tentang istri saya anda jangan asal bicara. Atau saya akan menuntut anda dan melaporkan anda ke polisi!” Ilyas langsung mengultimatum Almira ketika mereka sudah duduk di ruang satpam.
Almira sama sekali tak memandang Nindi apalagi ingin memeluk anak kandungnya itu. Sejak anak itu lahir memang tak ada jiwanya terpanggil mengasihi anaknya. Karena menurutnya kelahiran Nindi hanya membebani hidupnya.
“Kamu yang enggak tau apa-apa. Perempuan ini sudah merebut suami saya. Dia pelakor!,” jerit Almira.
“Teteh punya bukti Eneng pelakor?” tanya Namira sambil terisak. Dia sakit dituduh nista seperti itu.
“Teteh tahu dari siapa kalau Eneng pelakor?” desak Namira lagi.
“Jawab pertanyaan istri saya atau saya geret anda ke kantor polisi,” ancam Ilyas.
Almira diam. Dia memang tak punya bukti tentang perselingkuhan suaminya. Dia hanya tahu rumahnya disita karena suaminya tak bisa membayar gadai. Entah untuk apa suaminya menggadai rumah itu. Dia yakin suaminya menggadaikan rumah karena untuk foya-foya dengan Namira adiknya.
“Anda tahu, suami anda yang ba-jingan itu menggadaikan rumah untuk main judi, main perempuan dan mabuk. Saat mabuk dia memperkosa adik kandung anda!” geram Ilyas memberitahu fakta yang terjadi. Dia melihat istrinya sudah duduk lemas tak bisa bicara.
“Dan saat rumah disita, adik anda hamil karena perkosaan itu. Saat hamil dia harus menghidupi anak anda. Anak yang telah anda terlantarkan! Masih mau bilang istri saya pelakor? Tanpa istri saya menjadi buruh cuci, anak anda sudah mati kelaparan atau jadi pengemis!” lanjut Ilyas.
“Anda tanpa cek kebenaran langsung percaya kalau adik kandung anda berkhianat pada anda. Padahal dia berjuang untuk menghidupi anak kandung anda. Anda perempuan breng-sek tak bermoral!” ilyas masih menggebu marah mendengar istrinya disakiti.
“Satu kali lagi saya melihat anda bicara buruk tentang istri saya, saya tak akan memandang anda adalah kakak kandungnya. Saya akan geret anda ke kantor polisi. Camkan itu baik-baik. Dan jangan pernah lagi temui atau tegur istri saya bila kita bertemu. Karena sejak saat ini saya katakan dengan tegas, anda bukan kakaknya. Seorang kakak akan bertanya dulu baik-baik bukan langsung menuduh tak berdasar,” Ilyas mengajak Namira keluar dari kantor satpam itu.
Namira berjalan lemas. Ilyas mengajak Namira ke cafe. Dia memesan teh hangat untuk Namira. Dia lihat Nindi hanya diam. Karena susana sudah tak kondusif Ilyas langsung membawa keluarganya pulang. Tak jadi berbelanja.
***
Julia, Bastian dan Dade meluncur ke hotel tempat pertemuan yanga akan diadakan oleh pak Achdiyat.
“Apa’ bilang mau ke resto, tahunya dia milih resto hotel. Mana A’a tahu kalau dia milih disana,” sahut Bastian. Dia sendiri memang tak tahu.
“Enggak rugi juga kan kalian beli baju, enggak bakal basi,” Dade memberi pendapat pada pasangan tunangan ini.
“Akang mah. Emangnya nasi basi. Baju mana bisa basi,” sungut Julia.
“Ya udah enggak usah diributin,” sahut Dade.
***
“Assalamu’alaykum,” Dade memberi salam pada pak Achdiyat.
“Wa’alaykum salam De. Akhirnya kita bertemu ya. Selama ini hanya by phone aja,” pak Achdiyat yang selama ini berkomunikasi intens dengan Dade sejak dua minggu lalu ketika Julia melaporkan tentang foto jebakan yang dibuat Gladys dan Wilson untuk Bastian.
“Iya Pak. Enggak nyangka bisa kenal tokoh hebat seperti Bapak,” sahut Dade.
“Bisaan kamu mah,” balas pak Achdiyat.
“Assalamu’alaykum dengan pak Adi?” tanya seorang perempuan dengan wajah India dan menggunakan bahasa inggris dengan dialek melayu.
“Benar. Saya Adi,” sahut pak Achdiyat, dia mengulurkan tangan setelah berdiri menyambut tamunya.
“Saya Kharisma, panggil saya Risma,” sahut perempuan cantik itu.
“Selamat malam,” seorang lelaki dengan wajah chinese menyapa pak Achdiyat.
“Selamat malam pak Marco,” sahut Achdiyat ramah.
“Ini Bastian putra saya, ini Julia calon menantu saya dan itu Dade kakak sepupu Julia,” Achdiyat mengenaalkan Marco dan Risma siapa yang bersamanya.
“Dan ini pak Marco, manager operasional apartemen Wilson. Dimana TKP ( tempat keladian perkara ) kasus ini berlangsung. Lalu ini miss Kharisma, dia HRD perusahaan tempat Wilson bekerja,” sekarang Achdiyata memberitahu siapa kedua tamunya malam ini.
Dengan Dade, Marco beberapa kali bertemu. Karena yang menghubungi sejak awal adalah Dade. Kalau dengan Risma Dade belum pernah bertemu. Akhirnya semua berkenalan.
“Kita pesan makan dulu ya. Nanti sesudah makan baru kita bicara tentang tujuan utama saya datang ke Singapore,” Achdiyat mempersilakan semua memesan makanan dan minuman yang ingin mereka konsumsi malam ini.
Sambil menunggu makanan dan juga sambil makan mereka hanya berbasa basi menanyakan tentang cuaca atau membahas makanan dan kemacetan.
***
Pagi saat dokter visite Laura dan Anjas hanya menjawab bila diperlukan, selebihnya dia membiarkan Syahrul yang menjawab pertanyaan dokter.
“Maaf Dok, semalam dokter Syahrul tidurnya gelisah dan tengah malam dia berteriak. Lalu yang aneh dia berkata saya jangan meninggalkannya,” Laura sengaja mengantar dokter hingga keluar kamar dan bicara didepan ruang rawat agar Syahrul tak mendengar. Dan Anjas sengaja menemani calon menantunya agar lelaki itu tak merasa ditinggal oleh Laura.
“Saya sudah konsulkan ke psikiater, nanti jam sembilan dia akan datang,” dokter yang kemarin sudah ditemui Laura sehabis CT scan menjawab.
“Terima kasih Dok,” sahut Laura. Lalu dokter dan dua perawat yang mendampingi meninggalkan ruang itu.