
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=========================================================================
‘Buatkan bubur ayam yang gurih dengan banyak ayam dan juga cakwe saja. Abang tidak mau makan bubur dari rumah sakit. Untuk lauk tambahkan semur bola-bola ayam dari ayam giling saja,’ Laura mengirim pesan pada mamanya agar makan siang nanti Syahrul mau makan.
‘Untuk seratnya buatkan salad tapi irisan buahnya kecil-kecil biar dia mudah ngunyahnya,’ chat lanjutan Laura kirim pada sang mama.
Claudia yang sedang menyiapkan sarapan untuk Anjas langsung meneruskan pesan itu pada bik Sanah. Anjas memang baru datang. Dia naik travel terpagi sehabis salat Subuh tadi.
“Opaaaaaaaaa,” Fahri langsung berlari memeluk Anjas begitu dia melihat sang opa sedang minum kopi dengan om Gerry.
“Jagoan Opa,” Anjas balas memeluk cucunya dan mencium puncak kepala anak itu.
“Mana kakak?” tanya Anjas.
“Sedang mandi Opa,” sahut Fahri. Niatnya hari ini dia akan ke kebun. Tapi melihat opanya datang, lelaki kecil itu membatalkan niatnya. Dia lebih suka ngobrol dengan opa dan om Gerry.
“Kita berangkat habis sarapan Gerry. Papa ingin tahu perkembangan abangmu. Biar mama dan berangkat bersama anak-anak sambil membawa makan siang untuk abang dan kakak,” Anjas mengajak putra bungsunya berangkat ke rumah sakit lebih dulu. Dia ingin mengetahui khabar terkini calon menantunya. Dia masuk ke ruang makan untuk sarapan meninggalkan Gerry diruang tengah.
“Aku boleh ikut dengan Opa dan om Gerry saja?” tanya Fahri. Dia lebih suka bergabung dengan rombongan lelaki.
“Nanti kamu terlalu lama dirumah sakit dan akan bosan,” Gerry memberi penjelasan pada keponakannya itu. Dia kasihan mengetahui latar belakang lelaki kecil yang akan menjadi anak sambung kakak perempuannya.
“Aku enggak akan bosan Om,” sahut Fahri.
“Ya sudah. Kamu sarapan dulu. Dan jangan lupa bawa satu buku agar kalau kamu bosan, kamu bisa baca buku,” Gerry mengizinkan Fahri untuk ikut dengan dirinya dan Anjas.
“Sayank, sini kamu sarapan bareng Opa,” Claudia menyuruh Fahri sarapan.
“Mau makan nasi goreng atau roti. Tapi ini juga masih ada bubur sumsum,” Claudia bertanya lagi pada Fahri.
“Aku mau roti aja Oma. Dan aku akan bikin sendiri,” jawab Fahri. Dia membuat roti isi daging dan keju untuk sarapannya.
Claudia juga membuat roti isi daging beberapa tangkep untuk dia bawakan bagi putri sulungnya. Dia bawakan juga beberapa saos dan saos sambal sachet sebagai pelengkap.
“Kak, kamu mau sarapan apa?” tanya Claudia pada Nazwa yang baru menarik kursi untuk duduk.
“Aku sarapan nasi goreng Oma,” Nazwa mengambil nasi goreng yang dia beri banyak bawang goreng dan irisan telur dadar.
“Ma, Papa dan Gerry akan berangkat duluan ya. Kalian berangkat kan siang sambil bawa makan siang untuk abang yang barusan dipesan Kakak. Papa ingin tahu perkembangan abang,” Anjas memberitahu istrina kalau dia dan Anjas akan berangkat ke rumah sakit lebih dulu.
“Iya Pa. Kami berangkat belakangan karena kemarin kakak juga bilang enggak usah pagi-pagi kesananya.” jawab Claudia yang sedang sarapan bubur sumsum kegemarannya.
“Teteh mau ikut?” tanya Claudia pada wak Ganis.
“Iya, nanti Teteh ikut kalian,” wak Ganis yang juga sarapan bubur sumsum menjawab tenang.
“Opa, tadi aku sudah bilang ke Om Gerry. Aku ikut Opa,” Fahri melaporkan dia sudah mendapat izin pamannya.
***
Anjas, Gerry dan Fahri baru tiba diruang rawat Syahrul saat melihat Laura sedang bicara dengan seorang suster.
“Baik Sus, akan saya perhatikan,” sahut Laura.
“Baik saya kembali tiga puluh menit lagi ya Bu. Sekarang saya permisi dulu,” suster itu pamit pada Laura.
“Kenapa Kak?” tanya Anjas.
“Papaaaaaaaaaaaaaa,” Laura tak percaya sang papa ada disini. Dia berlari memeluk sang hero.
Anjas memeluk erat Laura dan mengecupi puncak kepala putrinya. Putri yang kuat menghadapi banyak cobaan.
“Assalamu’alaykum Bang,” sapa Anjas pada Syahrul, setelah puas memeluk Laura.
“Wa … alay … kum … salam Pa,” sahut Syahrul sambil ingin meraih tangan Anjas sang calon mertua.
“Papa tahu kamu kuat. Berjuang terus biar cepat sembuh ya?” Anjas memberi semangat untuk calon menantunya. Dia tepuk bahu calon menantunya itu. Anjas sangat berharap banyak bagi kesembuhan Syahrul. Karena dia dan Claudia tak ingin Laura kembali terpuruk seperti ketika ditinggal Tommy untuk selamanya.
“Pa, barusan suster bilang tiga puluh menit lagi abang akan CT scan. Dan karena tadi Kakak sendirian, diminta barang-barang dimasukkan ke lemari yang diujung itu biar aman selama ditinggal dan kuncinya dibawa. Taapi karena ada Gerry dan Jalu, ruangan enggak kososng selama Kakak tinggal nemani abang,” Laura memberitahu jadwal Syahrul pagi ini.
Syahrul melihat Fahri dan Gerry yang berdiri mengelilingi tempat tidurnya. Dia hanya memberi senyum pada keduanya karena masih sulit untuk bicara.
“Semangat Dadd,” Fahri menyapa sang daddy dengan memberi semangat.
***
“Bagaimana diskusinya barusan?” tanya August. Dia baru tiba dan Wulan sudah menantinya diparkiran. Dan dia lihat mobil Kemuning baru saja keluar. Dia yakin Kemuning dan Wulan satu kelompok diskusi.
“Diskusi awal, belum seru karena baru bahas tentang apa yang akan kita ajukan dalam tema yang akan diangkat,” sahut Wulan sambil memasang seat belt.
“Dede mau makan dimana?” tanya August.
“Ayah mau kemana?” tanya Wulan. Dia tak ingin egoist. Walau sesungguhnya dia inginnya pulang saja. Ingin masak sayur bening katuk dengan labu siam. Dan makan dengan goreng tempe panas.
“Ayah sih enggak ada tujuan khusus. Ngikutin Ibu aja,” balas August.
“Ibu pengennya pulang Yah. Tadi pagi kan beli katuk ditukang sayur. Pengen makan pakai sayur bening aja,” sahut Wulan. Setiap pagi sehabis salat Subuh August mengajak Wulan jalan kaki agar bayinya sehat. Dan biasanya Wulan sekalian belanja sayuran.
“Ya udah, kita langsung pulang aja ya?” August pun langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah mereka.
Begitu masuk rumah Wulan tak langsung masuk kamar seperti biasa untuk meletakkan tasnya. Dia langsung menuju kulkas dan mengeluarkan sayuran katuk di bak bawah kulkas yang memang khusus sayuran. Dia rapikan lagi sayuran di rak itu. Baru dia menuju kamarnya.
***
Fanny tersenyum simpul ketika ‘tanpa sengaja’ bercerita tentang pertunangan Bastian dan Julia yang selama ini disembunyikan dan akan segera menikah dalam waktu dekat. Dia juga memperlihatkan foto pertunangan Bastian ketika itu.
Hanya cerita pada tiga orang staff HRD yang kebetulan sedang ngobrol santai sehabis mereka membahas masalah kerjaan mereka.
Diruang marketing, Vita dan Harun serta beberapa staff bagian pemasaran sehabis meeting target bulanan, juga ‘tanpa sengaja’ bercerita soal pertunangan Julia dan Bastian yang akan segera menikah.