
SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHATA INI
August ingat komitmennya dulu. Tak akan pernah melakukan kesalahan fatal lagi, dan dia berjanji di depan kedua orang tuanya akan selalu berhati-hati serta tak akan membuat kesalahan lagi. August setuju syarat dari Julia, tak akan ada maaf lagi bila dia bersalah.
Tak pernah terpikir oleh August kemarin dia kembali melakukan kesalahan fatal dengan perselingkuhannya dengan April.
Namun saat ini dia tetap akan berupaya untuk mengajuk hati Julia, dia akan terus berupaya kembali dekat dengan wanita pujaannya ini. August menyadari, dia terlalu bodoh tergoda kembali dengan sampah.
Dia berjanji kedepannya dia akan selalu hati-hati. Inilah yang sering dia dengar. Penyesalan itu memang datangnya belakangan.
Dengan June pun August bukan lelaki yang pertama. Entah virginitas June diambil oleh siapa dan dia orang keberapa. Saat itu dia tak mempersoalkan, selama saat bersamanya June tak pernah selingkuh. August sakit hati diselingkuhi June. Tapi dirinya sendiri selingkuh dari Julia. Dan bodohnya dia juga diselingkuhi April. Sungguh cerita konyol dalam hidupnya.
“Kakak pamit ya, semoga lain kali masih boleh main ke sini,” August pasrah. Pertemuan pertama setelah pertunangan mereka putus, gagal total. Dia tak berhasil mendapat lampu hijau dari Julia. Dan rasanya, melihat karakter teguh Julia, dia tak akan pernah punya kesempatan untuk kembali pada gadis pujaan hatinya itu.
‘Untung dulu aku minta bertemu di depan orang tuanya, sehingga ada saksi saat dia berjanji,’ Julia bersyukur bisa mengelak dari rengekan August untuk kembali menjalin kasih.
‘Wait, kenapa aku bisa lupa tak menanyakan nasib perempuan hamil yang dia bilang akan dia nikahi? Mereka sudah nikah mengapa dia minta balikkan denganku?’
August ingat awal kedekatannya dengan June sampai ia memutuskan berpisah dengan wanita charming itu. Saat itu June baru masuk di team yang dipimpinnya. Pramugari pindahan dari divisi dalam negeri ke penerbangan luar negeri. Anggun, ayu dan murah senyum. Kerjanya cekatan dan sering membantu temannya yang sedang kerepotan.
August mengapresiasi dengan memberi penilaian baik untuk kinerja pramugari ju-nior ini. Akhirnya August sering meminta bantuan June untuk merapikan laporan atau mengatur file penerbangan dan hal lainnya. Itu awal kedekatan mereka.
Saat itu August sudah tiga bulan jomlo sehabis putus dengan Vallen yang memilih pindah maskapai dan menetap di Qatar, maskapai yang mengayomi Vallen saat itu. August tak mau berhubungan LDR tanpa kejelasan.
FLASH BACK ON
”Ini sudah rapi Capt,” lapor June sambil menyerahkan berkas yang tadi dia salin agar lebih rapi.
“Thank’s ya,” August menerimanya dan langsung membawa ke kantor untuk dia laporkan. Saat itu mereka baru saja landing di London. Cuaca musim gugur sangat dingin bagi orang Asia seperti dirinya. Dia mengambil secangkir kopi sambil menunggu laporannya selesai diperiksa.
“Kalian nanti mau ke mana?” tanya Maurits, pilot satu maskapai dari August yang sudah landing sejak pagi tadi. Dia akan melihat jadwal kepulangannya esok ke Indonesia. Sedang August akan kembali terbang ke Indonesia lusa.
“Belum ada rencana, aku ikut anak-anak aja. Atau ya tidur aja, malas keluar. Dingin!” balas August.
“Jalan bareng aja, ajak team mu. Kami akan pesta barbeque di teman mantan pramugari Indonesia yang sudah menetap di sini karena suaminya tidak mau menetap di Indonesia. Temanku pasti akan senang bertambah teman dari Indonesia yang datang.” ajak Maurits serius.
“Ok, aku akan beritahu teamku, kamu kirim alamat saja. Nanti aku minta teamku juga membawa bahan tambahan karena takutnya temanmu itu tak siap bahan makanan bila ketambahan teamku,” August langsung mengirim chat pada teamnya soal undangan malam ini. Dia juga meminta salah satu dari mereka untuk berbelanja bahan barbeque, nanti uangnya dia ganti.
Di rumah Jane mantan pramugari yang menikah dengan Charles dan menjadi warga negara Inggris ternyata bukan hanya ada team Maurits dan team August, ada juga teman-teman Charles.
“Anda suka daging atau lobsternya Capt?” tanya June sambil memberikan August piring kosong dan menyodorkan piring lonjong besar berisi lobster dan daging yang sudah di panggang.
“Terima kasih,” August menerima piring kosong dan mengambil 2 potong daging, dia alergi udang. Dia lalu mendatangi meja bumbu yang menyediakan aneka saus bagi daging dan udang serta jenis lain yang dibakar saat itu.
June datang menghampiri meja August. “Saya duduk di sini ya Capt, meja lain sudah penuh. Ada yang kosong tapi saya tidak kenal, jadi tidak enak,” June meminta izin duduk di meja itu.
“Silakan. Dan bila di luar tugas tak perlu menyebut dengan panggilan formal. Sebut saja nama saya tanpa embel-embel Captain,” balas August ramah. Dia memang pria yang ramah pada siapa pun.
“Baik Capt, eh … saya tidak enak bila langsung nama. Anda asli dari daerah mana?” tanya June.
“Orang tua saya asli Solo,” jawab August.
“Ok, di luar kantor saya akan panggil mas August aja, enggak enak bila langsung nama,” cetus June.
“Sesukamu aja,” balas August sambil terus makan. Sesungguhnya dia sedang malas bertemu dengan orang-orang, dia ingin tidur dan istirahat di kamar hotel saja. Tapi bila tidak pergi tentu tak enak dengan teman lainnya.
“Mas enggak nyobain udang?” tanya June yang melihat August hanya mengambil daging tanpa udang dan ayam.
“Saya alergi udang dan semua makanan yang dibuat dari udang, misal kerupuk udang, terasi atau jenis lainnya,” balas August.
“Wah gitu ya, saya paling suka makanan berbahan dasar udang,” June menerangkan dia kebalikan August. “Kita enggak jodoh ya kalau makan bersama,” cetus June.
“Enggak jodoh soal makan enggak apa-apa, mungkin jodoh dalam hal lain,” tanpa berpikir August menjawab dengan celetukan spontan. Tapi kata-kata itu tentu langsung ditelan June dengan bulat. June merasa August memberi lampu kuning mengarah ke hijau untuk lebih dekat. Siapa yang tak mau menjadi kekasih captain August Muliawan?
Sebelum pesta usai, August mulai merasa gatal dibeberapa bagian tubuhnya, mungkin ada daging yang terkontaminasi udang karena alat bakar dan piring yang digunakan untuk penyajian ‘kan tadi disatukan agar para tamu mudah memilih.
“Saya pamit duluan ya,” August pamit pada Maurits dan Jane tuan rumah. Dia harus membeli obat di apotek sebelum kembali ke hotel
“Mau aku temani?” tanya Maurits.
“Santai aja, aku bisa sendiri koq,” August menenangkan temannya itu. Dia hanya bertanya pada Charles, suami Jane di mana apotek terdekat yang buka 24 jam.
\======================================================================
SAMBIL NUNGGU CERITA INI UPDATE BAB SELANJUTNYA, MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN YAAAA
JUDULNYA BETWEEN QATAR AND JOGJA. CARI NAPEN Y**ANKTIE INO** ATAU JUDUL ITU AJA DI NOVELTOON ATAAU MANGATOON. KARENA COVER SERING DIGANTI TANPA PERSETUAN PENULIS.
=======================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta