
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\==============================================================================
Namira bersiap berangkat ke kampus lamanya. Untung dia dulu sempat mengajukan cuti sehingga nanti tidak akan sulit mengurus surat pindah dan soal pengurusan nilai yang sudah dia tempuh. Dia yakin Wisnu sudah selesai kuliah. Karena saat Namira urus cuti, Wisnu sedang urus wisuda. Artinya dia tak perlu takut bertemu mantan pacarnya lagi.
“Bik, saya titip Ilham ya, ASIP nya sudah saya siapkan,” Namira pamit pada bik Iyah. Dia berniat naik angkot seperti biasa karena dirumah ini tidak ada motor operasional seperti di Bandung.
“Den Ilham dimana?” tanya bik Iyah. Sebab semalam Ilham sengaja dibawa tidur bersama Ilyas.
“Di kamar depan Bik. Kamar tempat saya tidur. Ada Nindi yang nemani agar dia enggak jatuh saat berguling,” sahut Namira.
“Baik, nanti Bibik ke kamar kalau den Ilham nangis,” sahut bik Iyah. Dia sedang memotong bunga genjer untuk dimasak,
Didepan langkah Namira tersendat. Dia melihat Ilyas sedang duduk diteras. Mau maju enggak enak, mau mundur, dia bisa kesiangan. Namun rupanya Ilyas sudah melihat Namira lebih dulu. “Dede enggak dibawa?” tanya Ilyas.
“Saya sulit kalau bawa Dede,” sahut Namira.
“Bawa aja, kalau Bunda masuk ruangan buat urus surat-surat, Dede sama Ayah,” jawab Ilyas tenang.
‘What? Artinya dia akan menemaniku ke kampus?’ batin Namira.
“Enggak usah, saya naik angkot saja,” tolak Namira.
“Kamu naik angkot tanpa bawa Dede, dengan kamu nyiapin barang bawaan Dede, nanti sampainya di kampusmu itu lebih cepat kalau kamu siapin barang Dede,” Ilyas tetap ngotot mengantar Namira. Dia tak ingin Namira bertemu dengan mantannya dan berpotensi CLBK.
Akhirnya Namira mengalah. Dia mengambil tas ganti Ilham. Dia bawa diapers dan satu botol ASIP sebagai persiapan bila Ilham menangis saat dia tinggal masuk kantor administrasi kampusnya nanti.
“Koq nyiapin botol Neng?” tanya bik Iyah bingung.
“Den Ilyas menyuruh bawa Ilham dan dia mau antar ke kampus Bik. Titip Nindi saja,” Namira memberitahu alasannya menyiapkan sussu untuk Ilham.
“Si Aden mah meni cinta banget ke Eneng. Udah Neng enggak usah ragu. Terima ajah. Neng Nopia dan den Kusdi kan juga enggak ngelarang,” bik Iyah menasehati Namira. Dia tahu perempuan itu belum bisa menerima majikannya.
“Perempuan lain mungkin sengaja cari perhatian tuan seperti den Ilyas biar enggak diusir dan bisa hidup enak. Ini mah Ceuceu agak bingung aja liat si Namirah, enggak mau terima den Ilyas,” kakak bik Iyah berkomentar tentang Namira ketika mereka tinggal berdua didapur.
“Neng Namira mah beda. Kalau enggak ditanya, dia enggak pernah duluan ngomong ke Aden. Dia kemaren bersiap pindah kontrakan saat den Ilyas menyatakan cinta dan dia tolak. Dia enggak mau orang menganggapnya hanya mengharap harta den Ilyas,” jawab bik Iyah sambil mengiris bawang merah untuk bumbu tumis.
“Perempuan begitu itu yang cocok dengan den Ilyas. Bukan yang cuma mengharap harta nya aja,” sahut kakak bik Iyah.
***
“Ini trus kemana?” tanya Ilyas saat sampai dikampus Namira.
Perempuan itu menunjuk dimana letak bagian kemahasiswaan. “Saya turun sebentar ya,” Namira bersiap turun. Ilyas sudah mengenakan gendongan di dadanya. Tinggal memasukkan Ilham saja. Tapi dia sengaja turun. Dia ingin Namira yang memasukkan Ilham digendongannya. Maka disinilah mereka. Diarea parkir yang teduh tapi banyak yang bisa melihat bagaimana Namira memasukkan Ilham ke gendongan di dada Ilyas. Pria gagah yang siapa pun tentu akan menduga sebagai ayah dari bayi itu.
“Kiss dulu sama Bunda,” Ilyas memegang kedua tangan Ilham dan menyodorkan ke wajah Namira.
“Ibu pergi sebentar ya, kamu jangan rewel,” Namira mengecup pipi gembul Ilham.
“Honey, Ayah enggak suka kamu bikin bingung anak-anak. Ayah mau panggilannya Bun-Da buka I-Bu,” Ilyas protes sambil menekankan kata bunda dan ibu. Namira hanya tersenyum masam mendengar teguran itu.
“Ayah enggak dapat kiss?” goda Ilyas. Namira langsung menjauh. Dia tak ingin mendengar Ilyas lebih lama lagi
***
“Ya ampuuuuuuuuuun Nadia, kangen bangeeet,” Namira kaget bertemu sahabatnya di ruang administrasi. Karena jarang mahasiswa kesini bila bukan waktu daftar ulang.
“Kamu kemana ajah? Kenapa cuti?” tanya Nadia penasaran. Karena Namira tiba-tiba menghilang dan sebagai sahabat dia sering ditanya teman-teman terutama Wisnu kekasih Namira kala itu.
“Aku ada sedikit kendala, jadi aku cuti. Sekarang aku ingin pindah kampus ke Bandung,” sahut Namira jujur walau tidak menjelaskan apa kendala yang dia hadapi.
“Yaaaah, kenapa enggak lanjut disini aja? Kenapa harus pindah ke Bandung sih?” Nadia tetap tak puas akan jawaban Namira.
“Wisnu mendatangiku berulang-ulang saat kamu menghilang. Sampai Bayu kekasihku marah. Hampir saja pertunangan kami batal karena Bayu mengira aku selingkuh dengan Wisnu.
“Selamat ya, akhirnya kamu jadi tunangan dengan Bayu. Apa dia jadi kerja di Jakarta?” tanya Namira. Saat mereka kuliah bersama, Bayu sudah kerja di Bogor dan sedang dipromosikan kerja di Jakarta.
“Alhamdulillah jadi. Dia naik KRL setiap hari karena ibunya tidak membolehkan Bayu kost di Jakarta,” sahut Nadia.
“Kamu sedang urus apa?” tanya Namira pada Nadia.
“Ini, legalisir ijasah Bayu. Untuk penyesuaian pangkat di kantornya,” jawab Nadia sambil memperlihatkan copyan yang akan dia serahkan.
“Aku minta nomor ponselmu ya,” pinta Nadia spontan. Karena nomor lama Namira tak bisa dihubungi.
Namira tentu bingung. Dia khawatir nomornya akan sampai ke Wisnu. “Ponselku lowbat, save aja nomornya ya,” Namira memberikan nomornya dan meminta agar Nadia jangan memberikan nomor itu pada siapa pun. Nadia melakukan misscall pada nomor yang Namira sebut dan menyimpan nomor sahabatnya itu. Namira pun juga menyimpan nomor Nadia.
“Serius jangan kamu berikan nomorku pada siapa pun. Terutama pada Wisnu,” pinta Namira dengan lirih.
“Ini untuk ambil berkas besok. Semua siap jam sebelas ya, tapi sebaiknya anda datang setelah jam makan siang saja,” petugas administrasi memberi Namira secarik kertas untuk mengambil berkas yang dia butuhkan esok hari. Sedang Nadia karena hanya melegalisir tak butuh waktu lama. Sejak tadi dia menemani Nadia menunggu nomornya dipanggil.
“Aku pulang dulu ya?” Namira akan segera pulang. Dia ingat Ilham dan Ilyas menantinya di parkiran.
“Ayok aku antar. Atau kamu bawa kendaraan?” tanya Nadia. Dulu dia sering mengantar bahkan menjemput Namira.
“Aku … aku,” Namira bingung harus menjawab apa. “Aku diantar.”
“Baiklah, yang penting, kapan-kapan kita janjian bila kamu ke Bogor atau aku ke Bandung ya?” Nadia tidak curiga, mereka keluar bersama.
“Sudah Bun?” tanya Ilyas santai saat melihat Namira dan temannya keluar dari ruang kantor kampus itu.
‘Bun? Bayi?’ Nadia hanya terpaku melihat wajah Namira yang serba salah.
\===============================================================
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : INGRID FLORA
Judul cerita : PUISI CINTA TOPENG CINDERELLA
Cerita singkatnya seperti ini :
Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?
Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.
Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.
Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.
Lalu dapatkah Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hatinya.