
***YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya ***
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Sepertinya enggak usah, nanti aku ganggu kalian,” lanjut Syahrul.
“Baik, aku akan batalkan pesananmu untuk digabung ke mejaku,” Laura langsung akan berlalu menuju meja kasir.
“Jangan Mom, biar kami pindah bareng Mommy,” jawab Nazwa. Dan tangan Laura juga sudah dicekal Syahrul untuk menahan langkah perempuan yang sudah marah itu. Fahri dan Nazwa melangkah lebih dulu ke meja no 27, meninggalkan Syahrul dan Laura yang masih diam tanpa kata.
“Forgive me please,” bisik Syahrul saat dia berdiri. Dia mengecup selintas pipi perempuan yang dia kasihi itu. Lalu mereka berjalan menuju meja August.
“Selamat sore pak August,” sapa Syahrul ramah.
“Wah kebetulan nih Dok,” balas August, dia berdiri dan berjabat tangan erat dengan Syahrul
“Kita diruang publik, enggak usah panggil Dokter lah,” pinta Syahrul pada August.
Makanan pesanan August sudah lebih dulu datang. “Mas, kamu makan duluan aja,” Laura mempersilakan August makan lebih dulu. Nazwa dan Fahri sedang meminum juice mereka.
‘Mas? Sedekat itu mereka sehingga Laura sampai memanggil August dengan sebutan Mas?’ Syahrul menelisik wajah Laura yang sedang bercerita dengan Fahri. Laura yang merasa sedang diawasi langsung berpaling dan menatap tajam mata Syahrul.
Akhirnya pesanan Syahrul juga datang. Seperti biasa Laura mengambilkan nasi untuk Nazwa dan Fahri sebelum dirinya. Karena ada August dia tak mengambilkan Syahrul. Syahrul yang melihat Laura langsung mengisi piringnya sehabis mengambilkan Nazwa dan Fahri sadar, Laura tak akan mengambilkan nasi untuknya seperti biasa.
“Mau ini?” tanya Laura sambil menyodorkan gurame asam manis pada Syahrul tanpa menyebut Bang atau Pak.
“Mas, habiskan lho. Aku bilang juga apa. Kamu pesan terlalu banyak macamnya,” Laura komen pada August yang terlihat hanya mengambil sedikit lauk.
“Mom, tadi kami habis beli sepatu boot untuk hari Sabtu,” Fahri memberitahu Laura.
“Asyiiiik, tapi jangan telat datang ya,” Laura berpesan agar Fahri jangan kesiangan.
“Tergantung Daddy. Kalau libur sehabis salat subuh, Daddy sering tidur lagi kalau enggak ada acara keluar,” jawab Nazwa jujur.
“Nanti Mommy akan telepon Daddy kalian saat waktu subuh untuk mengingatkan mengantar kalian ke rumah Mommy,” balas Laura.
“Bener ya Mom,” Fahri memastikan ucapan Laura.
“Iya bener, asal ponsel Daddy nyala aja. ‘kan kalau libur ponsel Daddy kalian juga libur,” jawab Laura sambil nyengir.
Sementara August dan Syahrul berbincang berdua, walau sesekali Syahrul memperhatikan interaksi Laura dan anak-anaknya.
“Besok sidang jam berapa?” tanya August pada Laura. Mereka sudah selesai makan.
“Sidang apa?” tanya Syahrul. Dia ingat bu Ganis pernah memberitahu kalau Laura sedang berhubungan dengan polisi dan samapi viral di media elektronik mau pun media cetak. Tapi tak pernah terpikir olehnya Laura akan menghadapi persidangan.
“Itu lho, sidang tentang pencurian designku. Kalau di jadwal sih jam sembilan pagi,” jawab Laura santai tanpa beban.
“Kami pulang duluan ya, biar nanti mas August enggak kemalaman jalan ke Jakarta,” Laura pamit setelah dirasa makanan diperutnya cukup turun.
“Mommy jangan lupa hari Sabtu subuh,” Nazwa mengingatkan Laura.
“Hari Jumat malam Kakak ingatkan Mommy. Nanti Mommy bikin alarm untuk Sabtu subuh,” jawab Laura sambil mengecup pipi gadis belia itu.
“Love you Mom,” bisik Fahri saat Laura mengecup puncak kepalanya.
“Love you too A’i,” balas Laura.
Mereka berpisah di area parkir. “Thank’s traktirannya,” Syahrul menjabat tangan August erat. Mereka tadi berdebat siapa yang harus bayar makanan. Tapi Laura bilang biar sekali-kali tamu yang traktir orang Bandung. Dikesempatan lain nanti orang Bandung yang traktir orang Jakarta.
*‘Angkat teleponku nanti malam,’ *Syahrul langsung mengirim chat pada Laura saat dia belum menyalakan mesin mobilnya. Sesudah chat terkirim, dia baru menyalakan mesin mobilnya untuk menuju rumahnya.
***
“Oke. Makasih banget ya Mas,” jawab Laura sambil membuka seat beltnya.
“Sama-sama. Semoga sidang besok enggak ada hambatan ya,” balas August.lalu pilot ganteng itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan halaman panti.
“Karni. Ingetin saya hari Jumat pagi untuk menyiapkan bahan untuk membuat nasi bakar ya,” pinta Laura pada seorang pegawainya.
Mau buat berapa orang Bu?” tanya Karni.
“Bikin aja buat sarapan semua. Buat hari Sabtu pagi. Saya pesan yang pedas 6 dan yang tidak pedas 2 diluar jatah orang rumah ( maksudnya rumah bu Ganis ). Nah kamu tinggal hitung berapa yang buat orang panti.” Sahut Laura.
“Ingat, kasih tanda yang pedas dan tidak, agar tidak salah makan,” Laura mengingatkan Karni untuk membedakan antara yang pedas dan tidak.
Laura langsung pulang. Dia cukup lelah hari ini. Sehabis makan malam dia menghubungi Syahrul lebih dulu. Karena dia ingin tidur lebih cepat. Dia malas terganggu bila dia sudah tidur.
“Kenapa kamu telepon duluan Ra?” tanya Syahrul bingung. Padahal chatnya tidak dibalas oleh Laura.
“Aku mau tidur cepat, jadi malas keganggu bila menunggu kamu telepon,” jawab Laura. “Mau bicara apa?”
“Kamu koq ketus Ra? Apa karena sudah menetapkan pilihan?” tanya Syahrul mengajuk hati Laura.
“Enggak usah mancing seperti itu. Kalau aku sudah menentukan pilihan. Walau itu bukan kamu. Pasti akan aku sampaikan,” balas Laura.
“Lihat saja. Sejak tadi kamu selalu menyebut Abang dengan kata KAMU. Enggak sebut abang sama sekali padahal kita lagi bicara berdua. Padahal kamu dengan entengnya panggil August dengan sebutan Mas,” protes Syahrul.
“Aku enggak ada hubungan special dengan August. Waktu opa sakit, aku ketemu August dirumah orang tuaku. Dia cucu dari sahabat opa. Itu sebabnya kami jadi sedikit dekat,” jawab Laura jujur.
“Dia lebih tahu tentang yang sedang kamu hadapi. Seperti kegiatan sidang besok. Sedang Abang enggak tahu apa-apa,” Syahrul kembali mendesak Laura.
“Enggak sengaja aja dia tahu,” jawab Laura. Dia tahu Syahrul cemburu dan merasa tersisih.
“Aku tidur ya?” Laura pamit untuk menyudahi pembicaraan mereka.
“Aku besok enggak bisa nemani kamu Ra,” Syahrul berkata sedih. Jam delapan pagi dia ada jadwal operasi.
“Please enggak usah merasa bersalah. Aku enggak apa-apa. Dan Abang enggak usah kepikiran. Nanti kamu malah enggak fokus ama kerjaanmu,” Laura mengalah dan menyebut ABANG untuk Syahrul.
“Selesai sidang kita ketemu ya?” pinta Syahrul.
“Aku enggak tahu selesai jam berapa. Nanti aku kabarin lagi ya,” Laura sudah sangat mengantuk.
“Oke. Serius aku tunggu kabar selanjutnya. Met bobo ya Ra,” Syahrul pun akhirnya mau mengakhiri pembicaraan mereka.
‘Thanks udah hubungin Abang duluan ya,’ Syahrul lupa tadi dia belum mengucapkan terima kasih pada Laura. Maka dia mengirim chat saja. Karena tidak berani mengganggu Laura yang ingin tidur cepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : RARA69
Judul cerita : BAHAGIAKU SETELAH BERPISAH DENGANMU
Cerita singkatnya seperti ini
Rani Yuliana harus merasakan kepedihan berumah tangga saat sang mertua ikut tinggal bersama mereka. Apalagi saat itu kondisi Ilham Hadiwijaya sedang tidak bekerja karena terkena PHK. Setiap hari Bu Rumiati memperlakukan Rani seperti seorang pembantu. Apalagi di luar sana Ilham juga selingkuh dari Rani.
Apakah Rani bisa mempertahankan rumah tangganya?