TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA ….



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\===================================================================


Semua kursi yang disewa dari tempat cattering diatur dihalaman belakang yang masih kosong. Jadi orang makan tetap tak akan terlihat dari luar.


“Pasukan video siap ya. Rombongan sudah akan masuk ke perumahan,” Farhan memberi perintah untuk mulai membuat rekaman.


August berdiri ditengah pintu menunggu rombongan calon istrinya. Dia melihat banyak mobil masuk. Untungnya perumahan masih banyak kosong dan rumahnya disudut.


Barisan pertama adalah Paklek yang berjalan berdampingan dengan pak Prabu. Lalu dibelakangnya adalah Wulan yang diapit oleh mami Nenden dan oma Stelle. Dan begitu seterusnya sampai paling belakang adalah Bagas dan istrinya yang mengapit Riesty.


‘Itu calon istriku? Masya Allah, cantik bangeeeeeeet,’ August tak mampu berkedip memandang Wulan yang kadang tertutup badan papinya atau paklek karena perempuan itu berjalan dibaris kedua.


August memberi salim ( mencium punggung tangan ) pada papinya dan pakleknya Wulan, sambil memberi salam.


“Assalamu’alaykum Pi.”


Yang tentu saja langsung dijawab oleh Prabu dengan salam kembali. ”Wa’alaykum salam.”


“Assalamu’alaykum Paklek.”


”Wa’alaykum salam.”


Selanjutnya dia pun memberi salim pada mami dan omanya.


“Assalamu’alaykum Mi.”


”Wa’alaykum salam sayang.”


“Assalamu’alaykum Oma.”


”Wa’alaykum salam cucu Oma.”


Baru dia memberi tangannya pada Wulan. “Assalamu’alaykum cintanya Mas.”


”Wa’alaykum salam Mas,” jawab Wulan malu-malu mendengar kata cinta yang August sebut didepan oma dan maminya. Dan perempuan itu langsung memberi salim pada calon imamnya itu.


August memberi salam pada semua yang datang tanpa terkecuali. Team fotography bagian ruangan juga langsung beraksi saat pak Prabu masuk ruangan. Karena team yang diluar tetap beraksi hingga nanti tamu mulai berdatangan. Ada empat team. Dan semua siap diposisi masing-masing tidak berpindah. Agar tamu yang datang belakangan tetap ada dalam dokumentasi.


Laura dan wak Ganis, bik Sanah serta Sukma datang berbarengan dengan rombongan penghulu dari KUA. Ternyata Bima dan Anggraeni juga hadir dari Jakarta.


August tak memberitahu teman satu genk motor gedenya. Mereka semua akan diundang saat resepsi saja.


Prabu melihat sekeliling lalu dia menjawab, “Bisa Pak.”


“Kalau begitu ayok pengantin, saksi dan wali duduk ditempat yang sudah disiapkan,” kembali asisten penghulu meminta semua pemeran utama dalam lakon ini menempati posisinya.


Nenden membimbing Wulan duduk disebelah August lalu dia mengerudungi kepala sepasang pengantin dengan sebuah pasmina putih polos yang tipis. Sengaja dia beri jarum pentul ke peci August dan dia beri juga jepitan di rambut Wulan agar tanpa dipegangi pasmina itu tidak jatuh.


“Saksi siap?”


“Siap,” jawab Prabu dan pakde Jarwo menjawab bersamaan.


“Wali?”


“Siap Pak,” sahut paklek Suparman.


August mulai gugup. Dia menjabat tangan paklek dan berupaya konsentrasi. Dia ingat pertama kali membawa terbang pesawat saja tidak nervous seperti ini. Keringat ditangannya dirasakan oleh paklek.


“Saya terima nikah dan kawinnya Wulandari Sawitri binti Suratman dengan mas kawin sebuah cincin emas 5 gram, satu stel perhiasan tiffany & co dan sebuah rumah di persada utama dibayar tunai,” dengan lancar akhirnya August membacakan akadnya untuk menikahi Wulan.


Sejak tadi Wulan hanya diam. Dia tak percaya ketika paklek menyebut mahar yang August berikan untuknya. Satu stel perhiasan Tiffany itu dia tahu harganya. Dia bukan orang yang tidak tau dunia luar. Dia perempuan smart yang bahkan kuliah saja didapat karena beasiswa. Belum lagi rumah ini. Dia pikir rumah ini August beli menggunakan nama August sendiri. Bukan atas namanya. Benar-benar kejutan untuknya. Dia semakin yakin August memang serius dengan pernikahan dadakan mereka.


Wulan mencium punggung tangan suaminya dengan penuh haru. Lalu dilanjut August mencium kening istrinya.


Sehabis nasihat pernikahan yang penghulu berikan. Bu Nenden mengambil alih acara. Dia menugaskan kakak iparnya ( istri mas Jarwo ) dan istri Bagas mengajak penghulu dan teamnya makan siang. Sementara keluarga akan mengadakan sungkeman. August dan Wulan tentu tak tahu ada ritual ini. Mereka pikir sungkeman akan dilakukan saat resepsi nanti saja.


Semua sesepuh duduk dalam satu baris kursi yang susunannya sudah langsung diubah oleh Bagas, pakde Jarwo dan Om Suryo adik Nenden. Sekarang duduk yang paling ujung atau yang pertama akan diberi sungkem oleh pengantin adalah paklek Suparman ( namanya mirip dengan ayahnya Wulan, Suratman ), lalu disebelahnya adalah Nenden, dilanjut dengan Prabu, lalu oma Stelle, dan terakhir pakde Jarwo serta paling ujung istri pakde Jarwo.


August menggandeng istrinya untuk berdiri dibelakangnya dan mulai sungkem.


“Saya memang bukan ayahnya. Tapi Ndari adalah anak perempuan saya. Walau saya pernah lengah menjaganya sehingga dia mengalami nasib buruk. Dan itu sangat saya sesali. Saat ini saya serahkan penjagaan putri saya pada pundakmu. Rawat dan kasihi dia sepenuh hati. Dan bila suatu saat kamu sudah tak suka. Pulangkan dia pada saya dengan baik-baik,” Suparman memberi nasihat pada August saat menantunya itu memberi sungkem padanya.


“Mami ini bukan orang lain. Sejak saat ini kamu wajib menganggap aku sebagai  ibumu. Ceritakan semua yang kau rasa. Jangan ragu. Mami berterima kasih padamu mau menerima anak tunggal Mami. Urus dan hormati dia sepenuh hatimu. Mami titip kebahagiannya pada pundakmu,” ini nasihat Nenden pada menantunya kali ini.


“Papi hanya berdoa semoga kamu bisa menjadi imam yang baik. Kamu sudah beberapa kali salah langkah. Papi harap tak ada lagi kesalahan yang kau buat. Hormati istrimu seperti kamu menghormati dan mencintai Mamimu. Bila kamu melukai hati istrimu, kamu telah melukai hati perempuan yang telah melahirkanmu!” ini nasihat yang August terima dari sang ayah.


“Anggap Papi ini pengganti Bapakmu. Jangan sungkan pada Mami, Papi dan Oma. Kami menyayangimu seperti kami menyayangi August,” Prabu memberikan rangkaian kata-kata sederhana ini untuk Wulan sang menantu. Dia berharap August benar-benar bisa bahagia dengan Wulan.


“Oma sayang kamu walau kita baru bertemu kemarin. Oma bahagia masih bisa melihat August menikah. Semoga Oma selalu bisa melihat banyak cicit yang kamu berikan untuk Oma,” doa tulus dan harapan Stelle ini dia ucap untuk Wulan.


August membantu istrinya berdiri. Dia saja lelah berjalan beringsung untuk sungkem dari ujung pertama ke ujung terakhir. Terlebih istrinya yang sedang hamil. Dia tak ingin Wulan jatuh karena pening.


***


Selesai acara sungkeman semua tamu dipersilakan memberi ucapan pada pengantin dilanjut makan siang.


“Lu utang cerita ama gue,” Bima memberi ucapan selamat pada sohibnya itu. Dia tak percaya ketika hari Kamis malam August menghubunginya dan mengundangnya untuk datang keacara akad nikahnya di Bandung. Dia kira August kembali menikah sembunyi-sembunyi karena August mewanti-wanti agar Bima keep silent, tidak memberitahu siapa pun di maskapai tempat mereka bekerja. Ternyata dugaan Bima salah karena dia lihat ini bukan nikah siri dan orang tua August hadir bahkan menjadi saksi pernikahan pilot most wanted di maskapai tempat mereka bekerja selama ini.