
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\================================================================================
“Enggak Yah. Itu enggak perlu,” Wulan meminta August tidak mengambil barang yang sedang dipegangnya. Mereka sedang di toko perabot kamar bayi.
Sepulang dari rumah sakit August langsung ingin membuat kamar buat baby mereka. Banyak barang yang dia mau beli bila Wulan tidak menahannya. August lapar mata. Semua ingin dia beli.
“Yang ini aja, jangan yang itu,” Wulan masih memberi pendapat tentang barang yang diinginkan August masuk ke list yang mereka beli.
“Kalau ini Bu?” tanya August.
“Nah itu bagus Yah, kayaknya mathcing ama ini,” begitu terus mereka diskusi mana barang yang ingin mereka ambil.
***
“Capek?” tanya August begitu mereka sampai rumah. Sehabis belanja barang untuk kamar baby, mereka lanjut makan siang baru pulang.
“Lumayan pegel. Tapi habis ini hilang koq, sudah dibalur beras kencur dan direndam air garam kaki Ibu,” jawab Wulan.
“Malam enggak usah masak ya,” August melarang istrinya untuk beraktivitas lagi. Dan kali ini Wulan menurut.
“Mas, teman-teman panti bilang dokter Syahrul sudah dipindah ke ruang rawat. Jadi bisa dikunjungi,” sehabis membalur kakinya dengan parem beras kencur memang Wulan berbaring sambil berbalas pesan dengan teman-temannya. Tadi pagi Memang August mengatakan mendapat khabar dari Laura kalau dokter Syahrul sudah sadar.
“Wah bagus. Kalau besok kamu enggak cape, kita ke rumah sakit ya Sweety. Kan kemarin kita enggak sempat bertemu dengan Laura juga,” August sedang membuka peralatan yang baru dia beli seperti obeng, test pen, tang, palu dan lain-lain perkakas yang sekiranya dia butuhkan dirumah ini. Walau entah untuk apa dia juga membeli gergaji kecil.
“Besok kan kita mau dirumah nunggu barang yang kita beli tadi?” Wulan memperingatkan suaminya. Tadi August bilang besok mereka akan full dirumah.
“Kalau gitu kita nengok yang sore aja, sekalian makan malam di Dago ya?” August baru ingat kalau dia sudah bilang akan menunggu barang yang mereka beli tadi dan memang dia sudah berpesan agar diantar pagi.
***
“Kakak enggak tahu Mom,” Nazwa menjawab tentang baju dan celana yang tadi ditanya oleh Laura.
“Ya sudah, nanti biar Om Gerry belikan beberapa kemeja tangan pendek dan celana panjang training buat Daddy. Kalau pakai kaos masih sulit karena tangan masih diinfus,” Laura memikirkan semua hal tentang keperluan Syahrul saat ini.
Nazwa dan Laura pun kembali berjalan menuju ruang rawat sesudah membeli makan malam dan martabak telur untuk cemilan malam ini.
“Mama rehat aja Ma. Ade bobo sama Oma kalau cape,” Laura memberi tahu Claudia dan Fahri untuk rehat. Mereka sudah selesai makan malam dikamar rawat.
“Kakak semalam enggak jadi pulang. Sekarang enggak pulang?” tanya Claudia. Dia merasa tanggung kalau harus istirahat disini karena sebentar lagi dia akan membawa anak-anak pulang.
“Mama enggak sadar kalau bayiku rewel? Mana bisa aku tinggal? Tadi urus surat dan beli makan kan karena dia tidur. Kalau dia bangun mana mau aku tinggal Ma?” Laura menjawab sambil membereskan baju kotor miliknya agar dibawa pulang. Besok sang mama atau siapa pun yang sempat datang bisa membawakan baju bersih untuk dia gunakan selama di rumah sakit.
“Gerr, kamu pulang atau nemani Kakak disini?” tanya Laura. Dia butuh diapers untuk Syahrul yang sudah hampir habis.
“Aku pulang saja Kak,” balas Gerry. Toh kondisi Syahrul sudah stabil dan sekarang bukan di ICU lagi. Sudah ada tempat tidur juga lebih nyaman untuk penunggu.
“Kalau begitu nanti minta mamang mampir ke supermarket ya. Belikan diapers dan tissue serta tissue basah,” Laura mengirim foto merk diapers serta ukuran yang biasa Syahrul gunakan.
“Jangan lupa kemeja tangan pendek dan celana panjang bahan kaos De. Kamu kira-kira lah ukuran Abang,” lanjut Laura.
Tadi saat membeli obat Laura sudah mentransfer sejumlah dana bagi keperluan itu ke rekening Gerry. Nanti dia akan tambahkan bila dana nya kurang.
“Kami pulang dulu ya?” pamit Claudia. Dia tahu kalau semua pulang dan Syahrul tidur, malam ini Laura akan bisa tidur dengan nyenyak.
“Mom, kami pamit ya. Terima kasih buat cinta Mommy yang besar ke Daddy,” bisik Nazwa saat dia memeluk Laura ketika pamit hendak pulang.
“Mommy enggak hanya cinta Daddy. Mommy cinta kalian juga anak-anak Mommy,” balas Laura sambil membalas pelukan anak gadisnya. Dia kecup puncak kepala gadis itu.
“Kalian besok libur. Boleh kesini tapi enggak subuh. Siang aja ya. Yang Subuh biar mang Asep aja buat antar sarapan dan barang belanjaan. Kalian kesini sekalian bawa makan siang Mommy,” Laura berpesan pada Nazwa dan Fahri.
“Pagi aku boleh kekebun kan Mom? Tanya Fahri. Lelaki kecil itu selalu main kekebun setiap hari Sabtu dan Minggu selama tinggal dirumah Laura.
“Boleh, tapi jangan sampai siang ya. Agar yang mau berangkat ke rumah sakit enggak kelamaan nungguin Ade,” jawab Laura.
“Kamu mau makan siang apa?” tanya Claudia. Siapa pun tahu akan bosan makan dengan menu beli setiap hari.
“Pengen tumisan pedes sama goreng tempe Ma. Sama ikan mas deh,” jawab Laura. Makanan rumahan yang sederhana tapi sulit dia dapat disini selama tiga minggu dia tinggal dirumah sakit ini.
“Tumis apa?” tanya Claudia lagi.
“Apa aja, yang penting sayuran pedes,” balas Laura.
***
Laura mengusap kepala Syahrul sambil membaca Al Qur’an pelan. Dia duduk bersandar di headboard. Satu tangannya dia gunakan untuk memegang ponsel. Laura memang naik ke bed Syahrul.
Dia usap alis Syahrul agar cepat tertidur. Serasa membujuk bayi agar cepat terlelap. Tak terasa akhirnya ponsel ditangan Laura jatuh kebahu Syahrul karena Laura tertidur.
Syahrul kaget dan terbangun. Dia menolehkan kepalanya dan dilihat pujaan hatinya tertidur sambil duduk bersandar. Lelaki gagah itu hanya bisa menangis. ‘Pilihanku tak salah. Engkau tak kenal lelah dan rela mendampingi yang sedang terpuruk. Terima kasih ya Allah.’
Andai bisa ingin rasanya Syahrul balik badan dan memeluk Laura agar tidur dalam dekapannya. Sekarang jangankan balik badan. Untuk bergerak saja punggungnya masih sangat sulit. Saat dibasuh badan tadi untuk mengelap punggungnya harus dibantu Laura agar dia bisa berbaring miring.
Saat ini Syahrul hanya bisa mengambil ponsel Laura agar tidak sulit mencari benda ini, ketika gadis itu terbangun nanti. Dan dia pun berupaya kembali melanjutkan tidur dengan tangan kanan memeluk erat lengan Laura.
***
JANGAN LUPA MAMPIR DI BAB KEDUA YANG AKAN DIUPDATE MALAM NANTI YAAAAA