TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ANCAMAN NAZWA



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


==============================================================================


“Dok, ini makanan yang dokter pesan,” perawat yang membantu Syahrul di poli anak mengantarkan delivery order yang Syahrul pesan secara online.


“Terima kasih Sus, tolong siapkan 3 piring ya,” pinta Syahrul. Hari ini dia meminta kedua buah hatinya makan siang di poli sehabis dia selesai tugas. Dia ingin mengorek isi hati Nazwa dan Fahri. Dia tak ingin terlambat sehingga membuat anak-anaknya depresi karena teror kedatangan Ida.


“Assalamu’alaykum,” suara renyah kedua anak Syahrul menyapa dan keduanya langsung bergantian mencium tangan sang ayah tercinta.


“Wa’alaykum salam,” Syahrul dan dua perawat yang bertugas di poli anak menjawab salam keduanya.


“Sus, kalau kalian sudah selesai, pulang saja duluan. Nanti biar saya yang kunci ruangan ini,” Syahrul mempersilakan kedua asistennya di poli anak untuk pulang lebih dahulu.


“Baik Dok, sebentar lagi kami selesai,” jawab perawat yang sedang membereskan file pasien hari ini.


“Bagaimana tadi di sekolah, ada kesulitan?” tanya Syahrul seperti biasa.


“Standart Dadd, enggak ada kendala,” jawab Fahri sambil membuka nasi padang yang tadi di pesan Syahrul. Seperti biasa Syahrul hanya pesan 2 porsi nasi tapi dengan 4 macam lauk untuk 5 orang. Mereka bertiga memang lebih banyak lauk dari nasinya. Bahkan jika ada Laura pun, porsi nasi tak akan bertambah. Hanya lauknya saja yang akan ditambah. Itu sebabnya tadi Syahrul minta piring. Karena dia bukan membeli nasi yang sudah bercampur lauknya.


“Kalian menyembunyikan sesuatu?” tanya Syahrul saat kedua perawat sudah pamit pulang lebih dulu.


“Daddy pasti sudah dengar dari Mommy,” balas Nazwa ringan.


“Ya, Mommy cerita, tapi ‘kan enggak lengkap karena dia tidak langsung berhadapan dengan ibumu. Dan lagi mengapa kalian menyembunyikan dari Daddy? Bukankah kita bertiga sudah sepakat untuk selalu share apa pun? Kalau Mommy tidak cerita, Daddy tidak tahu dia datang berkali-kali ke sekolah kalian!” Syahrul baru berpikir, dari mana Ida tahu sekolah anak-anak? Apa dia juga tahu rumahku yang sekarang?’


“Apa Daddy akan percaya bila kami cerita, bahwa kami sangat membencinya? Apa Daddy akan percaya kalau Mommy menasehati Ade, untuk menyebut dia dengan sebutan IBU, sedang Ade malas dan menyebutnya dengan kata PEREMPUAN ITU? Apa Daddy akan percaya kalau aku dan Ade tak mau menganggapnya sebagai ibu kami lagi walau Daddy dan dia nanti menikah kembali?” dengan kesal dan terisak Nazwa bicara dengan nada tinggi. Dia tunda mengambil nasi.


“Maaf Dadd,” ucap Fahri lirih. “Kami tidak cerita pada Daddy, karena kami tahu, Daddy pernah mencintai perempuan itu. Kami tak ingin suara kami membuat Daddy urung berbaikan dengannya. Biarlah kami menderita asal Daddy bahagia. Daddy sudah cukup menderita mengurus kami sejak kecil. Kami tak ingin melarang bila Daddy ingin menikah dengan siapa pun. Walau untuk kami, ibu kami hanya mommy Laura. Tak ada yang lain!” anak hampir 9 tahun itu dewasa karena keadaan. Dia bisa menilai dan bicara selancar sang kakak yang hampir berusia 12 tahun.


“Seperti yang pernah kita bicarakan, kita bertiga akan selalu bersama. Kalau pun akan tambah personil, itu hanya mommy Laura, bukan yang lain!” balas Syahrul memeluk bahu Fahri yang juga mulai terisak.


“Seharusnya, sejak ibumu datang ke sekolah pertama kali, kalian bilang ke Daddy. Daddy sangat kaget waktu Mommy menegur Daddy! Mommy marah besar karena enggak ingin kalian sakit seperti ketika kasus perempuan penipu itu,” ulas Syahrul.


“Mommy is the best. Kakak selalu berharap Mommy bisa membuka hati untuk menerima Daddy,” Nazwa berharap dengan sungguh. Dia tahu dari Syahrul, Laura belum menjawab permintaannya untuk menjadi ibu bagi kedua anaknya.


“Aaamiiin,” cepat Fahri dan Syahrul menjawab doa Nazwa.


“Ayo kita sambil makan,” Syahrul pun mulai mengisi piring nasinya dengan lauk. “Lain kali, kalian harus cerita ke Daddy.”


“Apa sekarang ibumu masih datang ke sekolah?” tanya Syahrul lagi, sambil mengambil tunjang untuk lauknya. Tak lupa dia ambil dadar telur tebal khas restoran padang.


“Sudah 3 hari ini dia enggak datang. Mungkin dia pulang ke Lampung dulu. Dia bilang sekarang tinggal di Lampung,” jawab Nazwa. Sebenarnya Syahrul juga seperti Laura, agak risih ditelinganya mendengar anak-anaknya menyebut ida dengan kata DIA atau PEREMPUAN ITU  bukan IBU. Tapi Syahrul menyadari, anak-anaknya terlalu kecewa pada Ida. Syahrul sendiri tak pernah sekali pun menceritakan sosok ida pada kedua anaknya. Syahrul tak mau anak-anak mendengar kejelekan ibu kandung mereka dari mulutnya. . Mungkin mereka mendengar saat kumpul keluarga. Di rumahnya tak ada 1 pun foto ida terpasang. Semua foto ida dan anak-anak serta dirinya dia simpan dalam kotak terkunci di kamarnya.


“Dari mana ibumu tahu sekolah kalian? Apa dia juga pernah datang ke rumah? Kalian tanya ke bibik enggak?” Syahrul bertanya pada kedua anaknya.


“Bibik enggak pernah cerita ada tamu saat kami sekolah. Mungkin tanya ke nenek? Atau tante dan Om? Mungkin masih ada yang mau bercerita dengannya sehingga tahu di mana kami sekolah!” Nazwa malah sudah pernah punya niat bertanya dari mana Ida tahu dia sekolah di mana. Sayang sebelum itu ditanyakan, Ida belum pernah datang kembali.


Syahrul langsung mengingat seorang sepupunya yang sangat akrab dengan Ida. Syahrul menduga Ida mencari tahu dari uda Buyung. Lelaki lebih tua darinya tapi masih setia sendiri. Syahrul ingat pandangan memuja uda Buyung pada calon istrinya ketika dia membawa Ida pada pertemuan keluarga sebelum dia menikahi Ida. Uda Buyung tahu sekolah anak-anaknya karena pernah saat ibu tiri Syahrul datang menginap di rumah Syahrul, uda Buyung datang pagi-pagi sekali. Dan Syahrul meminta mereka makan siang bersama di resto langganan. Sopir anak-anak menjemput ibu tiri Syahrul dan uda Buyung sebelum menjemput anak-anak di sekolah. Dan bersama anak-anak mereka langsung bertemu Syahrul di resto. “Ya, mungkin dari salah satu saudara Daddy yang bisa dia dekati!”


“Lalu bagaimana ponselmu De’?” tanya Syahrul memancing Fahri.


“Dia pikir Ade’ enggak bawa hand phone karena Daddy enggak kasih. Biarin aja tu ponsel enggak Ade’ buka. Ada di laci kamar,” jawab Fahri sambil mengambil sambal ijo kesukaannya.


“Lalu, langkah kalian selanjutnya mau bagaimana? Mau ikut dengan ibu untuk menjajagi hidup bersamanya?” pancing Syahrul.


“Kakak enggak akan mau lagi bertemu. Kalau dia datang lagi Kakak akan bilang jangan pernah temui Kakak lagi sebelum dapat izin dari Daddy. Dan Kakak akan ancam dia, kalau masih nekad datang lagi Kakak akan langsung teriakin dia penculik biar sekalian dia malu. Karena kalau dia sampai ngaku bukan penculik, tapi dia ibu Kakak. Kakak akan langsung teriak : IBU YANG SUDAH MENELANTARKAN ANAKNYA!!! Kakak enggak akan OMDO, Kakak akan buktikan ancaman Kakak itu,” Nazwa menyatakan tekadnya dengan lugas.