
Sore itu aku baru mengetahui ternyata sejak resign dari kantor Julia memiliki bisnis online. Dia memperlihatkan ponselnya saat aku tanya apakah dia memiliki nomor lain.
“Kamu enggak mau lagi kerja mendampingi A’a?” tekanku, aku masih berharap dia mau kembali kerja di kantorku
“Aku suka kerja kantoran, tapi aku enggak suka karakter boss aku yang terlalu ambigu. Bossku senangnya menang sendiri. Enggak mau melihat kesalahan dirinya. Lebih baik aku keluar dari pada stroke ngadepin dia,” jawaban jujurnya membuatku tertohok
“Honey … please maafin A’a. A’a janji enggak akan begitu lagi,” kembali tanpa sadar aku mengucap kata-kata janji. Kata-kata yang sering aku gunakan pada siapa pun untuk membut lawan bicaraku percaya padaku.
“Ini nih yang aku enggak suka dari boss aku. Gampang banget ngobral janji. Habis itu dia lupa pernah janji enggak akan ngulangin lagi. Begitu seterusnya!” protesnya lagi
“Kamu diam ya, aku akan ingetin janji kamu yang bikin aku marah. Diam dulu dan simak baru kamu membela diri!”
“Saat perpisahanku dengan August, kamu marah dan lebih dulu diam tak mau bicara. Padahal sebelumnya kamu yang bilang kita harus selalu bicara agar tak ada ganjelan antara kita. Setelah kita ribut, kamu kembali janji enggak akan berbuat mendiamkan aku.”
“Kamu ingat saat terakhir aku di kantor? Aku pulang makan siang, bawakan kamu makan dan bersiap menyuapimu. Apa yang kamu lakukan? DIAM! Tak ada satu kata pun keluar dari bibirmu. Juga tak membuka mulutmu untuk makan. Kamu pikir siapa aku? Kamu enggak mikir betapa aku merasa sangat rendah di matamu? Apa kamu pikir aku kuat bertahan mendampingi hidupmu yang arogan?” aku melihat dia mulai terisak saat mengingat kelakuan burukku. Aku tak tahan melihatnya seperti itu
“Sayank …, honey please jangan seperti itu. Maafin A’a. A’a terlalu egois. A’a bodoh melakukan hal itu. Ajari A’a bersikap dewasa. A’a terlalu bodoh,” hanya kata-kata permohonan maaf yang bisa aku sampaikan saat itu.
Bastian end POV
Laura masih kesal pada Syahrul. Tapi tentu dia tak bisa menampakkan kekesalannya didepan Nazwa. Gadis kecil itu sangat memperhatikan apa yang dia jelaskan. “Kalau yang ini bagaimana Mom?”
“Kamu tentukan dulu apa yang kamu minati, baru kamu jabarkan seperti tadi,” balas Laura.
“Tapi aku sama sekali enggak ada yang aku suka dibidang olah raga Mom,” Nazwa malas menjabarkan bab yang sedang dia kerjakan.
“Bukannya kamu suka main puzzle? Bukannya kamu suka renang?” pancing Laura.
“Renang, itu keharusan dari Daddy. Aku enggak suka. Kalau puzzle aku suka banget Mom,” Nazwa menjelaskan dengan gamblang. Dia tak sadar itu bisa dikembangkan di makalahnya.
“Nah itu, kamu tuliskan olah raga yang kamu wajib lakukan. Dan olah raga yang kamu sukai. Di Indonesia memang puzzle atau rubik masih dianggap permainan. Padahal itu adalah olah raga otak seperti catur dan bridge,” Laura kembali menjelaskan pada Nazwa.
“Oke, aku mengerti Mom,” kembali Nazwa konsentrasi pada kertas coret-coretannya. Syahrul hanya duduk mengawasi dua perempuan yang dia kasihi itu.
‘Barusan Mas ke rumah opa lagi, Oma Stelle mengantar temannya yang ingin bertemu opa,’ sebuah chat masuk diponsel Laura dari August. Sejak pertemuan tak sengaja di rumah opa Greg, Laura dan August memang semakin sering bertukar cerita. Laura pun menyebut August dengan MAS.
‘Tadi Oma Stelle cerita enggak kondisi Opa Greg?’ tanya Laura.
‘Enggak perlu diceritain, wong Opa keluar nemuin kita koq, dia terlihat sehat. Bahagia ngobrol ama teman-temannya pakai bahasa leluhurnya,’ balas August. Laura pun tenang mengetahui opanya sehat. Dia kembali fokus pada tugas Nazwa.
***
“Ada tamu?” tanya Laura saat dia, Nazwa dan Syahrul keluar dari ruangannya. Tak lupa Laura mengunci ruangannya. Sejak dulu ruangan selalu dia kunci dan kuncinya dia yang bawa. Jadi ruang kerjanya dibersihkan saat dia berada dalam ruangan itu. Saat itu Laura melihat seorang perempuan muda sedang mengamati jenis bahan yang akan Laura gunakan untuk design terbarunya.
“Ini sepupu saya Bu,” sahut Dina, seorang pegawai di bagian jahit.
“Saya pulang ya, kamu kenapa masih belum berkemas?” Laura bertanya karena saat itu sudah diluar jam kerja bagian produksi.
“Lagi nunggu Ceu Rose, mau pulang bareng,” jawab Dina. Rose adalah karyawan bagian administrasi sehingga pulangnya satu jam lebih lama dari bagian produksi.
“Ya sudah, saya pulang duluan ya,” Laura pun pamit pada karyawannya itu. Tak pernah ada pikiran curiga apa pun. Dan lagi Laura memang jarang ke butiknya sehingga tidak tahu kebiasaan para pegawainya.
“Mom, makan ice cream dulu ya?” rengek Nazwa. Tadi Laura sudah memberikan juice dan makan siang tapi dia tetap ingin makan ice cream dengan wanita itu. Buka ice cream yang jadi tujuan utamanya. Tapi kebersamaan dengan Lauralah fokus rengekan Nazwa.
“Mommy enggak bisa lama, bagaimana bila Mommy temani sebentar lalu kamu lanjut sampai selesai dengan Daddymu?” tanya Laura bijak. Dia tak ingin mengecewakan gadis kecilnya.
“Kalau begitu lain kali aja, biar bisa lama,” Nazwa pun menyerah. Gadis kecil itu tahu, daddy dan mommynya sedang ada persoalan, sejak dia datang sang daddy sama sekali tak terlihat bicara selain menjawab salam ketika dia datang. Nazwa memeluk dan mencium Laura sebelum menyampaikan salam.
“Aku pulang ya,” Syahrul mendekati Laura yang sedang dipeluk Nazwa. Perempuan itu tak bisa menghindari kecupan dikening yang Syahrul berikan. Mereka langsung berpisah di depan butik Laura.
***
Bu Ganis tertatih melihat panti asuhan yang dia dirikan bersama almarhum suaminya. Entah mengapa hari ini ia sangat ingin melihatnya. Sudah lama dia tidak ke panti walau letak panti adalah persis berada disebelah rumahnya. “Nyonya ada perlu sesuatu?” tanya Nengsih yang pertama melihat Bu Ganis masuk ke dalam panti.
“Saya ingin tahu kamar para pegawai,” jawab Bu Ganis. Dulu dia dan suaminya hanya membangun 7 kamar untuk para pegawai. Dia takut jumlah itu kurang mengingat sekarang jumlah pegawai sudah bertambah.
Laura yang baru sampai ke rumah kaget saat bik Sanah melaporkan sang nyonya sedang mengunjungi panti. Tanpa membuang waktu Laura menyerahkan tas nya untuk disimpankan di kamarnya pada bik Sanah dan dia berjalan menuju panti. “Tumben Wak?” Laura menyapa uwaknya.
\=================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta