
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya semua berkumpul diruang tamu. Ada empat cangkir teh panas dan gorengan risol buatan Namira yang baru saja digoreng oleh bik Iyah.
“Teteh, Kang. Saya serius akan menikahi Namira bila dia sudah siap menerima saya. Saya berterima kasih Teteh dan Akang telah merestui keputusan saya. Karena Namira yatim piatu, dan kakaknya sama sekali tak bisa dihubungi lagi, maka malam ini saya ingin status kami diketahui Akang dan Teteh saja. Dengan saksi dari para Bibik,” Ilyas memandang Kusdi, Novia dan Namira bergantian. Dia ingin mereka melihat kesungguhan hatinya.
“Namira, maaf kalau ini terlalu sederhana dan tak berkesan untukmu. Malam ini saya memintamu untuk menjadi belahan jiwaku,” Ilyas bicara tegas walau pelan pada Namira.
‘Dia nodong didepan bu Novia dan pak Kusdi. Gimana aku mau ngebantah?’ Namira hanya bingung akan todongan Ilyas yang tiba-tiba ini.
“Saya … saya,” Namira bingung harus berkata apa.
“Aku tahu kamu belum siap untuk menikah. Tapi biarkan kita ‘resmi’ didepan keluarga kita. Aku ingin kamu memberi kepastian kalau kamu memang bersedia menerimaku,” kembali Ilyas menodongkan ‘senjatanya’ dikepala Namira. Sehingga perempuan itu tak bisa berjalan mundur.
“Baik. Saya menerima A Ilyas menjadi calon imam saya. Tapi mohon maaf. Biarkan saya memantapkan hati dulu,” akhirnya kalimat manis yang Ilyas tunggu terucap juga dari bibir tipis Namira.
Tanpa membuang waktu, ilyas mengeluarkan sepasang cincin dari sakunya. “Semoga cincin ini pas.”
Ilyas memakaikan cincin di jari manis tangan kiri Namira. Dia yakin pas karena sudah dia ukur ketika Namira tidur. Cincin ini sudah dia siapkan sebulan lalu. Dan Ilyas meminta Namira memasangkan cincin di jarinya.
Flash back off
“Iya Teh,” sahut Namira. Pertunangan kilat namun tetap berkesan untuk Namira. Seorang yang dipandang rendah karena sudah mempunyai anak tanpa menikah, tapi dicintai dengan tulus oleh seorang lelaki. Dan diterima dengan tangan terbuka oleh kakak lelaki tersebut, sudah merupakan rahmat tak terhingga bagi Namira.
“Kenapa sih semalam pakai bikin acara seperti itu?” tanya Namira saat mereka sudah dimobil.
“Kalau enggak begitu, kamu bisa aja lari,” sahut Ilyas kalem. Dia mengusap kepala Ilham yang terkantuk-kantuk sehabis minum ASI langsung dari sumbernya. Memang Namira menyusui dimobil. Dia menggunakan apron khusus untuk menyusui guna menutupi payu-daranya dari tatapan siapa pun.
“Kenyang ya gantengnya Ayah?” tanya Ilyas sambil terus fokus pada jalan raya.
“Kalau belum kenyang enggak bakal mau dicopot Yah,” sahut Namira sambil mengusap kening Ilham agar semakin lelap tidurnya.
“Teteh, lihat banyak rusa tuh,” Ilyas memberitahu Nindi sambil menunjuk rusa dihalaman istana Bogor.
Nindi yang sudah mulai mengantuk langsung duduk tegak dan melihat keluar jendela. “Aku pengen kesitu kasih makan rusa Yah,” rengek Nindi.
“Besok-besok ya. Sekarang kita mau pulang ke Bandung. Nanti kalau kemalaman teteh cape. Besok sudah bangun buat ke sekolah.” Ilyas menolak permintaan Nindi. Karena bingung mau parkir dimana. Besok-besok dia akan mengajak Nindi dan ilang serta Galang untuk memberi makan rusa istana.
“Besok hari Kamis tanggal merah Yah, enggak sekolah,” Nindi protes pada Ilyas. Rupanya Ilyas lupa besok hari besar nasional. Mereka pulang karena konsumen Namira sudah menanyakan kue, dan besok Ilyas kerja walau tanggal merah. Tugas seorang dokter memang bukan berdasarkan tanggal merah.
“Iya Teh, nanti pas kita ke Bogor lagi. Kita akan kasih makan rusanya bareng dede Gilang dan dede Galang,” Namira mencoba membujuk Namira dia menguatkan kata-kata Ilyas.
“Beneran ya Yah,” Nindi minta kepastian pada Ilyas. Gadis kecil itu bahagia karena merasa punya sosok orang tua lelaki.
***
August tiba di bandara Soeta. Dia ingin segera menyerahkan laporan terbangnya dan segera kembali ke rumah. Besok Bagas resmi tunangan. Dia akan bertugas sebagai teman berdiri maminya. Karena papinya bertugas mendampingi ibunda Bagas yang suaminya sudah meninggal.
Rumah keluarga August sudah rame dengan kerabat yang datang menginap untuk acara pertunangan Bagas esok hari.
“Kamu baru turun?” tanya seorang kerabat saat August masuk ke rumahnya.
“Sudah sejak tahun lalu,” sahut August ketus. Jelas-jelas dia masih pakai seragam pilot. Pertanyaan basa basi yang membuatnya mual. Rupanya August sedang bad mood.
“Jangan seperti itu,” bisik omanya lembut. Oma Stelle tahu August kembali berulah setelah hampir terjebak dengan perjodohan yang dia buat. Stella mau dijodohkan dengan August agar keluarga dari pihak papanya kembali menerima dia. Karena akan menganggap dia sudah normal karena menikah dengan lelaki.
“Paling malas kalau menjawab pertanyaan basa basi dan pertanyaan kapan aku nikah!” sahut August sambil berlalu masuk kekamarnya. Stelle hanya diam. Dia tahu dia sudah salah mengharuskan August segera menikah. Sejak kasus Stella, August memang masih mau pulang kerumah ini. Tapi menjadi ketus pada semua saudara yang menyapanya.
August segera mandi dan keluar untuk makan malam. ‘Nyesel tadi enggak makan diluar aja. Lupa kalau rumah bakal rame begini,’ August hanya membatin saja. Untung jam makan malam sudah lewat. Jadi dia bisa makan sendirian di meja makan. Dia mengambil nasi dan lauk yang terhidang dimeja makan.
“Tadi masih ada ayam panggang merah di kulkas. Mau Mami panasin?” tanya Nenden yang tetiba berada dibelakang August. Nenden tahu August sangat suka ayam panggang bumbu angkak yang berwarna merah cerah itu.
“Ada Mam? Enggak usah dipanasin juga enggak apa-apa,” sahut August. Dia hanya melihat banyak lauk dimeja makan saja. Tidak tahu kalau maminya sengaja menyimpan ayam panggang berwarna merah menyala itu untuknya. Tentu saja dia mau bila ada ayam panggang merah.
Nenden pun mengambilkan ayam panggang dikulkas untuk putra tunggalnya. Nenden menemani August sampai lelaki tampan itu selesai makan. Mereka ngobrol hal-hal ringan. Nenden memang sengaja mendekati August agar putranya tidak semakin menjauh dari dirinya. Nenden dan Prabu merasa August sangat marah sejak kejadian perjodohannya dengan Stella.
“Makasih Mam udah nemani makan,” August membawa piring kotornya ke belakang dan langsung dia cuci sendiri. Memang itu kebiasaan di rumah ini bila makan sendirian. Siapa pun akan langsung mencuci piring tanpa menunggu asisten rumah tangga mengerjakannya.
August segera masuk kekamarnya. Dia malas bergabung dengan keluarga besarnya. Biar saja dia mau dibilang apa. Daripada dia diluar lalu malah bikin ribut. Lebih baik dia diam dikamar saja.
‘Hai, gimana harimu tadi?’ tanya August pada Wulan melalui chat. Sayang sudah terlalu malam sehingga Wulan tak langsung membacanya.
***
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : RENI T
Judul cerita : BALAS DENDAM ISTRI YANG TERHINA
Cerita singkatnya seperti ini :
Milannita adalah seorang artis papan atas sekaligus istri dari pengusaha kaya raya bernama Caviar Klan. Dia harus menelan rasa sakit hati karena menyaksikan sendiri suaminya berselingkuh dengan assisten pribadinya sendiri bahkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami bercinta di kamar pribadinya, di ranjang yang sama yang selalu mereka gunakan untuk melakukan hubungan suami-istri.
Milan biasa dia di sapa, yang notabenenya adalah artis papan atas yang memiliki penampilan yang sempurna bahkan di puja banyak pria dan memiliki ribuan penggemar, merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh suami serta asistennya itu.
Akhirnya Milan memutuskan untuk menyembunyikan rapat-rapat perselingkuhan suaminya dan menjalani rumah tangga seperti biasa layaknya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dengan tujuan membalaskan dendam kepada dua orang yang telah mengkhianatinya itu.
Sampai akhirnya, dia bertemu dengan laki-laki bernama Zergo yang merupakan penggemar berat dirinya.