
Halloooooooooo
Sehat selalu yaaaaa
Update kedua hari minggu cerah ini/ Jangan lupa komen cantik dan hadiah setangkai mawar atau secangkir kopi dikirim kenovel ini yaaa
SELAMAT MEMBACA
Urusan pendaftaran nikah hari Senin pagi minggu depan juga lokasi pernikahan sudah selesai August urus. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah baru mereka.
Sebelum masuk perumahan August mampir minimarket yang dia lewati dan membeli beberapa cemilan, keju slice dalam jumlah cukup banyak, mie instan beberapa rasa dan telur, susu ibu hamil juga roti.
“Sejak sekarang Ayah mau Bunda ngemil ini,” August memberikan keju slice pada Wulan.
“Kenapa Mas?” tanya Wulan dengan polosnya.
“Ini protein tinggi juga banyak zat kapur,” jawab August sambil kembali melajukannya menuju rumah mereka.
“Mas, jangan bunda ya. Aku lebih suka dipanggil IBU,” Wulan memberitahu keinginannya.
“Sesukamu, yang penting Mas sukanya dipanggil ayah,’ jawab August sambil memarkir mobilnya kedalam carport rumah mereka.
Wulan masuk ke rumahnya. Dia melihat kordeyn sudah terpasang dengan indahnya. Meja makan dan kursi di ruang tamu juga sudah tertata. Tempat tidur di kamarnya sudah terpasang hanya letaknya yang kata August belum tepat.
“Kamu istirahat ya. Minum susuu dingin lagi juga makan kejunya,” perintah August.
‘Yud, tolong bantu pindahin kasur dan lemari dong. Panggilkan orang dari developer biar cepat. Aku ingin kasur dan lemari dipindah. Agar meja rias enggak sempit seperti sekarang,” August meminta Yudha memanggil tukang, dia ingin kamar cepat rapih agar Wulan bisa berbaring.
Tanpa banyak cakap Yudha segera ke kantor developer minta tiga orang tukang membantunya.
“Kamu tidur di kamar ya, biar Mas dan Yudha atur dapur,” August segera menyuruh Wulan berbaring di kamar. Para tukang sudah pergi dan tentu taak lupa August memberi tip karena membantu membereskan kamar tidurnya.
AC kamar sudah August pasang. Dan Wulan pun tak banyak membantah. Tak berapa lama dia terlelap.
***
Sebulan sudah Bastian dan Julia pulang dari liburan sekaligus belanja di Singapore. Selama ini hubungan mereka hangat dan manis. Bastian sangat banyak berubah. Walau kadang masih saja dia mau menang sendiri atau salah duga. Namun dia dan Julia bisa segera menyelesaikan. Kata maaf sering Bastian ucapkan bila dia sadar melakukan kesalahan.
Tapi hari ini semua kedamaian sirna. Dunia seakan kiamat ketika emailnya serta ponsel miliknya dan milik Julia mendapat kiriman yang sama dalam waktu bersamaan. Foto dirinya dan Gladys sedang tidur tanpa busana juga foto test pack bergaris dua dan surat keterangan rumah sakit tentang kehamilan Gladys.
Julia hanya diam. Tak ada reaksi apa pun. Dia bergegas membereskan meja kerjanya dan keluar kantor tanpa bicara apa pun pada Bastian. Saat itu Bastian sedang di ruang meeting bersama team pemasaran. Seharusnya Julia keruangannya untuk mengambil file di meja Bastian yang lelaki itu lupa bawa keruang meeting.
“Vit, tolong tengok Julia, kenapa dia enggak cepat balik,” bisik Bastian. Vita adalah kepala divisi marketing. Jadi memang dia pun ikut meeting.
Bastian menerima panggilan dari Vita. “Julia enggak ada diruangan. Dan tasnya juga enggak ada. Saya sudah cek ke resepsionis dan satpam, Julia sudah pulang lima belas menit lalu.”
Bastian bingung. Saat itu dia baru tahu ada pesan dari nomor tak dikenal. Dia buka pesan berisi foto itu. ‘Astagfirullah. Apa lagi ini? Apa Julia menerima foto ini juga sehingga dia pergi tanpa pamit?’
***
“Teh, saya pergi liburan ya, kalau A’ Bastian tanya bilang aka enggak tahu,” Julia memberi pesan pada pembantu rumah tangganya. Dia segera keluar rumah karena taksi online yang dipesannya sudah datang. Dia segera kembali mematikan ponselnya agar tak diganggu siapa pun.
***
Dengan terpaksa Bastian meneruskan meetingnya. Walau tidak dengan konsentrasi penuh. Dia berupaya semaksimal mungkin.
“Kalau ada info apa pun tentang keberadaan Julia tolong beritahu saya,” bisik Bastian pada Vita. Dia berharap genks lima sekawan mendapat bocoran posisi Julia saat ini.
Bastian langsung menghubungi nomor rumah Julia. Dia tahu pasti Julia sudah tiba dirumah bila dari kantor langsung pulang. “Barusan sudah pulang, tapi pergi lagi bawa koper kecil naik taksi online,” info itu Bastian dapat dari pembantu rumah tangga Julia.
‘Apa dia ke Singapore? Talk mungkin dia naik taksi online bila pulang ke Bogor,” Bastian mencoba menerka kemana tujuan Julia pergi membawa koper kecil.
Bastian ingat, nomor ponsel khusus usaha yang Julia pernah beritahu. Dia coba hubungi nomor itu. Tapi juga tak aktif.
“Antar satu kopi ke ruangan saya,” Bastian memesan kopi ke office boy di pantry kantor. Dia bingung bagaimana menyelesaikan persoalan ini.
‘Aku merasa tak melakukan apa pun. Bahkan aku tak pernah bertemu kembali dengan Gladys. Bagaimana ada foto bersama kami? Kaos yang aku gunakan itu kaos yang baru Julia belikan, jadi bukan foto lawas. Tapi bagaimana bisa?’ Bastian masih terus bingung bagaimana bisa ada foto itu. Terlebih hasil test pack bergaris dua.
Memang selain foto naked dirinya dan Gladys, ada foto dirinya dengan kaos dan celana baru, bukan yang dia gunakan di Aussie dulu. ‘Darimana aku harus usut?’ pikir Bastian.
‘*T*api sebelum mengusut semua itu, aku harus cari keberadaan Julia terlebih dulu. Aku tak ingin dia mendugaku salah. Sedang sebelum kami tunangan sudah ada perjanjian tak akan ada kesempatan kedua bila aku selingkuh,’ Bastian makin kalut. Dia tak tahu lagi bila sampai hubungannya dengan Julia kali ini tak terselamatkan.
“Wa alaykum salam Kang,” Bastian menjawab salam yang diucapkan Dade.
“Kang, ada yang mau ngerusak hubunganku dengan s Eneng. Lalu barusan Eneng pergi. Kalau dia ke Singapore tolong kabari aku ya Kang,” pinta Bastian tanpa basa basi. Dia sedang kalut. Dan dia segera menghubungi Dade aar bisa segera menyusul bila Julia ke Singapore.
“Koq bisa, emangnya bagaimana ceritanya?” tanya Dade penasaran. Karena yang dia tahu Bastian cinta mati pada Julia adiknya.
Bastian pun menceritakan tentang kiriman foto dari nomor tak dikenal. Dan dia juga memberitahu kalau tak pernah bertemu lagi dengan Gladys sejak meninggalkan Australia.
“Baik, nanti akan Akang kabari diam-diam bila dia datang kesini. Sampai saat ini dia belum menghubungi Akang minta jemout atau memberitahu dia mau datang kesini,” Dade berjanji membantu Bastian.
“Nuhun pisan sebelumnya ya Kang,” Bastian menyampaikan rasa terima kasih pada Dade kakak sepupu Julia.
=============================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta