TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
AKU ENGGAK AKAN MAU HIDUP DENGAN DIA WALAU DADDY ENGGAK ADA



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=============================================================================


‘Non, ada perempuan marah-marah. Dia mau masuk keruang rawat tuan. Karena bukan jam kunjung, petugas enggak kasih walau dia kasih tau kalau dia istri tuan.’


Nazwa geram membaca apa yang bibiknya laporkan. Semakin dia membenci perempuan yang bertindak semaunya itu. Apa yang hendak dia lakukan sedang ayahnya saja sedang koma? Apa perempuan itu akan mencopot semua alat agar ayahnya meninggal lalu dia dan adiknya terpaksa ikut dengan perempuan itu?


‘Aku harus bilang ke oma, aku enggak akan mau hidup dengan dia walau daddy enggak ada,” Nazwa mengambil keputusan terpahit bila memang daddynya tak bisa bertahan lagi.


“Kalau jam kunjung, apa dia bisa masuk ruang rawat?” tanya Nazwa dengan takut.


“Enggak. Mommy sudah pesan ke seluruh perawat diruang itu, dokter Syahrul tidak boleh dikunjungi siapa pun tanpa seizin Mommy. Entah kenapa Mommy takut dia masuk ke ruang daddy lalu dia berbuat yang enggak-enggak,” Laura memberitahu langkah yang sudah dia ambil tadi.


“Kakak juga takut seperti itu,” Nazwa menyatakan dia juga takut bila Ida bisa masuk ruang rawat ayahnya.


***


Novia mempercepat keberangkatannya ke Bandung. Niatnya dia akan berangkat besok sehabis salat subuh. Tapi setelah diskusi dengan Kusdi suaminya, mereka sepakat berangkat malam ini sehabis salat maghrib. Mereka juga ingin Ilyas sedikit tenang karena mereka sudah sampai di Bandung sebelum hari pernikahan adiknya itu.


Tak lupa dia membawa paket seserahan yang Ilyas pesan, karena Namira sama sekali tak mau disiapkan seserahan.


Pukul 23. 02 keluarga Novia tiba dirumah adiknya di Bandung. Sejak kemarin bik Iyah sudah menyiapkan kamar depan untuk tidur keluarga itu. Seprey walau tak pernah dipakai tetap diganti yang baru. Lalu sudah disiapkan air putih dalam beberapa botol mini agar bila malam ingin minum tak repot harus kedapur.


“Langsung istirahat aja Teh, Kang,” Ilyas yang menyambut kedua kakaknya segera menggedong Galang untuk dibawa kekamar. Sedang Gilang digendong kakak iparnya.


Namira malah tidak tahu perubahan jadwal kedatangan keluarga calon kakak iparnya. Karena Ilyas tak memberitahunya. Perempuan itu baru saja terlelap sehingga tak mendengar ketika mobil masuk ke halaman.


“Kamu juga tidur sana, biar besok fresh,” Novia juga menyuruh Ilyas segera tidur. Kalau tidak bisa-bisa suaminya mengajak ngobrol Ilyas hingga dini hari seperti kebiasaan mereka bila bertemu.


***


Seperti biasa Namira bangun ketika dia hendak salat subuh. Dia bersihkan dulu diapers Ilham, baru dia berwudhu. Sehingga nanti selesai salat Ilham tidak rewel karena diapersnya sudah diganti.


Selesai salat, baru Namira keluar kamar. Dia kaget didapur sudah ada bik Iyah dan bik Ningrum kakaknya. ‘Rupanya teteh Pia sudah datang sejak semalam.’


Namira segera menyiapkan sarapan untuk semua. Pagi ini karena semalam banyak nasi, dia buat nasi goreng seafood. Dia sengaja menggunakan merica bukan cabe karena ada Galang dan Gilang. Bik Ningrum menggoreng kerupuk dan emping sedang bik Iyah mengurus cucian.


“Morning Honey,” tanpa malu Ilyas langsung mencium pipi Namira, dia peluk perempuan itu dari belakang. Kebiasaan itu sudah dia lakukan sejak mereka bertunangan. Dan Namira tak bisa marah. Namira membalas dengan menepuk pipi Ilyas lembut.


Bik Ningrum malu melihat hal itu, bik Iyah sudah biasa. Memang seperti itu kelakuan Ilyas.


“Ayah mau kopi sekarang atau nanti habis makan?” tanya Namira. Ilyas memang minum kopi pagi sesuai mood nya. Jadi harus ditanya dulu.


“Sekarang aja deh,” pinta Ilyas. Dan Namira pun menyiapkan kopi untuk Ilyas.


“Bik, minum Ibu sama Bapak apa?” tanya Namira pada bik Ningrum. Yang dia maksud ibu dan bapak tentu teh Pia dan kang Kusdi.


Jam sembilan pagi Novia sudah meminta Namira untuk bersiap dia dandani. Karena jam sebelas mereka akan berangkat ke KUA. Novia sudah membawa perlengkapan perang untuk merias calon pengantin.


Sedang Ilyas baru ganti pakaian pukul 10.30. Sejak tadi dia mengurusi Ilham dan dua keponakannya. Dia juga menyiapkan tas ASIP Ilham agar bik Iyah tidak repot saat akad nikah nanti.


***


“Saya terima nikah dan kawinnya Namira Sabilla Kesuma binti Galih Kesuma dengan mas kawin cincin emas seberat lima gram dan sebuah toko dibayar tunai,” lantang dan lancar Ilyas mengucapkan janji akad nikahnya.


Namira, dan semua yang hadir baru tahu kalau Ilyas memberikan sebuah toko untuk usaha Namira. Tentu saja Namira terharu akan hal itu. Belum lagi paket seserahan yang disiapkan oleh Ilyas dengan pertolongan Novia.


“Sah?”


“SAH!”


Namira mengecup punggung tangan suaminya dengan hikmad dilanjut Ilyas mengecup kening istrinya.


Perjalanan Ilyas mengejar cinta Laura selama satu tahun berakhir sudah. Sesudah pasrah tak bisa mengejar Laura, malah dia tersandung dengan cinta perempuan beranak satu yang sangat tulus. Itulah ketetapan yang Allah gariskan.


Laura dan bu Ganis juga semua teman yang datang langsung mengucapkan selamat pada pasangan yang baru menikah itu.


Wiwin dan Nadia serta Bayu pun hadir.


“Silakan dimakan hidangannya,” Namira mempersilakan semua yang bersalaman untuk makan. Kemarin dia dan Ilyas memang memesan sedikit makanan dan cattering disebuah resto. Jadi walau hanya menikah di KUA, makanan tetap tersedia.


Acara makan siang berlangsung di aula KUA yang memang biasa digunakan untuk makan saat akad nikah.


“Aku barusan mengirim video akad nikah Mira pada Bayu,” bisik Nadia pada Wiwin.


“He he he, iseng bangeeeeeeeeeeeet. Udah jelas Mira enggak bakal mau ama Wisnu. Andai dia tahu tentang pertunangan kami dia juga pasti mundur sejak lama. Aku tahu Namira bukan perempuan yang mau menyakiti hati orang lain,” jawab Wiwin.


“Iya sih. Mira waktu itu ‘kan enggak tahu soal pertunangan kalian,” balas Nadia.


“Selamat ya Mir,” Laura diikuti Nazwa dan Fahri mengucapkan selamat pada Namira. Laura memberikan totte bag besar pada pengantin itu.


“Selamat tante,” Nazwa memberi ucapan selamat pada Namira. Siang ini Nazwa mengenakan dress kembaran dengan Laura.


“Ini adiknya Teh?” tanya Namira kagum.


“Bukan, ini anak sulung saya. Dan ini nomor dua,” Laura menunjuk Fahri.


“Eh maap, siga teh adiknya,” jawab Namira dengan malu. Dia bilang maaf, kirain adiknya.


“Enggak apa-apa,” jawab Laura santai.


“Yas selamat yaaaaaaa. Akhirnya kamu enggak jomlo lagi,” goda Laura.


“Ha ha ha, bukan kamu aja ya punya dua bonus. Aku pun udah punya dua lho,” Ilyas dengan bangga memamerkan anak-anaknya pada Laura.


“Seriuuuuus?” tanya Laura takjub.


“Serius lah. Itu yang pakai kebaya biru, Nindi namanya, dia kelas tiga. Dan itu si gembul yang digendong bibik pengasuh, baru enam bulan,” jawab Ilyas.