
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
‘Good morning cantik. Semangat yaaaa,’ Syahrul mengirim pesan dengan emoticon love, sehabis dia selesai salat subuh di masjid. Dia ingat hari ini Laura akan sidang. Tanpa Laura tahu dia sengaja mengatur jadwal agar hari ini bisa hadir di persidangan perempuan yang dia cintai itu. Dia memang mencintai Laura. Sayang Laura tetap belum membuka hati untuknya. Walau dalam beberapa kesempatan terlihat Laura tak pernah menolak semua attensi yang Syahrul berikan.
‘Makasih,’ jawab Laura dengan emoticon senyum.
‘Dia masih tertutup. Tapi tak pernah menolak bila aku memeluk dan mencium keningnya. Tak mungkin ‘kan dia melakukan hal itu pada orang lain? Dia bukan perempuan yang murahan,’ Syahrul kadang bingung terhadap sikap Laura.
‘Kapan ya dia memberiku kepastian?’ pikirnya lagi. Dia bersiap berangkat kerja sekalian mengantar putra putrinya sekolah. Tiap pagi dia berupaya bisa mengantar keduanya berangkat sekolah sekalian saling bertukar cerita.
“Hari ini jadwal sidang?” tanya wak Ganis saat mereka berdua sarapan.
“Iya Wak. Doa in lancar ya?” pinta Laura tulus.
“Pasti atuh Neng. Tanpa diminta juga pasti Uwak doaken,” sahut wak Ganis.
***
Laura sampai di pengadilan satu jam sebelum jadwal. Dia takut terlambat karena biasanya hari Senin lebih macet dari hari lainnya. Maka tadi sehabis sarapan dia langsung melajukan mobilnya kesini.
“Assalamu’alaykum cantik,” suara berat yang familiar ditelinga Laura menyapanya. Sejak tadi dia sedang membalas chat adiknya di Jakarta sehingga taak tahu ada sosok pria matang yang menghampirinya.
Laura mengangkat wajahnya dari ponsel. Matanya melebar seakan tak percaya pria ini datang. “Wa’alaykum salam Abang,” sahut Laura yang langsung berdiri dan memeluk Syahrul. Walau dia selalu bilang bisa dan kuat menghadapi persidangaan. Didalam hati kecilnya tetap ada rasa takut. Dan kedatangan Syahrul untuk mendukungnya seperti air yang dia dapat ketika jalan dipadang pasir.
“Makasih Abang datang,” bisik Laura sedikit tercekat. Dia sangat senang ada sosok yang dekat dirinya, menemani saat persidangan kali ini.
“Kalau Abang bisa, Abang akan selalu lakukan untukmu. Tapi kamu tahu sendiri pekerjaanku sulit untuk diubah jadwalnya bila mendadak,” Syahrul memeluk erat tubuh Laura. Dia kecup kening perempuan itu. Lalu dia mengajaknya kembali duduk.
“Sepertinya kedatangan kita enggak diperlukan Pa. Gadis kecil mama sudah ada yang mendampingi,” suara merdu lain masuk ke telinga Laura yang sedang membalas chat terakhir Gerald adik bungsunya.
“Mamaaaaaaaaaaaaa …,” Laura berdiri lagi dan memeluk mamanya yang datang berdua sang papa.
“Kakak sehat?” tanya Claudia Steffany Hopmans, macan persidangan pada putri sulungnya.
“Alhamdulillah sehat Ma. Mama, Papa dan Opa sehat ‘kan?” balas Laura. Dia tak tanya khabar Gerald karena dia tahu adiknya sedang di German mengunjungi keluarga Opanya. Dan Gerald bilang dia akan ke Belanda mengunjungi keluarga oma mereka.
“Papaaaaaaaaaaaa … kakak kangen banget,” Laura memeluk lelaki gagah yang datang dengan Claudia. Pria itu bernama Anjasmara Kesuma, suami Claudia. Pria asal Bandung yang juga seorang sarjana hukum dari Belanda. Tapi lebih menekuni bidang bisnis. Seorang CEO dari sebuah perusahaan cukup besar di Jakarta.
“Masa masih kangen ama pria tua ini, kalau disebelahnya udah ada yang selalu meluk?” goda Anjas sang papa.
“Ah iya lupaaaa. Mama, Papa kenalin ini Abangnya Laura. Dia dokter anak,” Laura jelas memperkenalkaan Syahrul sebagai abangnya.
“Bang, ini mama dan papaku,” Laura menggamit lengan Syahrul dan tangannya tetap bergayut disana. Dia memberitahu kalau Syahrul adalah milik nya.
“Selamat pagi Tante, Om,” Syahrul menyapa calon mertuanya dengan hormat.
“Panggil mama enggak apa-apa kali ya Pa?” goda Claudia. Claudia senang Laura bisa kembali membuka hatinya pada seorang pria. Dia sudah tahu hubungan tak pasti antara Syahrul dan Laura dari kakak iparnya. Tapi tak pernah berani bertanya pada putrinya karena takut Laura belum siap terbuka padanya.
“Papa rasa bagusnya seperti itu,” sahut Anjas dengan tersenyum.
“Bang, kata mama dan papa panggilnya jangan tante dan om,” Laura berbisik pada Syahrul. Dan lelaki itu membeliakkan matanya seakan tak percaya. Dia melihat Laura yang mengangguk dan tersenyum manis padanya.
Mereka akhirnya bercerita tentang kasus yang Laura hadapi. Kedatangan Claudia dan Anjas tentu akan merupakan psywar atau mental stress bagi Seruni Baharsyah.
“Selamat pagi bu Seruni,” Claudia segera berdiri dan mencegat Seruni yang baru saja tiba dengan seorang asistennya. Seruni bingung siapa perempuan didepannya yang sepertinya wajahnya tak asing.
“Selamat berperang dengan putri kami,” Anjas melengkapi kata-kata Claudia. Kata-kata Anjas langsung membuat Seruni terdiam. Sekarang dia tahu perempuan didepannya adalah Claudia Steffany Hopmans istri dari Anjasmara Kesuma. Orang tua Laura.
“Selamat pagi Bu, Pak. Maaf saya langsung masuk saja,” Seruni tak berani untuk tetap berdiri disana.
Akhirnya sidang akan segera dimulai. Laura dan semua yang berkaitan dengan perkara ini dipersilakan masuk sambil menunggu kedatangan para hakim. Laura memberi salim pada kedua orang tuanya. Anjas mencium lama kening putrinya.
“Papa tahu kamu tak butuh kami dampingi dalam menanggulangi perkara. Kami datang sebagai orang tuamu,” bisik Anjas.
“Mom love you. Jangan pernah gentar,” Claudia memberi semangat pada putrinya.
“Kamu enggak sendirian Babe, ada mama, papa dan Abang yang akan selalu support kamu,” Syahrul membalas pelukkan yang Laura berikan terlebih dahulu. Dia tahu kekasihnya sedang butuh dukungan darinya.
‘Sekarang aku sudah bisa sebut dia kekasih ‘kan?’
Laura duduk dikursi khusus untuk saksi korban. Dia meletakkan tas mahal miliknya di lantai. Dan dia mulai menyalakan laptopnya. Dia juga sudah menyiapkan sebuah flash disk yang akan dia berikan bila hakim meminta. Kecuali hakim bisa menerima video melalui email.
Didekatnya duduk Adnan dan Toha sebagai saksi yang menerima aduan Laura dan juga eksekutor penangkapan Laras. Kedua duduk dengan wibawa. Mengenakan seragam polisi yang membuatnya semakin gagah.
“Mau buka file apa?” bisik Adnan tepat ditelinga Laura. Hakim belum masuk ruang persidangan sehingga mereka masih bisa saling bisik. Dia bingung buat apa Laura membawa laptop.
“Kemarin pengacara pelaku mau minta damai dan dia menawarkan uang suap,” jawab Laura juga sambil berbisik.
***
“Aku berangkat ya Honey,” Ilyas pamit pada Namira. Pagi ini dia akan pergi ke Jakarta mengikuti seminar selama tiga hari. Dia berangkat dengan teman satu team yang ditugaskan dari rumah sakit.
“Kamu enggak bilang satu team dengan Adinda,” Namira berbisik pada Ilyas. Saat ini mereka sedang di lobby rumah sakit. Menunggu dua orang dokter lagi yang akan berangkat bersama ke Jakarta. Mereka perwakilan dari rumah sakit tempat ilyas bekerja
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : MPHOON
Judul cerita : KEIKHLASAN HATI SEORANG ISTRI
Cerita singkatnya seperti ini :
Blurb :
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya Suci berdoa dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan dan memiliki solusinya sendiri.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?