TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
UMUR UDAH KARATAN



Haaaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii


Sehat selalu ya, ini update kedua hari ini. semoga semua suka.


“Iya Nduk, malam ini akan Paklek beli biar bisa langsung diatur rumahnya. Paklek udah enggak bisa bilang apa-apa lagi. Segini banyaknya kamu belanjain Paklek,” Suparman benar-benar bersyukur Wulan akan berjodoh dengan August.


Wulan pamit dan dia segera pulang ke panti.


‘Semua sudah selesai dibeli, sekarang aku lagi jalan ke panti,’ Wulan mengirim chat pad August. Dia naik taxi karena tak mau terlalu lelah.


“Kamu dimana sweety?” tanya August langsung menghubungi melalui telepon.


“Di taxi Mas, lagi menuju panti,” sahut Wulan. Untung bener naik taxi. Kalau diangkot August bisa marah karena seharian ini dia banyak beraktivitas.


“Tadi surat pengantar nikah dari sini sudah selesai Yank, tinggal kita ajukan ditempatmu. Kamu sudah foto?” tanya August.


“Astagfirullah aku lupa Mas. Besok aku foto. Mas ingetin aku lagi ya,” sahut Wulan. Keasyikan belanja barang untuk pamannya dia jadi lupa harus bikin pas foto.


“Mas, tadi pagi bu Laura ukur badanku. Katanya Mas minta bikinkan baju untuk akad nikah kita. Apa benar?” tanya Wulan.


“Iya sweety. Kemarin Mas sudah ukur. Dia bilang siang ini bakal langsung dia buatkan. Bahan dan model sudah dia yang siapkan. Dia bilang hari Jumat besok sudah selesai karena untuk Mas dia buatkan special katanya.” sahut August.


“Pantas tadi pagi dia bilang siang ini langsung dibikin,” jawab Wulan. Sebelum berangkat kuliah memang Karni memberitahu dia dipanggil ke ruang bu Laura segera.


“Ya sudah, istirahat ya. Love you Sweety,” August memutus telepon karena ada Yudha datang. Sejak kemarin dia lebih sering menyebut Wulan dengan sweety daripada dengan honey.


Hari ini August akan dinas. Dia meminta Yudha mengantarnya ke bandara. Dan nanti Sabtu subuh menjemputnya lagi langsung mengantar ke Bandung. Karena Sabtu dia akan mencari cincin dan keperluan serah-serahan. Dia juga akan mencari rumah makan untuk di booking saat acara lamarannya. Dia juga akan membooking masjid untuk acara akad nikahnya. Dia akan mencari rumah tinggal bagi dirinya dan Wulan. Dan banyak lagi yang ingin dia kerjakan.


‘Yud, tolong bawa koper-koperku,” August menunjuk tiga koper besar dan sebuah koper dinas untuk di masukkan Yudha ke mobilnya.


August sudah membuat surat ijin cuti menikah yang hari ini akan dia serahkan pada Paulus. Dia akan cuti mulai minggu depan. Karena sehabis turun dinas dia punya libur.


“Team untuk akad sudah ready ya?” tanya August saat mereka sedang dalam perjalanan ke bandara Soeta.


“Team akad sudah Bos. Kalau  buat lamaran hanya saya dan Farhan yang berangkat bareng mami dan papi ‘kan?” Yudha bertanya untuk memastikan.


“Iya, lamaran enggak usah pakai team lengkap. Asal ada dokumentasi aja,” balas August.


“Minggu malam Senin kalian nginap dirumah aja. Biar mami dan papi enggak senewen. Nanti aku kasih tahu alamat menginap di Bandungnya. Semoga aku sudah dapat rumah tinggal. Kalau enggak ya nanti aku bookingkan kamar hotel buat kalian,” jelas August.


***


“Lu edan apa gila? Tau-tau ambil cuti nikah,” Paulus tak percaya melihat surat yang August ajukan.


“Gercep, umur udah karatan,” sahut August santai. Tanpa menunggu ACC, August meninggalkan ruang HRD dan bersiap untuk terbang.


***


Claudia dan Anjas menemani Ganis kakak mereka jalan pagi. Hari ini mereka tak punya agenda keluar rumah. Hari Senin mereka ke persidangan, Selasa jalan dengan Nazwa dan Fahri, maka niatnya hari Rabu ini mereka akan dirumah saja karena besok mereka akan hadir kembali ke persidangan lalu selesai sidang dan makan siang mereka akan langsung pulang ke Jakarta kembali.


“Kasihan ya kalau sampai seperti itu,” Claudia menyela cerita iparnya tentang Syahrul.


“Itulah. Dia terlalu sabar. Tapi saat Nazwa kabur, dia terluka. Lalu dia labrak perempuan itu,” sahut Ganis.


“Anak-anak juga sangat dekat dengan Kakak ya,” Anjas memberi penilaian hubungan anak perempuannya dengan dua anak Syahrul.


“Kalau mereka menikah dan Kakak pindah ikut Syahrul gimana Teh?’ tanya Anjas.


“Mau bagaimana lagi? Memang sudah seharusnya istri ikut suami. Teteh mah enggak akan ngeberatin,” jawab wak Ganis bijaksana.


“Mama mah yakin Kakak akan mengajak Syahrul pindah. Bukan dia yang keluar dari rumah Teteh,” Claudia mempunyai pemikiran sendiri.


“Papa juga mikir begitu. Tapi ‘kan kita harus berpikir kemungkinan terburuk,” sahut Anjas.


***


Sejak kemarin dan hari ini Laura ke Bandung untuk memantau kegiatan butiknya. Karena Senin dan Kamis dia sedang sibuk ke pengadilan. Kemarin baju untuk akad nikah August dan Wulan,  sudah Laura serahkan bahan dan designnya pada penjahit untuk dieksekusi. Kalau pesanan khusus, dia bisa pastikan selesai dalam 48 jam. Jadi nanti hari Jumat baju untuk Akad nikah August sudah bisa dia serahkan. Baju itu akan sengaja dia berikan gratis sebagai hadiah bagi pernikahan Wulan dan August.


“Baju akad yang kemarin, begitu fix selesai tolong langsung di packing mewah ya, itu hadiah pernikahan,” pesan Laura.


“Jumat antar ke panti saja,” perintahnya lagi. Lalu dia mulai memeriksa pekerjaan para pegawainya di bagian produksi.


“Baik Bu. Atas nama siapa di surat jalannya?”


“Nama saya saja,” balas Laura.


Sesudah itu Laura bergegas pulang ke Cimahi. Dia ingin makan siang dengan kedua orang tuanya.


***


“Bunda, kenapa Ayah lama pulangnya?” tanya Nindi.


“Kan Teteh sudah tahu Ayah pulang hari Rabu. Jadi baru hari ini pulangnya,” sahut Namira ketika mengantar Nindi sekolah.


“Ayah bawa oleh-oleh apa ya?” Nindi mencoba menebak apa yang akan Ilyas berikan padanya.


“Enggak boleh berharap seperti itu. Ayah pergi kerja. Enggak sempat beli oleh-oleh,” Namira tentu langsung memperingatkan Nindi agar tidak berharap. Dia tak ingin Nindi kecewa.


“Tapi kemaren Ayah janji akan bawakan ice cream,” balas Nindi. Ilyas memang selalu menyempatkan menghubungi Nindi dan Ilham dengan video call. Dia tak bisa tidur bila belum melihat Ilham. Dan saat Ilyas ngobrol dengan Nindi dia berjanji akan membawakan oleh-oleh ice cream untuk putri sulungnya itu.


“Ya, kalau ice cream Ayah enggak akan lupa, pasti dia bawakan,” jawab Namira. Dia akan mengingatkan Ilyas membeli ice cream sebelum pulang nanti.


Setelah Nindi turun Namira langsung berbelanja kebutuhan masak harian dan juga kebutuhan kue usahanya. Dia juga membeli mika karena stock mika dirumah sisa sedikit.


‘Honey, siang jemput aku ya, habis sarapan dan ramah tamah kami akan meluncur pulang ke Bandung,’ chat yang Ilyas sejak tadi belum dibaca Namira. Dia sedang sibuk berbelanja.


‘Maaf baru buka ponsel. Aku bisanya habis jemput Nindi. Mau tetap dijemput atau naik taxi aja?’ tanya Namira. Dia bingung bila harus menjemput Ilyas bersamaan dengan waktu menjemput Nindi pulang sekolah.


\==========================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta