
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\======================================
‘Bagaimana aku harus menjelaskan padamu bila kamu memblokir nomorku?’
Aku harus bertanya pada Nazwa tentang Laura. Bagaimana bisa Laura malam-malam masih di Dago? Tapi masalahnya Nazwa putriku sedang tutup mulut. Dan aku yakin gadis kecilku akan semakin menjauh dariku sejak dia tahu Faiza datang ke rumah ini. Aku makin pusing. Kucoba mencari cara untuk segera mengakhiri serangan Faiza. Ku cari akun sosial medianya. Banyak nama serupa. Kucari dengan teliti nama itu dengan foto profilnya.
Bingo!!!
Akhirnya aku dapat akun yang aku cari. Aku ingin tahu apa saja kerjanya dan bagaimana gaya hidupnya. Karena saat ibuku mengenalkan bio datanya disebutkan dia sarjana pendidikan, seorang guru taman kanak-kanak tapi sengaja datang ke Bandung karena akan diperkenalkan denganku.
Kutelusuri media sosial Faiza, dalam bio datanya ditulis dia sejak 4 tahun lalu sudah tinggal di Bandung, bukan baru datang dari Payakumbuh seperti yang ibuku dan perempuan itu katakan. Dia lulusan SMK ekonomi bukan dari perguruan tinggi dan banyak foto saat dia sedang hamil dan fotonya dengan seorang bayi sampai bayi itu berusia 1 tahun. Tak ada foto ayah si bayi. Hanya ada postingan yang menyatakan kalau dia baru saja bercerai. ‘Bebas sudah dari ikatan ini,’ begitu tulisan yang aku baca sambil memperlihatkan foto cincin yang tidak dipakai di samping sebuah tangan. Cincin yang tidak dipakai dengan kata-kata itu jelas kalau pernikahannya sudah usai.
Alhamdulillah aku mendapat bukti kalau aku dibohongi oleh ibu tiriku dan Faiza. Dia bukan seorang gadis apalagi guru TK. Tak ada jiwa pendidik dan welas asih seperti seorang guru pada umumnya. Apalagi guru taman kanak-kanak yang butuh ekstra kesabaran. Semua itu aku buat screen shoot sebagai bukti. Ternyata Faiza adalah masih kerabat jauh ibu tiriku. Aku yakin mereka bermaksud mengeruk keuntungan dariku seperti ibu tiriku yang menjebak ayahku menikahinya. Untung ayah sejak dulu setiap membeli rumah, tanah dan mobil selalu diatas namakan almarhum ibuku. Jadi sebelum ayah meninggal semua langsung diberikan pada kami anak-anak ibu kandungku. Ibu tiriku hanya mendapat sebuah motor dan sebuah rumah type 21 yang ayah belikan sebagai mas kawin saat mereka menikah.
Sebenarnya aku tak peduli soal Faiza masih gadis atau bukan, asal jangan ditipu! Toh diriku juga sudah duda. Aku juga tak peduli dengan masalah pendidikkan. Sekali lagi aku hanya tak suka bila ditipu.
***
Pagi ini sebelum berangkat ke rumah sakit, aku print semua screen shoot yang aku dapatkan dari media sosial Faiza. Aku tulis surat pada ibuku untuk meminta Faiza menjauh dariku atau aku akan mengadukan ibuku pada semua saudaraku kalau dia dan Faiza berniat menipuku. Di adat kampungku kalau sampai terlihat kejelekan di keluarga besar tentu akan sangat menakutkan. Aku akan kirim semua itu menggunakan ekspedisi kilat sehari sampai.
Sebelum berangkat aku cek kondisi Nazwa, suhunya sudah kembali normal tapi dia masih tidur, aku biarkan dia tidak sekolah hari ini. Jagoanku sudah siap dengan seragamnya di meja makan. Kami sarapan dan bergegas berangkat. Aku memang selalu mengantar anak-anak setiap pagi.
Syahrul pov end
***
“Assalamu’alaykum,” Laura mengucap salam begitu memasuki rumah uwak Ganis yang sudah menjadi rumah tinggalnya pula.
“Wa’alaykum salam,” jawab bik Sanah dan wak Ganis.
“Neng, ada Nazwa di kamarmu. Sepertinya dia kabur dari rumah. Dia bawa ransel besar,” uwak Ganis langsung berbisik pada Laura.
“Astagfirullaaaah. Tolong kasih tau semua, jangan katakan kalau Nazwa ada di sini kalau ada yang cari dia. Bik Sanah, langsung bisiki semua di panti ya. Termasuk mang Soleh satpam yang baru.” Laura tentu ingin agar Nazwa bisa tenang dulu sebelum bertemu Syahrul. Dia harus tahu dulu alasan Nazwa dan alasan Syahrul. Dia tak ingin berat sebelah. Laura bergegas masuk kamarnya setelah minta mang Asep menurunkan belanjaannya dari mobil.
***
Sementara itu di Bandung Syahrul sedang kalang kabut karena baru saja maid di rumahnya memberitahu Nazwa tak ada di kamarnya. Sang maid baru tahu saat mengantarkan snack sore. Karena saat mengantar makan siang sang maid melihat Nazwa sedang tidur, maka makanan hanya diletakkan di meja samping ranjang. Saat sore sang maid hendak membangunkan ternyata Nazwa sudah tak ada di kamar. Berulang kali Syahrul menghubungi ponsel Nazwa tapi nomor gadis itu tak bisa dia hubungi.
‘Apa kamu juga memblokir nomor Daddy?’ Syahrul melihat bahkan pesannya saja tak bisa masuk ke nomor Nazwa dan profil Nazwa tidak bisa dilihatnya. Fix! Ternyata anak gadisnya juga memblokirnya. Semua gara-gara ibu tirinya dan Faiza perempuan sial_an itu. Anak-anaknya menjauh darinya. Tadi pagi juga Fahri sama sekali tak mau bicara apa pun dengannya sejak Faiza datang ke rumahnya. Syahrul baru menyadari saat dia bertanya pada putranya dan sang Putra tak menjawabnya. Sampai turun di sekolah, Fahri hanya salim tanpa mengucap salam padanya. Sakit! Itu yang dia rasa tadi pagi melihat kelakuan Fahri. Sekarang sakitnya bertambah dengan kepergian Nazwa.
Syahrul terpuruk. 4 tahun dia hidup hanya untuk anak-anaknya, sekarang mereka menjauh hanya karena kedatangan Faiza. Dia sangat tidak rela. Sejak dulu tak pernah dia ingin berumah tangga lagi karena memikirkan anak-anaknya. Saat dia mulai mencintai Laura pun awalnya dia ragu. Tapi keraguan itu sirna saat melihat hanya pada Laura anak-anaknya membuka hati. Itu sebabnya dia berjanji akan setia menunggu Laura menerima cintanya.
Sekarang Syahrul sedang di sekolah Nazwa untuk mencari info nomor telepon teman-teman anaknya. Syahrul menghubungi semua teman-teman Nazwa. Semua nihil. Tak ada yang tahu ke mana Nazwa. Dan tak ada yang dihubungi oleh Nazwa sejak 2 hari lalu sebelum dia tidak masuk sekolah karena demam. ‘Kamu ke mana Kak? Kamu belum pulih,’ Syahrul sedih memikirkan putrinya yang sedang tak sehat malah pergi dari rumah.
Syahrul pulang, dia ingin mencari info dari Fahri. Mungkin anak bungsunya tahu ke mana sang kakak pergi.
“Enggak tahu,” hanya itu jawaban yang didapat Syahrul dari Fahri. Atau “Enggak bilang.” lelaki kecil itu juga tidak mau bicara apa pun. Dilihatnya Fahri sedang memakan puding coklat yang dia tahu kata maid itu Laura yang bikin.
‘Ah Laura… ya betul, mungkin Nazwa ke rumah mommynya,’ Syahrul langsung mengambil kunci mobilnya. Dia merasa mendapat titik terang. Selain Laura tak ada yang dekat dengan Nazwa. Hanya perempuan itu yang bisa membuat putrinya membuka mulut. Dia berharap bisa menemukan putri kecilnya dalam dekapan hangat perempuan yang juga dia cintai.