TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
DIA DIAM SAJA, APA DIA CEMBURU?



“Abang pesan seperti biasa? Atau mau pesan yang lain?” tanya Laura saat Syahrul datang ke meja mereka dan Laura sedang memesan menu yang ingin dia makan. Tentu saja Laura sudah hafal menu yang biasa Syahrul makan di sini. Karena mereka sudah beberapa kali makan bersama di cafe ini.


“Kali ini makannya Abang samain ama pesananmu aja, hanya beda di minumnya. Cappuccino ice.”


“Abang jangan nengok, di belakang Abang di angka 1 ada Ilyas. Tadi Abang ngelewatin, enggak nyapa dia,” Laura memberi tahu keberadaan dokter ilyas pada Syahrul.


“Abang enggak lihat. Kalau lihat pasti Abang sapa,” jawab Syahrul. “Jadi kamu sekarang tatap-tatapan dong sama dia,” goda Syahrul.


“Ih, siapa yang pandang-pandangan. Dia ‘kan duduknya enggak menghadap aku. Tapi ke arah samping,” balas Laura.


“Setidaknya dia melirik ke sini terus ‘kan?”


“Au ah.” Laura dan Syahrul makan dalam diam, kalau pun bicara hanya tentang apa yang mereka makan saja.


“Wah kencan nih!” dokter Ilyas menghampiri meja Laura yang masih saja saling diam.


“Hai Yas, kamu yang kencan kali, aku lihat tadi pasanganmu. Sudah selesai makannya?” tanya Syahrul sambil berbalik mencari teman kencan ilyas.


“Enggak kencan, aku sedang makan sendirian lalu dia menghampiri,” ilyas berupaya membela diri. Dia tak ingin Laura salah tanggap dan makin sulit dia gapai. “Kalian malah ‘kan yang kencan,” tuduh ilyas.


“Aku dari gra-media mencari buku anakku dan lapar ingin makan, pas parkir koq ketemu ama neng cantik ini, jadi aku minta dia duduk denganku,” jawab Syahrul santai. Sedang Laura tak perlu merinci apa kegiatannya di Bandung, karena semua tahu dia punya butik yang dia kunjungi secara berkala.


‘Dia diam saja, apa dia cemburu pada Santi? Apa dia marah padaku? Kalau dia cemburu, artinya dia mencintaiku ‘kan?’ Ilyas memandang Laura yang diam tanpa ekspresi. “Saya duluan ya,” tak enak mengganggu, Ilyas segera pamit pada Syahrul dan Laura.


Laura meletakkan sendok dan garpunya dengan posisi terbalik menandakan dia sudah selesai makan. Syahrul sejak tadi sudah selesai. “Silakan, Abang mau bicara apa?”


“Apa maksud perkataanmu tadi? ‘Aku takut Abang berharap terlalu dalam. Aku takut membuat Nazwa kecewa. Aku belum siap, jadi aku mohon Abang bisa menjauh’. tolong jelaskan.”


Laura menghela napas panjang. “Itu berkaitan dengan pernyataan dan permintaan Abang, berkaitan dengan harapan Nazwa di ulang tahunnya dua bulan lalu. Aku belum siap membuka hati. Mohon maaf,” lirih Laura menerangkan apa maksud kalimat yang dia ucapkan di super market tadi.


“Kamu bilang belum siap membuka hati. Apa Abang bisa berharap, ketika nanti kamu mulai membuka hati, kamu membukanya untuk Abang dan anak-anak? Atau kamu memang tak mau membuka hati untukku karena aku duda dengan dua anak yang sudah ABG?” desak Syahrul.


“Stop Bang, sejak awal aku sudah bilang, aku tak pernah peduli tentang status dudamu. Aku tak keberatan. Tapi jujur aku memang belum berniat untuk menjalin ikatan dengan siapa pun.”


Agak lama terdiam, lalu Laura melanjutkan kalimatnya. “Tapi aku juga tidak bisa menjanjikan bila waktunya tiba aku akan langsung menerimamu. Aku belum tahu bila tiba-tiba Allah mengirim seseorang yang bisa langsung membuatku untuk melakukan hubungan yang lebih serius dengannya. Yang pasti saat ini aku belum ingin berkomitmen. Aku minta izin akan terus menjalin hubungan dengan Nazwa sebagai teman dialognya, sebagai teman curhatnya. Tapi aku tak akan menjanjikan untuk menjadi sesuai keinginananya. Itu yang akan aku katakan pada Nazwa lusa. Karena aku dan dia janjian sehabis dia les bahasa inggris.”


Syahrul diam sambil lekat memandang wajah manis Laura. “Intinya, kamu enggak nolak Abang, tapi juga belum nerima dan enggak menjanjikan bakal nerima Abang. Gitu ‘kan?”


“Abang jangan desak gitu. Aku bingung,” keluh Laura.


Laura bingung. Dengan Ilyas dia bisa langsung berkata, tak bisa menerima. Namun dengan Syahrul dia selalu ragu ‘tuk menolak. Dia merasa nyaman dengan sang duda ini. Dia juga sangat sayang pada putri sulung Syahrul yang saat ini sudah kelas 1 SMP di usianya yang ke 11 tahun. “Kalau Abang ada pandangan lain, silakan, aku enggak akan marah, karena aku belum bisa menjalin hubungan lagi. Jangan marah atau kecewa. Jujur aku nyaman dengan Abang, tapi aku ragu untuk melangkah. Kalau Abang enggak bisa ngertiin aku, ya silakan aja. Yang pasti saat ini aku belum siap,” dengan berat hati Laura memberikan pendapatnya pada Syahrul.


“Nyaman … apa itu artinya kamu sayang ke Abang?” Syahrul menaruh harapan pada kata-kata Laura.


Laura bingung didesak Syahrul. ‘Apa aku sayang dirinya? Apa perasaan nyaman yang aku rasakan adalah pertanda rasa sayangku? Apa dia bisa mengisi ruang kosong yang ditinggal Tommy?’


***


Nazwa dan Laura bertemu usai gadis pra remaja itu selesai les bahasa inggris. Mereka janjian di kedai ice cream yang dekat dengan tempat les Nazwa.


“Sudah selesai?” tanya Laura saat putri sulung Syahrul salim mencium punggung tangannya.


“Baru Mom, Mommy sudah lama nunggu di sini?” tanya Nazwa. Nazwa menyebut Laura dengan panggilan Mommy mengikuti para bayi di panti. Memang bila Syahrul mendapat waktu tugas hari libur sekolah, dokter itu membawa kedua anaknya agar tahu banyak bayi tak beruntung dibanding diri mereka.


“Belum, bahkan Mommy belum sempat pesan ice. Kamu mau apa? Seperti biasa porsi jumbo rasa vanilla dan strawberry? Atau rasa lain?”


“Kali ini aku pengen vanilla dan coklat aja Mom, dan jangan yang jumbo. Medium aja,” jawab Nazwa.


Sambil menikmati ice cream mereka asyik bercerita, lebih tepatnya Nazwa sibuk bercerita dan Laura setia mendengarkan. Sesekali dia memberi komentar. Memang peran Laura adalah pendengar. Dia tak ingin Nazwa merasa tak punya teman curhat.


“Mommy minta, kamu akan selalu seperti ini ya? Kita akan selalu sering bertemu dan saling menyayangi walau Mommy tidak menjadi real mommy seperti keinginanmu di pesta ulang tahunmu.” Laura berpesan saat mereka akan pulang dan berpisah. Nazwa akan pulang dengan sopirnya yang sejak tadi menunggu di mobil.


“Apa Mommy tidak sayang Naz sehingga tak mau terima Daddy?” Nazwa mulai terisak.


“Mommy menyayangimu. Sangat menyayangimu. Tapi belum tentu Mommy akan mendampingi Daddy. Jadi apa pun yang terjadi antara Mommy dengan Daddymu nantinya, kita akan tetap saling menyayangi seperti ini. Kapan pun kita mau bertemu, kita bisa janjian ketemu tanpa peduli dengan status Daddy nantinya,” dengan lembut Laura menerangkan kalimat itu pada anak yang masih labil ini. Dia peluk erat tubuh anak remaja itu dan memberinya kecupan di pipi, kening serta puncak kepalanya. Suatu hal yang tak pernah Nazwa dapatkan dari mama kandungnya. Karena sejak lahir memang sang mama tak suka mengurus anaknya.


“Promise?” tanya Nazwa memastikan.


\================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta