TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KENALKAN, INI SUAMIKU!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=====================================================================================


August menyimpan hadiah yang baru saja dia beli dan sudah dibungkus kertas kado. Dia simpan dalam ransel besar di bagasi belakang agar Wulan tak melihatnya. Dia langsung melajukan mobilnya ke kampus pujaan hati karena saat ini sudah pukul 11.30. dia tak ingin Wulan menunggunya lama. Sengaja dia belikan sussu coklat dingin dalam kemasan botol untuk Wulan.


‘Mas sudah di parkiran,’ chat manis dari August Wulan baca saat dia sudah selesai ujia mata kuliah kedua hari ini.


“Ning, aku pulang duluan ya,” Wulan pamit pada Kemuning yang baru keluar ruangan. Temannya itu lebih lama  keluar padahal bilang mata kuliah ini dia lebih siap.


“Oke, take care. Kebetulan hari ini aku akan kerumah keluarga ayahku karena nenekku kurang sehat,” sahut Kemuning.


Mereka jalan bersama kearena parkiran. “Wulan, tunggu… seorang pemuda memanggil Wulan dengan cukup keras. Wulan dan Kemuning membalik badan mereka melihat siapa yang memanggil Wulan.


“Mau apa kak Bagus memanggilku?” tanya Wulan pada Kemuning.


“Kan sudah aku bilang minggu lalu, dia suka ama kamu dan minta aku jadi comblang kalian. Tapi kamu bilang kamu enggak mau jadian ama dia. Terima ajalah. Dia famous, tajir, pintar. Apa lagi kurangnya?” jelas Kemuning.


Sesungguhnya Bagus masih saudara jauh Kemuning tapi Wulan tak tahu. Namanya Bagus Garundito, sepupu Kemuning dari garis ayahnya yang suku Jawa. Ibu Kemuning dari suku Sunda.


“Aku tak bisa menerima pria lain,” jawab Wulan pelan tapi Kemuning mendengar dengan jelas.


“Apa karena August yang pernah kamu kenalkan padaku itu?” tanya Kemuning penasaran.


Wulan mengangguk tegas karena Bagus sudah dekat dengan mereka.  ‘Ada perlu apa Kak?” tanya Wulan. Dia tak enak karena August sudah menunggunya.


“Pulang bareng aku yok. Aku antar kamu,” tanpa basa basi Bagus menawarkan diri mengantar Wulan.


“Aku sudah dijemput Kak,” jawab Wulan jujur.


“Biasanya ‘kan kamu pulang bareng Kemuning. Dan hari ini Nuning ada keperluan keluarga. Aku yakin kamu bohong,” Bagus ngotot ingin mengantar Wulan.


“Ning, ayok temani Kak Bagus sebentar. Kak Bagus ayok aku kenalkan dengan yang jemput aku,” Wulan bicara dengan Kemuning dan Bagus untuk bertemu August.


August yang sudah melihat Wulan dari jauh tentu menunggu perempuan itu diluar mobilnya. Dengan outfit yang menunjang penampilannya, kaca mata hitam di atas kepalanya membuat pilot itu tampil semakin memukau.


“Udah lama Mas?” Wulan sengaja mencium punggung tangan August didepan Kemuning dan Bagus.


‘Ada apa ini?’ pikir August melihat kelakuan Wulan yang tak biasa. Dia menarik tangan perempuan itu agar bisa lebih dekat dengan dirinya. Dia kecup kening Wulan dengan lembut dan lama.


“Mas Bagus dan kamu Ning. Sekali lagi aku kenalkan ini mas August SUAMIKU,” dengan pelan tapi jelas Wulan mengenalkan Augus sebagai suaminya.


Kemuning kaget. Dia baru tahu Wulan sudah memiliki suami. Lalu mengapa selama ini dia bilang tinggal di panti asuhan?


Sementara Bagus seperti kehilangan tulang sehingga tubuhnya lemarh seperti agar-agar.


‘Suami?’ pikir Kemuning dan Bagus bingung.


“Hai, temannya Wulan?” tanya August. Dia mengerti alasan Wulan berlaku aneh barusan. Dia yakin pemuda ini ada maksud pada calon istrinya. Tapi August tenang. Dia senang kalau Wulan sudah memproklamirkan diri kalau perempuan itu sudah menikah.


“August.”


“Kami pulang duluan ya Ning, kak Bagus,” Wulan langsung pamit pada Bagus dan Kemuning yang masih terbengong mengetahui kenyataan pernikahan Wulan.


“Iya Lan, sampai ketemu besok,” sahut Kemining. Perempuan itu langsung menarik Bagus menjauh dari mobil August.


***


“Kamu bagaimana tho Mbak, masa enggak bilangin aku kalau dia sudah menikah?” Bagus keqi pada Nuning yang dia biasa panggil Mbak. Walau dia lebih tua dua tahun, tapi dalam urutan keluarga, status  Kemuning lebih tua sehingga dia harus memanggilnya dengan sebutan Mbak.


“Aku juga baru tahu tentang status menikahnya Dek. Selama ini aku tahu dia sering dijemput oleh Mas August itu. Tapi enggak ngenalin kalau itu suaminya,” jawab Kemuning tak mau disalahkan oleh adik sepupunya itu.


“Sedih aku Mbak,” sahut Bagus. Selama ini banyak gadis cantik yang malah mengejar cintanya. Tapi Bagus meragukan ketulusan mereka. Masalahnya dia adalah pewaris tunggal usaha ibu dan ayahnya. Persis sama dengan Kemuning. Mereka sama-sama anak tunggal. Perempuan itu biasanya suka pada kemapanan finansial yang dia miliki.


***


August dan Wulan makan siang di kedai bakso. Wulan sedang tak ingin makan nasi. Dia sengaja minta makan bakso pada August. Sampai saat ini Wulan belum bercerita tentang Bagus dan August sengaja menunggu kejujuran Wulan.


“Mas mau pakai mie?” tanya Wulan.


“Mas minta mie ayam dan bakso. Jangan mie buat bakso,” sahut August. Mie buat mie ayam memang beda dengan mie buat bakso ya.


Wulan memesan dua mangkok bakso kuah dan satu mangkok mie ayam tanpa kuah. Minumnya dia pesan dua juice sirsak.


“Habis makan kamu istirahat di rumah kita aja ya? Mas ke KUA. Mas enggak pengen kamu cape. Kalau Mas antar kamu ke panti, kamu pasti enggak istirahat,” August tahu kasur milik mereka sudah sampai sejak jam sembilan tadi pagi. Dan jam sebelas tadi kordeyn sudah rapih terpasang.


“Ikut ke KUA aja lah Mas. Kan Mas juga enggak lama apalagi nginap di KUA,” balas Wulan. Dia tak ingin hanya berdua dengan Yudha.


“Kenapa enggak pengen makan nasi?” tanya August.


“Lagi pengen yang panas pedes aja,” jawab Wulan santai.


“Eh Yank, kita harus beli isi dapur lho. Tadi Yudha sudah beli air tiga galon dan satu tabung gas besar sama satu tabung gas kecil serta beberapa sachet kopi. Tapi beras dan segala bumbu dapur juga isi kulkas kan masih kosong,” August kembali lapor pada calon nyonya rumah.


“Hari ini bisa ‘kan kita belanja sehabis urus pendaftaran di KUA?” jawab Wulan.


“Enggak … kamu enggak boleh cape. Mana kamu lagi ujuian,” jawab August.


“Cuma hari ini aja ada test, hari-hari besok enggak. Belum mulai mid test koq,” sahut Wulan.


“Besok kamu pulang jam berapa? Besok aja gimana?” balas August sambil menyudahi makan mie nya.


“Besok aku kuliah siang mulai jam sepuluh sampai jam 2,” jawab Wulan.


“Wah kalau belanja pagi nanggung ya. Ya sudah kita belanja sore aja. Pagi kamu di panti aja ya?” balas August.


“Lagian Mas bukannya pagi nemani mami? Apa mereka nanti malam langsung pulang?” tanya Wulan.


“Mereka pulang sehabis sarapan besok. Mas enggak kasih mereka pulang malam ini. Yang nyupir ‘kan cape jadi fotografer sama Yudha.” August menerangkan larangan kedua orang tuanya pulang malam ini.


Sehabis makan mereka langsung menuju KUA guna mendaftarkan akad nikah yang akan diselenggarakan satu minggu lagi.