
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\==================================================================
“Apa Ilham sudah kamu daftarkan ke posyandu?” tanya Ilyas pagi ini sebelum dia berangkat ke rumah sakit dan Namira mengantar Nindi sekolah.
“Sudah Den, hari Jumat kemarin saat jadwal posyandu di RT sini,” balas Namira.
“Ya sudah. Bik, saya berangkat ya,” seperti biasa Ilyas mencium Ilham dengan gemas. Setiap pagi Ilham memang sedang dalam gendongan bibik Iyah, sehingga Ilyas bisa menciumi dengan bebas. Kalau sedang digendong Namira tentu dia tak berani mendekati bayi gembul itu.
“Salim Ayah, Ayah mau berangkat kerja dulu,” Ilyas menyodorkan tangannya pada Ilham lalu dia yang mengatur agar bayi gembul itu mencium tangannya. Dia membiasakan Ilham memanggil ayah padanya. “Pinteeeeernya anak Ayah,” kembali Ilyas menciumi pipi ilham.
“Paman …, salim,” Nindi berlari menghampiri Ilyas yang akan masuk ke mobilnya.
“Anak cantik, belajar yang rajin ya?” Ilyas mencium kening dan puncak kepala Nindi setelah gadis itu mencium punggung tangannya.
“Iya Paman,” balas Nindi.
“Cium Ayah dulu,” pinta Ilyas sambil menundukkan kepalanya. Gadis kecil ini mencium pipi ilyas dengan senang dan Ilyas membalas dengan memeluknya erat. Ilyas berangkat kerja dengan semangat karena mendapat dekap dan cium dari kedua “anak-anaknya”.
Rupanya hari ini jadwal Ilyas adalah ke panti asuhan milik Laura. Dia sudah tak merasa ada sesuatu yang special di sana sejak mengikhlaskan diri mundur mengejar gadis yang sudah berkali-kali menolak cintanya. ‘Assalamu’alaykum,” dengan riang Ilyas memberi salam pada pengurus panti yang ditemuinya. Dia memasuki ruang dokter di dalam panti dan membaca selintas buku besar tentang penghuni panti. Kemudian Ilyas bergegas menuju kamar para penghuni panti.
“Selamat pagi ibu Boss,” sapa Ilyas ramah pada Laura yang baru saja akan masuk ke ruangan miliknya.
“Met pagi dokter ganteng!” balas Laura hangat. Memang seperti inilah mereka sebelum Ilyas mengejar cinta Laura. Setelah debat panjang akhirnya mereka kembali lagi dititik nyaman ini. Titik di mana mereka bersikap sebagai rekan kerja. Tak lebih! Lalu mereka mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Ibu memanggil saya?” tanya Wulan saat dia sudah dipersilakan masuk ke ruangan Laura. Tadi di dapur bik Sanah menyampaikan pesan kalau dia diminta untuk menghadap Laura.
“Iya, duduk,” perintah Laura. Dia ingin bicara dari hati ke hati dengan siswa berprestasi ini. “Bagaimana perkembangan sekolahmu?” tanya Laura to the poin.
“Semua persyaratan ujian sudah saya selesaikan. Semua pembayaran sudah saya lunasi. Tinggal mengikuti ujian di minggu depan. Selesai penantian saya!” jawab Wulandari dengan jujur.
“Apa kamu pernah mengisi permohonan beasiswa pada yayasan atau lembaga pendidikan?” tanya Laura.
“Permohonan beasiswa sudah saya ajukan sebelum saya hamil Bu. Saya tidak tahu diterima atau tidak. Tapi bukankah mahasiswa beasiswa tak boleh hamil atau menikah?” Wulan masih ragu kalau setingkat mahasiswa boleh mempunya suami atau menikah dan hamil.
“Kalau boleh Ibu tahu, bidang apa yang dulu kamu isi untuk jalur beasiswamu?” selidik Laura.
“Ada fakultas hukum tapi ada juga kebidanan dan kedokteran. Tapi yang kedokteran akhirnya saya tarik karena saya merasa tak akan sanggup memenuhi biaya hariannya. Jadi sekarang hanya kebidanan dan hukum saja Bu,” balas Wulan.
“Apa kamu yakin, kamu akan mendapatkan beasiswa itu?” Laura mencoba mengukur seberapa besar rasa percaya diri Wulan.
“Kalau untuk kesempatan, kepercayaan diri saya, saya yakin akan diterima. Tapi melihat kondisi saya saat ini, saya bingung Bu,” jawab Wulan jujur.
“Saya beri kamu dukungan! Kamu fokus kuliah, dan soal perawatan bayimu kamu serahkan pada panti. Dia tak akan mungkin kami berikan pada orang lain. Dia tetap akan bersamamu. Ibu hanya minta kamu bisa berhasil meraih cita-citamu dan membuktikan pada anakmu kamu adalah ibu yang bisa dibanggakan!” Laura memberi tantangan pada Wulan. “Tapi ingat, bila kamu bermasalah dan ada kasus hukum, kami tidak akan membelamu.”
“Alhamdulillaaaaaaaaaah. Terima kasih Bu. Saya akan buktikan pada Ibu kalau saya serius. Saya akan terus berjuang demi masa depan anak saya,” janji Wulan. Nanti setelah dia lulus, dia akan jujur pada pakleknya tentang kehamilannya ini. Dia tak mau membocorkan sebelum dia lulus. Tak ingin ada orang mendengar paklek dan bibiknya ribut lalu tersebar tentang kehamilannya. Dia masih bersabar untuk menunggu waktu kelulusannya.
“Oke, saya pegang janjimu ya. Kalau ada kesulitan kamu jangan ragu bicara pada saya. Sekarang kamu boleh keluar,” Laura mencukupkan pembicaraan mereka kali ini.
“Terima kasih sekali lagi saya sampaikan atas kebaikan Ibu pada saya dan anak saya. Semoga Ibu mendapat ganjaran terbaik dari Allah atas kebaikan Ibu. Aaaaamiiiiiin,” Wulan langsung berdiri untuk keluar dari ruangan Laura.
‘Aaamiiiiiiiiiin,’ Laura menjawab dalam hatinya.
***
Pagi ini Julia mengirim paket pesanan pembelinya. Dia juga kembali belanja barang yang sudah menipis stocknya. Selain itu dia juga mengambil barang baru. ‘Wooooooi, ini tiap hari barangmu datang, lama-lama rumahku jadi gudang!’ protes kang Dade semalam. Akhirnya karena tak sabar Julia menghubungi kakak sepupunya secara langsung. Tidak dengan chat. “Besok dikirim aja semua Kang. Stock di rumah alhamdulillah sudah hampir habis,” beritahu Julia saat mereka sudah berbasa basi tanya kabar dan saling menyampaikan salam.
“Oke, besok Akang masuk siang. Sehingga pagi bisa menyatukan semua barangmu agar tidak ada yang tercecer. Barang yang datang besok dan yang baru kamu pesan, tidak Akang masukkan dipengiriman besok pagi ya,” balas Dade senang. Dia sangat menyayangi Julia, sehingga membantunya adalah bukti rasa sayangnya.
“Iya Kang. Itu juga alhamdulillah Akang mau ngebantu aku,” balas Julia penuh syukur. Itu yang Julia ingat percakapan semalam. Dia merekap semua pesanan lalu menempelkan kertas nama dan sudah lunas atau belum di barang yang masih ready. Dia pisahkan semua barang yang sudah dipesan dengan pembayaran luna ataau yang baru akan transfer. Dia memberi waktu 1 x 24 jam untuk pelunasan. Bila tak ada pembayaran dalam tempo 24 jam maka dia akan menjual barang tersebut pada pemesan lainnya.
“Eneng,” sapa seseorang saat Julia baru saja membuka pintu mobilnya di parkiran rumah sakit.
“Eh kak August, apa khabar?” tanya Julia ramah dengan senyum manisnya pada mantan tunangannya.
“Alhamdulillah baik. Kamu sakit? Atau mau besuk siapa?” tanya August penuh perhatian.
“Enggak, ini keponakan sakit. Kak August sendiri mau periksa?” tanya Julia sambil mereka berjalan bersisian.
“Mau besuk co pilot, kena radang usus,” jawab August. “Kamu sendiri? Boleh aku ikut nengok keponakanmu? Keponakan yang mana?” cecar August.
\=====================================================================