
Hari terakhir di Bangkok sudah rombongan tour lalui, malam ini mereka akan mengadakan acara perpisahan dengan belanja di pasar Asiatic. Dari Bangkok untuk sampai ke lokasi ini rombongan tour menaiki kapal kecil atau perahu. Pemandangan indah dan bangunan gedung tinggi di sisi sungai yang mereka lewati masih terlihat karena saat ini masih sore. Julia tentu tak lupa selalu membuat dokumentasi perjalanan wisatanya ini. Banyak teman yang Julia dapatkan dari sesama peserta tour kali ini. Ada 3 gadis yang ikut perjalanan ini juga sendirian seperti dirinya. Itu membuat mereka ber 4 segera akrab karena oleh biro perjalanan mereka dijadikan teman 1 kamar. 1 kamar berisi 2 orang peserta. Zelviana, ceweq tomboy domisil di Bekasi, Riska si pemalu yang kerja di Bank dan baru patah hati tinggal di ujung Selatan Jakarta, Febri yang lahir di 29 Februari dan tinggal di Condet Jakarta Timur.
“Jangan lupa saling menghubungi ya setiba di Indonesia nanti,” walau tomboy tapi Zelvi yang paling rajin menjalin persaudaran diantara mereka ber 4. Saat ini mereka sedang berada di kamar Zelvi yang sekamar dengan Febri, karena Julia tidur dengan Riska.
“Bikin group chat aja,” usul Febri.
“Ya sudah, kita bikin group ya,” Riska langsung membuatnya.
“Juli, besok pesawatmu jam berapa?” tanya Febri.
“Enggak jauh beda dengan pesawat kalian koq. 20 menit lebih lambat dari peasawat rombongan kalian aja,” jawab Julia tenang.
***
Pagi ini di bandara semua peserta tour termasuk Julia berfoto bersama sebagai tanda perpisahan. Mereka ada yang langsung menuju kota di mana mereka tinggal, tidak via Jakarta seperti Marrylin dan Theo yang akan langsung ke Den Pasar dan Denny serta istrinya yang akan langsung ke Medan. Foto-foto perpisahan di bandara itu di posting oleh biro travel yang Julia ikuti dengan men tag akun media sosial semua peserta. Tentu saja semua rekan atau kerabat peserta bisa melihat kalau rekan atau kerabat mereka itu akan kembali ke Jakarta dalam tempo hitungan jam. Bastian yang melihat itu segera merapikan berkasnya. Dia akan menunggu kekasihnya di bandara.
***
Wulandari sengaja menunggu hingga jadwal pulang pakliknya baru menuju ke rumah. Dia takut bila bibinya menahan untuk tidak boleh pergi. Saat dia melihat pamannya susah berada di ujung jalan, dia baru masuk ke area rumah pamannya itu dengan 3 motor temannya, Krismi, Ambar dan Arum.
“Lho kalian koq tidak masuk?” Pakleknya Wulang menyapa 3 teman keponakannya yang sedang berada di teras. Sedang wulan sedang membuatkan ketiganya teh hangat.
“Bi,” Wulan menegur bibinya yang hendak membuatkan kopi untuk suaminya yang baru pulang kerja, saat ini sang suami juga sudah masuk ke dapur.
“Assalamu’alaykum,” sapa sang paklek yang baru masuk dapur.
“Wa’alaykum salam,” bersamaan Wulandari dan istrinya menjawab.
“Bi dan paklek, saya mau pamit. Saya diterima kerja di panti asuhan dan harus tinggal di sana agar malam bisa stanby jaga bayi,” Wulan pamit sengaja di detik-detik terakhir dan seakan belum bicara dengan pamannya.
“Kamu sdauh pikirkan resikomu keluar dari sini Nduk?” tanya sang paman sabar.
“Enggak usah ditahan Pak, biar aja. Biar ngurangi beban hidup,” sahut sang bibi.
“Maaf kalau kehadiran saya disini menjadi beban, dan terima kasih atas bantuan yang pernah saya terima. Saya akan berkemas,” Wulan langsung keluar membawa nampan berisi 4 gelas teh keluar.
“Seorang bantu aku bawain kardus dari kamarku yok, jangan biarkan mak lampir bisa berdua dengan diriku,” bisik Wulan pada temannya.
“Kami menunggu di mini market saja Paklik, lebih enak duduknya,” jawab Wulan juga berbisik
“Nduk, berangkat habis salat maghrib aja,” sang paman pura-pura mengarahkan Wulan yang sedang mengeluarkan kardus barang-barangnya dibantu Ambar, sedang Krismi dan Arum mengatur di jok motor dan mengikat dengan erat agar kardus tidak jatuh. Sang bibi tak mau peduli, dia langsung masuk ke kamarnya.
Setelah semua siap, Wulan mengetuk kamar bibi nya untuk pamit. Tanpa drama acara pamit berjalan lancar. Wulan dan rombongan melajukan motor ke mini market tempat mereka bekerja yang tak jauh dari rumah sang Paklik.
Di panti Wulan diterima Nengsih dan Sukma. Semua surat identitas yang diperlihatkan oleh sang paman sesuai dengan yang pernah di catat Sukma saat Wulan bertemu dengan Laura. Sukma mengarahkan Wulan menuju kamarnya ditemani oleh teman-teman Wulan. Akhirnya setelah semua kardus masuk kamar, sang paman dan teman-temannya pamit.
“Sing ati-ati yo Nduk, nek ono opo-opo khabari Paklek,” pesan sang paman. Dia bilang hati-hati dan kalau ada apa-apa khabari dirinya. Sang paman memberikan 5 lembar uang merah sebagai pegangan pada keponakannya. Memang pakleknya sering memberi uang diam-diam di belakang istrinya. Karena dia tahu Ndari bayar sekolah dan transport ke sekolah dari gajinya. Padahal kebutuhan anak sekolah kan tidak hanya uang SPP.
“Kami pamit ya, jangan putus tali pertemanan kita,” Krismi berpesan pada teman yang paling dekat dari pada Arum dan Ambar.
“Terima kasih atas bantuan kalian. Hati-hati di jalan,” Wulan pun langsung masuk ketika ke 4 orang yang mengantarnya sudah pulang.
“Kamu besok sekolah?” tanya Sukma.
“Iya Teh, saya berangkat jam 06.15 karena naik angkot,” jawab Wulan lirih.
“Ayo saya kasih tahu di mana letak kamar mandi dan dapur, pagi sebelum berangkat sekolah kamu sarapan seadanya ya,” dengan lembut Sukma mengajak Wulan untuk berkeliling. Semua sudah tahu latar belakang Wulan kerja di panti. Dan seperti pesan Laura, mereka harus menjaga perempuan muda yang sedang hamil itu.
‘Kalian coba tempatkan diri kalian sendiri sebagai Wulan. Hamil karena dijual oleh bibinya lalu tetap bertekad untuk lulus sekolah karena bertujuan mendapat ijazah agar taraf hidupnya lebih baik karena ingin membiayai anaknya. Jadi tolong bantu dia semaksimal mungkin.’ Itu pesan Laura pada semua pegawainya. Sebagai sesama wanita mereka tentu sangat iba terhadap nasib Wulan. Walau gadis itu sama sekali tak ingin dipandang dengan sorot mata kasihan.
Malam itu Wulan merasa masuk kekeluarga sendiri. Sambutan semua pegawai panti yang ramah membuat dia merasa dalam dekap kehangatan sang bunda. Mereka membantu Wulan membongkar kardus yang kebanyakan berisi buku sekolah bukan pakaian. Karena gadis itu tak punya banyak pakaian kecuali seragam sekolah.
\======================================================
Bastian bakal berhasil menjemput Julia enggak ya? ikuti keseruannya besok yaaaa
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta