TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PERTEMUAN ALMIRA ~ NAMIRA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Masih kenyang. Baru makan salad buah,” jawab Namira.


“Koq tumben bikin yang buah. Biasanya enggak suka. Sukanya yang sayur,” jawab Ilyas.


“Teteh minta dia diajarin bikin salad yang buah, jadi tadi bikin sedikit. Dia bilang dia belajar bikin buat Ayah,” sahut Namira. Lupa kalau ada Almira, ibu kandung Nindi.


“Ayok. Kita mulai bicara. Maaf kalau harus menunggu saya makan siang. Daripada nyonya disebelah saya makin cerewet kalau saya tidak makan siang,” Ilyas meneguk air putih dan mengajak semua bicara serius.


“Kami datang, khususnya saya mau minta maaf karena tanpa menyelidiki fakta sebenarnya percaya berita yang selama ini saya terima kalau Mira dan Halim menjalin hubungan dibelakang saya,” Almira yang biasa dipanggil Almi mulai bercerita.


“Saya mulai curiga mendengar rumah saya digadaikan. Sedang sertifikat rumah dan semua berkas penting milik saya, saya titip dirumah bi Misah sebelum pertama kali saya bekerja sebagai TKW. Lalu kami juga tahu ternyata rumah itu tetap ditinggali Halim dan Anna,” Almi menceritakan juga bagaimana mereka menjebak dan mengusir Anna dan Halim dari rumah itu. Ilyas dan Namira tak percaya mendengar rekaman proses pengusiran.


“Sekarang Teteh mau minta keridhoan Eneng. Teteh mau membeli hak bagian Eneng biar rumah itu satu pemilik. Atau kalau Eneng yang mau milikin rumah itu juga mangga, Teteh yang terima bagian Teteh. Nanti Teteh cari rumah baru,” Almira mengutarakan keinginannya.


“Eneng mah enggak pengin Teh. Silakan aja buat Teteh semua,” jawab Namira. Dia cukup bahagia  hubungannya dengan sang kakak baik kembali.


“Enggak bisa seperti itu. Itu milik ambu untuk kita berdua,” sahut Almira. Setelah debat panjang maka Namira minta sepertiga dari harga normal rumah itu saja, karena biaya pembangunan semua adalah uang Almi.


Selesai sudah soal perseteruan dua kakak beradik dan urusan harta. Yang sekarang wajib dan sangat perlu mereka bahas adalah masalah Nindya atau yang biasa dipanggil Nindi.


“Kalau menurut saya, biarkan Nindi nyaman seperti sekarang. Jangan rusak mentalnya. Saya tak ingin putri sulung saya terluka. Kalau saya mau egois, saya bisa bilang ambil saja Nindi. Toh dia bukan anak kami atau anak istri saya. Tapi tidak. Saya teramat sayang pada dia dan saya tak ingin dia terluka,” Ilyas memberi pendapat apakah perlu memperkenalkan Almi sebagai ibu kandung Nindi dalam waktu dekat.


“Menurut Bibi memang seperti itu. Dia lama terluka dan ikut sengsara sampai berhenti sekolah karena akibat perbuatan Anna. Jadi biarkan dia bahagia dulu. Saat sudah dewasa tentu dia akan mudah diberi penjelasan,” Misah memberi masukan pada Almi dan Mira.


“Tapi waktu habis pertengkaran di mall dia tahu Teteh seperti mamanya, hanya dia enggak mau bahas lagi. Ya kan Yah?” Namira meminta Ilyas ikut mengingat kejadian itu.


“Iya. Dia ingat punya mama, tapi lupa sosoknya. Kalau papa dia ingat. Dan dia ingat awalnya memanggil bundanya dengan panggilan bibi sebelum saya meminta dia memanggil bunda pada istri saya,” sahut Ilyas. Dia memang sering bercerita dengan Nindi. Dan menasehati putrinya agar selalu mendoakan mama dan papanya.


Ilyas tak ingin Nindi mengingat dirinya pernah mengajarkan hal tak baik. Putrinya harus tahu kalau ayah dan bundanya selalu mengajarkan hal baik.


Almira tak menyalahkan Nindi. Karena sejak Nindi usia dua tahun dia sudah tak ada disisi anak itu.


Setelah diskusi panjang, akhirnya mereka memutuskan Nindi dibiarkan tumbuh alami saja. Tak perlu dipaksakan mengakui Almira sebagai mama biologisnya. Dan Almira juga tak keberatan karena selama ini dia tak punya kedekatan hubungan batin dengan putrinya itu.


Mereka sepakat akan mengenalkan Almira sebagai kakak Namira atau uwaknya Nindi.


“Ke rumah yok. Nginep di rumah sebelum kembali ke Bogor. Besok lihat toko kue usahaku,” Namira mengajak bibi dan kakaknya untuk menginap.


“Kami tidak bawa baju,” sahut Misah menolak. Dia berkata lebih dulu takut Almi masih tak enak terhadap Mira


“Baju mah gampang. Nanti di rumah ganti milikku lalu yang kotor dicuci untuk dipakai besok. Atau kita beli dulu juga bisa,” sahut Namira.


Almi bukannya tak mampu beli. Tapi tak enak pada Ilyas bila mereka harus belanja dulu.


“Honey, Ayah ke ruangan dulu ambil tas kerja dan snelli. Kamu tunggu di mobil ya,” Ilyas berdiri menuju kasir untuk membayar yang mereka makan. Ilyas memberi ruang dan waktu agar Almi dan Mira bisa bicara tanpa kehadiran dirinya.


“Jadi Teteh beneran minta talak sama kang Halim?” tanya Namira.


“Iya lah, dia sudah kumpul kebo sama Anna. Walau alasannya takut Nindi celaka karena Anna selalu ngancam mau celakain Nindi,” sahut Almi.


“Suamiku terlihat sangat lembut, tapi aku yakin dia sangat marah pada Anna. Aku yakin dia akan menghancurkan Anna tanpa memberitahu aku,” Namira bicara pelan walau Ilyas tak ada bersama mereka. Misah dan Almi tetap jelas mendengar perkataan Namira itu.


Namira melihat perubahan raut wajah Ilyas saat mengetahui latar belakang kelakuan Halim memperkosa dirinya karena bujukan Anna.


“Kamu punya toko kue?” tanya Misah.


“Iya Bi. Waktu baru melahirkan dan masih di Bogor, buat makan aja aku ngeburuh nyuci, yang penting Nindi bisa makan, disitu awal ketemu suami. Dia kasihan dan jatuh cinta pada Ilham anakku yang belum juga empat puluh hari sudah dijaga Nindi. Buat A’ Ilyas, Nindi dan Ilham satu paket,” sahut Namira lalu perempuan itu menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya hingga bisa membuka toko kue. Dan toko kue itu adalah salah satu mahar dari Ilyas.


‘Sudah tinggal di rumah dokter bujangan saja dia masih berpikir cari uang sehingga bila kondisi mendadak harus pergi, dia dan anak-anak aman. Dia tak berpikir memikat dokter bujangan agar hidup nyaman. Bahkan dia menolak berkali-kali. Bagaimana dia dituding jual diri buat kuliah?’ Almira menangis dalam batinnya mendengar bagaimana hidup adik dan anak perempuannya hingga kelaparan makan bubur satu kali satu hari.


‘Semua karena Anna. Aku juga tak akan ikhlas memaafkan perempuan itu. Walau aku ikhlas 100% kehilangan kang Halim!’


***


“Assalamu’alaykum,” Namira mengucap salam ketika tiba di rumah.


“Wa’alaykum salam Bundaaaaaaaaaaaa,” pekik Nindi bahagia. Sore tadi dia belajar membuat PR sendiri karena bundanya pergi ke rumah sakit ayahnya.


“Anak Bunda sudah cantik, itu ada uwak dari Bogor, kakak Bunda. Salim ya,” perintah Namira pada Nindi. Gadis kecilnya menggeleng dan laangsung memeluk Namira. Dia ingat perempuan itu yang memarahi bundanya ketika bertemu di mall. Dia tak ingin melihat bunda tercintanya dimaki-maki oleh ‘perempuan jahat’ itu.


\==========================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE BAB SELANJUTNYA, MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN YANG BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YA


 



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta