
Julia menyalakan mesin mobilnya. Sudah waktunya pulang kerja. Sejak Julia mulai kerja memang dia jarang di jemput Bastian. Karena Julia tak ingin terlihat sering datang atau pulang barengan dengan tunangannya itu.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Fanny dan Harun. Mereka tetap berangkat dan pulang dengan kendaraannya masing-masing. Fanny dan Harun hanya pernah cuti barengan tiga minggu lalu saat mereka tunangan kembali. Karena acara tunangannya dilakukan di daerah asal keduanya di Sumatera Barat. ‘
Take care Honey,’ chat Bastian masuk sebelum Julia menjalankan mobilnya.
“Thanks my sweet heart. Kamu juga hati-hati ya? Nanti telepon bila sudah di rumah,’ balas Julia lalu dia segera melajukan mobilnya menuju rumah.
‘Aku sudah sampai rumah A’, mandi dan salat dulu ya. Kita ngobrol malam sekalian A’a nemani aku packing,’ Julia memberi khabar pada Bastian. Dia tahu Bastian belum sampai rumah karena walau rumah Bastian lebih dekat dengan kantor, tapi jalurnya lebih padat dan sering macet. Sehingga selalu membutuhkan waktu tempuh lebih lama daripada kerumah Julia.
‘A’a baru sampai rumah. Iya nanti A’a telepon kalau A’a sudah selesai makan malam dan ngobrol dengan twins. Kalau mereka belum tidur ‘kan A’a enggak boleh masuk kamar,’ Bastian memang selalu seperti itu. Sehabis makan malam dia akan ngobrol dengan kedua keponakannya yang sudah yatim piatu sejak usia sebelas bulan itu.
***
“Kamu dimana De?” Assyfa menghubungi Laura. Dia sudah didekat butik Selaras.
“Cafe ABDI, dekat butik Teh. Mobil polisi belum datang jadi aku nunggu di cafe seberang butik,” Laura memberitahu posisinya. Dia tadi dapat info Toha dan Adnan sudah menuju TKP.
Assyfa menuju cafe yang disebut Laura. Dia bersama dua orang teamnya. Dan ada dua buah motor yang juga menuju cafe itu dan mendatangi Assyfa. “Ayok masuk. Adik saya sudah di dalam,” Assyfa mengajak lima orang itu masuk kedalam cafe.
“Dek, kenalin ini cameramanku. Yang ini reporterku. Nah cowok yang terlihat sadis ini dari Tabloid RESUME. Trus dua orang itu dari koran Bandung Barat,” Assyfa menyebut siapa saja yang datang bersamanya.
“Ini Laura adik saya. Yang sketsa designnya dicuri oleh Laras pemilik butik Selaras yang akan ditangkap oleh polisi yang sedang mengarah kesini,” Assyifa menjelaskan siapa Laura. Ternyata Assyfa bekerja di stasiun televisi Bandung. Dia mengundang wartawan dua tabloid untuk membuat berita penangkapan Laras yang akan terjadi sebentar lagi.
“Nah itu, mereka sudah turun dari mobil,” Laura memberitahu kalau Toha dan Adnan sudah datang.
“Yoss, kamera disiapkan,” Assyfa meminta kameraman mulai menyiapkan kameranya yang masih di mobil.
“Tentu enggak instant Teh, pasti ada tenggang waktu tiga puluh sampai enam puluh menit lah,” Laura ingat kemarin saat di butiknya juga Adnan dan Toha tidak langsung main tangkap saja.
“Ya kita biasa bersiap duluan sebelum moment cantik hilang. Wawancara dengan kamu sesudah kita bikin rekaman penangkapan aja ya,” Assyfa memberitahu memang sudah biasa kameraman standby terlebih dahulu agar tak ketinggalan berita.
Sesuai dugaan Laura, dimenit ke 40 Laras keluar dipapah Toha dengan tangan sudah di borgol. Ternyata tadi saat Laura ngobrol dengan Assyfa dan team, seorang polisi membawa masuk Liliya yang juga sudah diborgol tangannya. Tentu saja kameraman dan dua orang wartawan langsung membidik saat Laras keluar dengan tangan di borgol.
“Hallo Pak,” Laura sengaja datang mendekat kearah Laras. Dia ingin memperlihatkan ‘kekuatan’ yang dia miliki. Bukan satu kali ini saja Laras mencurangi Laura. Pernah saat lomba design, sketsa Laura sengaja diberi tumpahan kopi. Sayang saat itu Laura tak bisa menekan pelaku untuk mengakui siapa yang menyuruhnya. Dan dibeberapa seminar selalu Laras menjelek-jelekan Laura, tanpa Laura tahu salah dia apa.
“Wah, mau punya design bagus koq nyuri?” Laura bicara sambil melihat pada Laras.
“Apakah Ibu pemilik sketsa yang dicuri?” tanya pewawancara dari televisi Bandung, seakan belum kenal dengan Laura.
“Iya. Saya pemilik design yang dicuri. Mau cari makan koq enggak halal,” cibir Laras pada Julia. Sementara Laras hanya bisa tertunduk.
“Ada apa ini? Mengapa ada kamera?” seorang lelaki tiba-tiba datang bertanya pada Toha dan Adnan yang menggunakan seragam polri.
“Saya … saya …,” lelaki itu malu mengakui dia adalah suami Laras. Tentu dia tak mau usahanya akan hancur bila diketahui umum istrinya pelaku tindak pidana.
“Koq malu ngaku kalau anda suami Laras sipencuri?” Laura sengaja julid. Dia sangat ingin menghancurkan Laras sampai ke dasar jurang. Suaranya cukup jelas didengar semua yang melihat kejadian itu. Tentu saja masyarakat sekitar langsung menonton ketika ada kameraman dan mobil polisi disitu.
Dengung suara masyarakat rame terdengar. Mereka kaget ternyata Laras adalah dalang pencurian. Banyak celoteh tak sedap yang didengar oleh Sapto Enggano suami Laras.
“Kalian cari tahu aja siapa namanya. S-E dari Selaras itu singkatan namanya. Dia pengusaha properti,” Laura membuka jati diri suami Laras pada para wartawan.
‘Biarlah sekali-sekali aku julid,’ batin Laura. Dia sudah teramat jengkel diinjak terlalu lama oleh kelakuan Laras. Itu juga akan menjadi pelajaran pada para designer yang tak mau kalah tapi tak punya kemampuan.
“Ayok cukup. Kita lanjutkan di kantor saja,” Toha membawa Laras masuk ke dalam mobil polisi.
***
“Banyak pesanan hari ini?” tanya Bastian, saat mereka melakukan video call seperti biasa.
“Lumayan lah, namanya kerja sambilan. Omset segini ya sangat besar buat ku,” jawab Julia sambil packing tapi sesekali memandangi Bastian di ponselnya.
“Kita jadi ke Singapore minggu depan?” tanya Bastian. Pekerjaan yang tertunda saat dia sakit telah selesai Bastian kerjakan. Dan rencananya hari Kamis sore sepulang kerja.
“Insya Allah jadi A’ kalau Boss ku enggak cerewet dan nahan aku enggak boleh pergi,” goda Julia. Julia sudah meminta izin pada Fanny hari Senin dan Selasa. Jadi Jumat, Senin dan Selasa Julia izin untuk menukar waktu lemburnya.
“Semoga aja ya, Boss mu enggak rewel,” sahut Bastian sambil nyengir. “A’a enggak sabar pergi berdua.”
“Eh … kamu sudah bilang ke Kang Dade?” tanya Bastian lagi.
“Sudah, kemarin bubu juga telepon memberitahu status kita. Kang Dade marah karena enggak dikasih tahu saat kita tunangan,” Julia cerita protes Dade saat ibunya menghubungi Dade di Singapore.
“Ya sudah, kamu sudah selesai packing ‘kan? Sekarang bobo ya?” Bastian menyudahi pembicaraan mereka malam ini.
“Siiiip. Thanks udah ditemenin kerja. Night sweet heart,” sahut Julia.
“Night too, have a nice dream. I love you,” lama Bastian menunggu jawaban I love you too dari Julia tapi gadis itu tak juga mengucapkannya. Akhirnya Bastian terpaksa mengakhiri telepon itu.
\================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta