TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PERTEMUAN DENGAN WILSON



Hai hai


Biar cepet tamat, kadang kalau sempat Yanktie sengaja update dua kali dalam satu hari. Seperti kali ini. bab dibawah ini adalah update kedua hari ini.


Semoga kalian semua suka ya.


Pagi ini sehabis sarapan Julia ingin packing semua barangnya. Dia akan memisahkan berdasarkan jenis agar nanti tidak repot saat unboxing. Di kardus akan dia tulis kode jenis isi, sehingga nanti bisa langsung mendapat barang yanag ingin dia buka terlebih dahulu tanpa harus susah payah membongkar semuanya.


“Honey, Wilson ngajak bertemu sebelum pulang. Kita bisa keluar enggak? Dia ngajak ketemu di taman lalu makan siang,” Bastian memberitahu Julian undangan bertemu dari Wilson kenalan barunya.


“Sepertinya packing kali ini baru bisa selesai sampai setelah makan siang. Gimana kalau kamu berangkat sendiri?” tanya Julia.


“Tapi aku mau bantu kamu packing Yank,” bantah Bastian.


“Kamu nanti bagian packing barang pribadi kita aja ya? Aku packing barang daganganku,” sahut Julia. Dia tak mau Bastian merasa bersalah karena harus packing sendirian.


Baiklah kalau begitu, aku pergi sampai sesudah makan siang ya,” Bastian pun akhirnya bersiap ganti baju pergi. Tadi habis mandi dia sengaja pakai baju santai karena harusnya hari ini mereka tak pergi keluar.


***


Wilson mengajak Bastian ke toko buku. Lalu mereka membeli beberapa buku dan duduk minum di taman dekat toko buku itu. Tak berapa lama Bastian merasa mulai mengantuk. Tapi sebisa mungkin dia menahannya.


“Aku mengantuk, bagaimana kalau istirahat sebentar di apartemenku sambil menunggu waktu makan siang. Nanti kita makan di cafe dekat apartemenku saja,” Wilson mengajak Bastian jalan kaki ke apartemennya.


‘Ternyata Wilson juga mengantuk seperti diriku,’ pikir Bastian.


“Baiklah kalau itu maumu,” sahut Bastian. Dia merasa bisa menahan kantuknya. Dengan berjalan kaki maka Bastian bisa menahan kantuknya.


Mereka jalan sambil bercerita banyak hal tentang kampus juga tentang bisnis mereka. Wilson bekerja di Singapore, ditugaskan oleh perusahaan induk di Aussie.


Wilson langsung merebahkan badannya ke kasur tanpa membuka sepatunya. Dia sangat mengantuk. Dia bilang semalam sengaja lembur karena ingin free hari ini guna bertemu dengan Bastian.


Ditinggal tidur oleh pemilik kamar membuat Bastian bingung. Dia langsung mengirim pesan pada Julia. ‘Honey, aku dikamar Wilson. Dia tepar karena semalam ambil lembur untuk dapat free day guna bertemu denganku kali ini. Nanti aku bangunkan dia sebelum waktu makan siang. Kamu jangan telat makan ya. Love u.’


‘Oke,’ hanya jawaban singkat itu yang Bastian dapatkan. Dia tahu kekasihnya pasti sedang sangat sibuk. Tanpa sadar dia pun ikut terlelap. Bastian bangun menjelang sore. Dia lihat Wilson masih tidur di kasur sedang dia di sofa.


“Wilson … Wilson,” Bastian mengguncang kaki teman barunya itu.


“Eh …, maaf,” sahut Wilson langsung duduk.


“Tidak apa-apa, aku juga sempat terlelap. Sekarang aku pamit saja karena sudah lewat waktu makan siang. Aku tak mau tunanganku menunggu terlalu lama,” Bastian pun pamit sambil membawa buku yang dia beli tadi.


Untuk mengisi perutnya, Bastian membeli burger dan coke yang dia makan di taxi. Dia tak ingin Julia marah karena dia telat makan siang.


“Hallo cantik, maaf aku terlalu lama,” Bastian langsung melihat Julia yang hampir selesai packing.


“Bagaimana pertemuanmu dengan Wilson. Menyenangkan?” tanya Julia.


“Menyebalkan. Dia malah tertidur. Lalu A’a ikut tidur sebentar. Pas A’a bangun dia juga belum bangun. Akhirnya A’a bangunin, dan A’a pamit. Kami batal makan siang bersama. Hanya sempat ngobrol dan beli buku saja,” jawab Bastian. Dia langsung masuk ke kamar Dade untuk mandi. Dia merasa bau tubuhnya agak aneh.


Esoknya setiba di Jakarta, Julia langsung pulang ke rumahnya. Bastian pun menginap di rumah Julia alasannya barangnya tercampur dengan barang Julia.


***


“Pi, aku mau bicara. Man to man,” August berbisik pada papinya selesai mereka sarapan pagi. Di meja ada oma. August malas bicara didepan perempuan yang masih sibuk mengatur hidupnya itu.


Maka mereka sengaja bicara dikamar sang papi. Mereka bukan pebisnis yang punya ruang kerja dirumahnya. Jadi memilih area private di kamar pak Prabu. Mereka bicara di teras kamar. Ruang terbuka yang langsung terhubung dengan taman anggrek milik Nenden, mami August.


“Ada apa Le?” tanya pak Prabu. Dulu mereka sering tukar pikiran sesama lelaki. Tapi sejak August salah melangkah, mereka tak pernah lagi melakukan hal itu.


“Jujur aku bingung mulainya dari mana. Tapi ini harus segera dikatakan,” August mulai membuka pembicaraan mereka.


“Apa kamu menghamili perempuan lagi?” tanya Prabu.


‘Enggak Pi. Sejak berpisah dengan Julia, aku enggak pernah satu kali pun making love dengan perempuan mana pun. Aku mau menata diri menjadi lebih baik,” August tentu saja membantah hal itu.


“Lalu masalahmu apa?” tanya Prabu.


“Aku entah jatuh cinta, entah baru taraf suka karena kagum pada seorang perempuan tangguh. Dan kemarin aku sudah memintanya untuk menjadi istriku,” sahut August.


“Bagus kan kalau begitu. Masalahnya dimana?” tanya Prabu bingung.


“Masalahnya dia sedang hamil 18 minggu.” Jawab August pelan.


“Tadi kamu bilang tak pernah menyentuh perempuan sejak berpisah dengan Julia. Sekarang kamu bilang perempuan yang mau kamu ajak menikah sedang hamil 18 minggu. Mana yang benar?” Prabu jadi bingung.


“Jadi gini Pi, perempuan itu yatim piatu. Dia tinggal dirumah pakleknya. Tapi bibinya jahat. Dia dua kali dijual ke pelang-gan. Sehingga dia hamil. Dia masih kelas tiga SMA. Bukannya ngegugurin, dia bertekad mempertahankan janinnya. Dia terus sekolah walau juga kerja. Karena dia butuh uang buat biaya sekolah, transport dan makannya. Pakleknya enggak tahu kelakuan istrinya dan perempuan ini enggak pernah ngadu,” August membuka latar belakang Wulan.


“Dia tangguh. Dan aku kagum. Dibantu aja enggak mau. Dia sekarang kuliah dengan beasiswa. Dia kerja di panti asuhan di Bandung. Melihat ketegaran dan tekadnya aku langsung merasa sangat rendah dibanding dia. Aku sangat kagum. Akhirnya entah gimana kemaren langsung aja minta dia jadi istriku. Dan Papi tahu, walau dia susah dan tahu aku mapan, dia enggak langsung nerima lamaranku. Sampai sekarang dia enggak mau terima lamaran kalau enggak ada restu mami dan papi,” jelas August.


“Dan dia bilang enggak perlu resepsi. Asal nikah aja dia sudah bersedia,” August menyudahi keterangan sosok Wulan.


“Lalu maumu Papi harus bagaimana?” tanya Prabu dengan bijaksana. Dia tahu anaknya sudah beberapa kali salah langkah. Kalau sekarang mau menjadi benar dengan cara menikahi perempuan baik, apa perlu dia larang?


‘Tapi apa pendapat keluarga kalau August menikahi perempuan hamil? Bagaimana bila mereka mengira itu anak August?’ Prabu bingung sendiri memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


\=========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta