TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ULTIMATUM UNTUK BASTIAN



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


Gladys awalnya ingin tahu rekaman apa yang ayahnya Bastian berikan. Lalu dia terbelalak melihat kecurangan yang dia dan Wilson buat saat menjebak Bastian bulan lalu.


“Aku … aku bisa jelaskan,” Gladys terbata melihat semua itu.


“Kamu dan suamimu sama saja. Lihat ini, suamimu menggendong anak kalian saat kamu dan Wilson menjebak anakku. Jangan dikira aku tak tahu. Dan kamu memang benar hamil, tapi ulah suamimu bukan oleh anakku. Mau modus cari korban seperti saat dulu Bastian pertama kamu jebak?” tanya Achdiyat dengan senyum mengejek.


“Bahkan suamimu di lobby sudah ditangkap lebih dulu,” Achdiyat membuka ponselnya dan memperlihatkan Mike yang sedang menggendong balita perempuan. Usia anak Gladys memang satu tahun dibawah si kembar.


Pintu dibuka dan Wilson serta Kharisma, Dade, Julia masuk ruangan. Sementara empat polisi menunggu dipintu.


Dari penyelidikannya Achdiyat tahu kalau Wilson adalah sepupu Mike. Dia tak pernah satu kampus dengan Bastian.


“Silakan. Kami sudah selesai. Biar hukum saja yang bicara. Karena saya tak ingin berurusan dengan keluarga sampah seperti mereka,” Achdiyat mempersilakan petugas polisi membawa Wilson dan Gladys.


Dulu Mike dan Gladys masih ‘aman’ karena saat itu Bastian tidak melaporkan ke polisi. Sekarang tentu beda.


Dengan video lawas yang memperlihatkan niat mereka agar Gladys menjadi janda dari Bastian, itu jelas sudah ada niat pembunuhan berencana. Dan sekarang misi itu diulangi lagi. Pastinya misi lawas itu tetap akan mereka lakukan.


Dan video itu semua sudah Achdiyat lampirkan saat melapor ke polisi.


***


Setelah polisi membawa Gladys dan Wilson, barulah Bastian memanggil server untuk memesan makanan. Mereka makan dengan kehangatan dan penuh canda.


“Ade, seperti pesan Apa’ sebelum kita berangkat ke Singapore, Apa enggak mau ada penundaan lagi. Kalian harus segera menikah!” Achdiyat langsung mengultimatum Bastian.


“Apa kan tahu, sejak dua tahun lalu Ade mah mau nikah ama Aya. Dianya aja yang menunda. Harusnya sekarang Apa tu nekannya ke Aya, bukan ke Ade,” sahut Bastian santai.


“Ih, koq aku. Lha A’a aja yang senengnya bikin kesel. Jadi akunya sering marah ke A’a,” rajuk Julia. Memang awal-awal hubungan mereka Julia dan Bastian sering ribut yang membuat Julia malas melanjutkan hubungan dengan tunangannya itu. Dia masih belum yakin Bastian memang teramat sangat mencintainya.


Sejak Bastian sakit dulu dia baru yakin akan kesungguhan cinta CEO ganteng tempatnya bekerja.


“Kalian harus datang dipernikahan kami,” Bastian meminta Dade dan Kharisma datang ke Bogor saat pernikahannya kelak.


“Aku akan upayakan mengajukan cuti. Kamu tetapkan segera tanggalnya,” sahut Dade.


“Tapi aku tidak tahu apa Risma bisa. Kamu tanya langsung pada orangnya,” Dade melempar pandangan pada Risma. Selama ini dia belum sukses mendekati perempuan itu.


“Kak Risma, kamu harus datang. Bastian aakan menganggung tiketmu pulang pergi,” sahut Julia. Dia tahu untuk calon suaminya, hanya tiket pulang pergi Singapore bukan hal besar.


“Nah bener. Kalian berangkat bersama saja, biar Risma tidak nyasar,” pak Achdiyat juga malah ngompor-ngompori Risma dan Dade.


“Apa yang terbaik,” Julia ber high five dengan Bastian.


“Sudah ayok kita makan dulu,” sekarang Achdiyat mengajak mereka makan karena pesanan mereka sudah datang.


“Apa' jadi pulang besok siang?” tanya Bastian.


“Eh iya lupa. YA, habis makan pesankan Apa’ tiket pulang ya,” Achdiyat memerintah calon menantunya memesankan tiket untuk dirinya.


“Siap Pa’. Aya titip satu koper biar ngurangin beban kami. Biar enggak banyak over weightnya,”  Julia akan mengirim pulang barang milik bu Tuti dan semua temannya lebih dulu.


“Ya kamu atur lah,” sahut pak Achdiyat santai.


“Kang, antar pulang kak Risma ya. Aku nanti mau ngobrol dulu dengan Apa’ dan A’a,” Julia sengaja memberi waktu pada Dade untuk pulang bareng dengan Risma.


“Mobil biar disetiri kang Dade. Karena mobil kang Dade saya yang bawa,” sahut Bastian.


Tak ada alasan lagi bagi Risma untuk menghindar bila dikeroyok seperti ini. Dade pun pasrah menyerahkan kunci mobil miliknya pada Bastian.


***


“Saya sudah di lobby rumah sakit,” Almira memberitahu posisinya pada Ilyas yang menerima telepon darinya.


“Tanya saja dimana letak poli anak dan cari nama Ilyas karena ada tiga ruang dokter di poli anak,” jawab Ilyas. Dia memang sudah selesai bertugas di poli anak sejak satu jam lalu.


Almira mengetuk ruang yang didepannya ada nama dr Ilyas Pratama Sp.A. Ilyas membuka pintu ruangannya. Dia persilakan dua perempuan muda di depannya untuk masuk.


“Kenalkan saya Almira dan ini Misah bibi saya,” walau pernah bertemu, tapi saat itu Almira dan Ilyas memang belum sempat berkenalan.


“Ilyas,” dengan sopan Ilyas menjabat tangan kakak ipar dan bibinya itu.


“Saya sudah selesai. Kita ke cafe belakang saja yok. Nanti istri saya menyusul kesana. Dia kejebak macet. Saya memang bilang dia tak usah ngebut kalau bawa mobil,” sahut Ilyas. Memang tadi pagi Ilyas minta diantar Namira karena istrinya ada keperluan membeli banyak bahan baku untuk toko kuenya. Dia minta membawa mobil saja.


‘Alhamdulillah Eneng hidup mapan. Dia malah sudah membawa mobil sendiri,’ batin Almira. Tak ada rasa iri pada adiknya. Karena memang sesungguhnya dia sangat menyayangi adik satu-satunya itu.


“Mau pesan apa Teh? Bi?” tanya Ilyas. Dia memesan juice alpokat dan juice sirsak serta  ketoprak.


Misah dan Almira hanya memesan juice alpokat saja. “Pesan makan juga Teh, Bi. Saya hari ini telat makan. Jangan kaget begitu istri saya datang dia akan ngomel tak berhenti,” Ilyas memberitahu Almira dan Misah.


“Kami baru makan siang saat menuju kesini,” sahut Misah.


“Kalau begitu snack lah. Masa enggak makan apa pun,” Ilyas memaksa kedua tamunya untuk memesan snack dan akhirnya keduanya memesan beberapa kue yang masih ada.


Namira datang saat Ilyas baru saja menyuap ketoprak pesanannyaa.


“Ayaaaah koq baru makan sih! Kalau maag mu kambuh gimana? Kalau sakit lagi gimana?” protes Namira pada Ilyas melupakan ada dua tamu bersama suaminya.


“Honey, cintaku koq bukan salam malah langsung ngomel sih?” Ilyas menyodorkan tangannya pada Namira.


“Eh maaf Yah, assalamu’alaykum imamku,” Namira baru ingat dia belum memberi salam.


Ilyas yang sudah berdiri langsung memeluk istrinya dan mengecup kening perempuan itu. Tak ada malu atau tak enak dengan lingkungan karena mereka anggap itu hal wajar bagi suami istri memperlihatkan rasa kasihnya.


“Assalamu’alaykum Teh, Bi,” sapa Namira kaku tanpa berjabat tangan.


“Ini Ayah sudah pesankan juice mu,” mau makan apa?” tanya Ilyas. Dia masih menggenggam tangan istrinya dengan tangan kiri dan tangan kanan dia gunakan untuk menyuap makannya.


\=========================================================


SAMBIL NUNGGU CERITA INI UPDATE, MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YA



\==========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta