
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
** August POV**
Kemarin saat akan terbang, aku baru tahu co pilotku sakit demam berdarah. Sehingga selepas terbang aku berniat mengunjunginya. Siang ini aku sengaja sendirian ke rumah sakit. Malas janjian dengan teman lain, karena nanti sesudah dari rumah sakit bisa seharian hang out. Aku hanya ingin cepat kembali ke rumah. Saat baru saja keluar dari mobil aku melihat sosok yang selalu menjadi bayang-bayang mimpiku. Julia baru saja menutup pintu mobilnya dengan membawa paper bag entah berisi apa. “Eneng,” sapaku memanggilnya. Panggilan sayang keluarganya yang aku juga gunakan untuk memanggilnya. “Eh kak August, apa khabar?” tanya mantan tunanganku itu dengan senyum manisnya nan menawan. Senyum yang tak pernah hilang dari benakku. Dan dengan bodohnya senyum itu aku buang hanya demi ******* kotor April.
“Alhamdulillah baik. Kamu sakit? Atau mau besuk siapa?”aku balas bertanya. Aku tak berharap dia ke rumah sakit untuk memeriksa dirinya.
“Enggak, ini keponakan sakit. Kak August sendiri mau periksa?” tanya mantan tunanganku itu sambil berjalan santai disisiku. Andai dia masih menjadi tunanganku, tentu kami berjalan bergandengan atau dia akan memeluk lenganku dengan manja, atau tanganku ada di pundaknya. Tidak seperti sekarang yang hanya bisa bersisian tanpa saling sentuh.
“Mau besuk co pilot, kena radang usus,” jawabku. “Kamu sendirian? Boleh aku ikut nengok keponakanmu? Keponakan yang mana?” cecarku. Aku cukup tahu siapa saja keponakannya karena kami berhubungan cukup lama.
“Mangga, biar sekalian aku kenalkan ama keponakan-keponakanku yang sakit. Tapi apa enggak ganggu waktu besuk Kakak?” tanya Julia. Entah mengapa aku bingung dengan kata-kata keponakan-keponakan. Artinya bukan hanya seorang keponakannya yang dirawat di rumah sakit ini.
“Ke sini dulu ya Kak,” Julia mengetuk kamar serta langsung membuka pintunya tanpa menunggu jawaban dari dalam. “Ayok Kak masuk.” ajaknya tanpa ragu. Aku melihat sosok lelaki gagah terbaring di brankar dengan botol infus dan kantung darah tergantung. Aku sepertinya pernah lihat lelaki itu. Bukankah itu bossnya Julia? Ya aku ingat, Bastian nama lelaki itu.
“Assalamu’alaykum,” sapa Julia lembut. Aku lihat Julia menurunkan 4 cup puding di meja pasien. “Koq diem? Enggak jawab salamku?” tanya Julia sambil mencium pipi lelaki yang sedang terbaring dengan lembut. Aaaaaah, hatiku teriris melihat mantan tunanganku mencium pria lain.
“Sini Kak, habis ini kita ke ruangan keponakanku,” Julia memintaku untuk mendekat.
“Assalamu’alaykum pak Bastian, anda sakit? Semoga cepat sembuh. Maaf saya tak membawa apa pun karena tidak sengaja bertemu Eneng di parkiran,” dengan terpaksa aku sapa atasan Julia itu dan aku ulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya.
“Wa’alaykum salam. Iya enggak usah repot-repot,” jawab atasan Julia dengan kaku. Aku yakin dia tahu siapa diriku bagi Julia. Lelaki itu mungkin tidak suka bila kekasihnya berjalan berdua dengan mantan tunangannya.
Aku tak mendengar apa yang dibisikkan Julia pada kekasihnya. Aku hanya melihat lelaki itu mencekal pergelangan tangan Julia. Dan kembali aku melihat Julia menciumi pipi kekasihnya. Hal itu tak pernah Julia lakukan padaku walau saat itu aku adalah tunangannya. Saat denganku, Julia hanya memberi respon apa yang aku lakukan. Tapi tak pernah melakukan aksi terlebih dahulu.
“Ayok Kak,” akhirnya Julia mengajakku meninggalkan ruangan itu.
“Mari pak Bastian, saya pamit. Sekali lagi semoga cepat pulih,” aku segera keluar menyusul Julia yang sudah menunggunya di luar ruangan.
“Assalamu’alaykum ganteng-gantengnya Aunty,” sapa Julia ketika memasuki ruangan sebelah. Ya ruangan tepat di sebelah ruang rawat kekasihnya tadi.
“Wa’alaykum salam Aunty,” hampir bersamaan dua bocah ganteng membalas salam yang Julia berikan.
“Kak, kenalkan dua keponakanku,” Julia menggamit lenganku yang masih yang bengong melihat dua anak kembar itu. Selama berpacaran hingga tunangan, aku tidak tahu Julia punya keponakan kembar.
“Aku koq enggak tahu kamu punya keponakan kembar?” tanyaku masih bingung.
“Mereka keponakan Bastian,” jawab Julia santai. Dia membuka plastik wrap dan bersiap memberi makan kedua anak itu. “Enin ke mana?” tanya Julia.
“Baru saja keluar, beli tissue basah sekalian minum,” jawab seorang anak yaang tidak diinfus.
“Ayo ade pindah biar Aunty gampang nyuapinnya,” Julia meminta anak yang tidak diinfus pindah ke brankar dan membimbing mereka berdoa sebelum makan lalu mulai menyuapi keduanya.
“Lho YA, kenapa kamu di sini? A’a siapa yang suapin?” tanya seorang ibu yang baru saja masuk ke ruangan itu sambil membawa satu tas plastik besar.
“Kak, kenalkan bu Achdiyat. Mamahnya Bastian,” seru Julia sambil terus menyuapi kedua bocah itu dan mereka asyik bercerita.
“Assalamu’alaykum Bu,” dengan sopan aku menyalami bu Achdiyat. “Neng, saya langsung pamit saja. Akan menjenguk teman,” kataku undur diri.
August end POV
***
“Minum obat sebelum makan dulu ya?” Julia memberikan 2 butir obat yang harus diminum Bastian minimal 30 menit sebelum makan. Tanpa banyak membantah Bastian menerima gelas dari Julia dan langsung menelan 2 butir obat itu. Dilihatnya Julia memasang alarm agar tidak lupa. Bastian menyerahkan kembali gelas berisi air putih pada Julia.
“Apa yang kamu rasakan hari ini? Apa kata dokter?” tanya Julia sambil membenarkan rambut Bastian yang jatuh ke dahi lelaki itu.
“Feel better. Dan ini kantung darah terakhir. Selanjutnya tinggal tunggu recovery saja,” balas Bastian sambil mengambil jemari Julia dan mengecupnya dengan penuh perasaan.
“Aku enggak yakin langsung bisa recovery. Kamu tu lebih parah dari Topan. Dia saja yang tidak harus tambah darah, baru sore ini akan buka infus. Bagaimana kamu bisa bilang tinggal recovery?” Julia tentu saja tak percaya kata-kata Bastian yang menurutnya menyesatkan.
“Aku serius honey, kamu lah penyebab aku akan cepat pulih. Andai kamu datang lebih cepat, aku yakin Topan juga akan cepat sembuh,” Bastian tambah ngeyel. Karena dia yakin semangat hidupnya ada karena kedatangan Julia. Dia menarik tangan yang berada dalam genggamannya agar bisa mencium pipi Julia.
“Jangan main tarik gitu,” protes Julia. Dia mendekatkan dirinya agar Bastian lebih mudah menjangkaunya. Dia sodorkan pipnya agar lelaki gagah itu leluasa mencium pipinya. Tapi bukan Bastian namanya bila diberi kemudahan seperti itu tak memanfaatkannya. Dia memeluk Julia dan memberi kecupan singkat di bibir gadis itu.
“A’a iiih, malu ‘kan bila ada yang masuk,” protes Julia.
“Jam segini enggak ada yang masuk. Dan aku yakin mamah juga sudah tertidur bareng Guntur dan Topan,” jawab Bastian santai. Dia bahagia karena gadisnya tak marah. Gadisnya hanya protes manja saja.
Julia membuka plastik wrap karena alarm sudah berbunyi. Dia mulai menyuapi Bastian. “Kamu sendiri apa sudah makan?” tanya Bastian disela suapan yang Julia lakukan.
“Aku tadi sudah sarapan, dan untuk siang aku sudah membelikan mamah dan aku makan siang. Itu makan siangku,” Julia menunjuk sterofoam yang berisi makan siangnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa
judul cerita TERJERAT GAIRAH PELAKOR penulis R. ANGELA pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya
Cerita ringkasnya seperti ini :
Rayana Hasianna, tidak pernah menyangka rumah tangga yang sudah dibina selama 2 dua tahun, harus kandas di tangan pelakor yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Rayana tidak pernah menyangka kalau sore itu dia akan melihat ranjang yang selama ini menjadi milik pribadinya bersama suami, harus digantikan oleh, Lani, sahabatnya sendiri.
Bertekad ingin membalas dendam atau menyelamatkan rumah tangganya, Ray memilih pura-pura tidak mengetahui perbuatan mesum kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
Bagaimana kisah Ray? akankah hati yang sudah hancur berkeping-keping bisa ditata kembali?
Akankah Ray berhasil mendapatkan cinta suaminya lagi, atau memang takdir berkata lain?
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi tidak untuk melupakan, rasa sakit ini." - Rayana Hasianna.