
“Mom. Dede Yara boleh kak A’i kasih ice cream?” tanya Fahri.
“Belum Kak, Yara bahkan belum boleh makan bubur bayi,” jawab Laura. “Kakak suapin Mommy aja sini.” Tanpa ragu Fahri menyuapi Laura. Semua itu terlihat jelas oleh August, Ilyas dan Syahrul dari tempat yang berbeda. Augus dan Syahrul mengamati dari sudut tempat mereka duduk, agak jauh dariLaura, sedang Ilyas berada tepat di depanLaura sambil menggendong Yara yang tadi ingin disuapi Fahri.
“Hahaha, jatah dede Yara dimakan mommynya ya Kak A’i,” Ilyas menetralisir kecembuaruannya terhadap anak Syahrul. Dia melihat kedekatan mereka sebagai batu sandungan.
“Iya Om. Mommy curang!” jawab Fahri tapi tetap saja terus menyuapi Laura.
“Bisa minta nomor pribadimu?” tanya August, dia segaja kembali mendekat.
“Buat apa Pak?” Laura tentu bingung.
“Foto-foto kita berdua, apa bisa dikirim ke nomor yang tercantum di kartu nama?” pancing August.
“Oh …, 0811 ….” Laura menyebut nomor pribadinya untuk August save. “Mohon foto yang dengan teman-teman tadi Bapak mintakan, dan Bapak kirim juga ke nomor saya ya. Saya tak ingin nomor pribadi saya diberikan pada yang lain. Atau foto yang dari team anda bisa anda kirim ke nomor panti saja tidak apa-apa. Nanti biar saya save dari nomor panti.”
“Panggilnya koq bapak? Saya tua banget ya?” protes August.
“Hahahaha, enaknya dipanggil apa?” tanya Laura santai. Barusan Fahri mendekatinya dan minta dipangku.
“Terserah, asal jangan panggilan untuk orang tua. Kamu panggil Dik juga saya enggak nolak koq,” canda August. “Jagoanmu ngantuk tuh,” August memberitahu Laura melihat Fahri sudah terkantuk.
“Iya, terlalu lelah dan kenyang, dia biasa begini,” Laura membenarkan posisi Fahri agar nyaman tidur dalam pangkuannya. Dia hafal kelakuan jagoan Syahrul, karena sudah sejak anak itu berusia 4 tahun Laura biasa mengasuh dengan sayang bila mereka bertemu.
“Maaf merepotkanmu, bisa saya ambil?” suara berat Syahrul mengganggu keasyikan ngobrol antara August dan Laura.
“Enggak ngerepotin koq Dok,” jawab Laura santai. “Tapi jangan diambil sekarang, dia belum lelap, nanti rewel.” Laura mencegah Syahrul mengambil Fahri.
‘Sebegitu perhatiannya dia pada anak orang lain, aku yakin dia akan menjadi ibu yang sangat sempurna,’ August malah melamun melihat perlakuan Laura pada Fahri.
Syahrul yang mendapat respon seperti itu dari Laura lalu menjauh. Dia tak ingin August menilai salah. Dia harus menutupi kedekatannya dengan Laura dari siapa pun.
Akhirnya semua tamu pulang, ups … belum semua. Syahrul masih terpaksa belum bisa pulang karena Fahri masih tidur dan tak lama Nazwa juga ikut tidur di panti. Mereka tidur di kasur balita yang memang berukuran kasur dewasa tapi ada pagarnya bila yang tidur adalah balita. Untuk mencegah balita jatuh.
Saat ini Syahrul sedang ngobrol dengan mang Ujang dan pak satpam yaang sedang mengawasi pekerja penyewaan tenda membongkar tenda yang disewa oleh panti. Laura, sejak Nazwa tidur juga sudah pulang ke rumah belakang. Dia juga tentu tak mau terlihat mengistimewakan dokter Syahrul.
Hari Sabtu dan Minggu memang sejak dulu Syahrul libur. Sejak dia menikah. Entah mengapa mantan istrinya membuat alasan tak betah menjadi istri dokter yang sibuk. Setelah setahun perceraiannya, baru mulai terungkap, sang mantan istri CLBK dengan kekasih pertamanya ketika SMP. Syahrul baru tahu 2 tahun lalu dari temannya sesama dokter yang memberitahu, 4 bulan sejak resmi bercerai, istrinya menikah kembali dengan seorang DOKTER!!!!!
***
August baru sampai apartementnya saat mendapat telepon ada pemberitahuan jadwal. Besok pagi dia harus menggantikan temannya yang harus pulang ke Solo karena ada acara keluarga dadakan. ( ada di cerita karya yanktie dengan judul antara kelud ~ merapi, tapi bukan di pf ini ). Padahal seharusnya baru lusa siang dia terbang kembali. Terpaksa August tak jadi keluar rumah. Dia memesan makan untuknya nanti malam. Jangan kira dia pesan makanan dengan ojek online. Dia langsung pesan ke rumah makan langganannya. Sejak ojek online belum bisa pesan makanan, dia sudah terbiasa beli via telepon pada rumah makan langganannya ini. Jika ada tamu mendadak pun dia tak perlu khawatir.
Sambil menunggu pesanan datang August bergegas mandi. Dia juga mengumpulkan pakaian kotornya dan meminta pegawai laundry mengantar baju bersihnya serta akan dia tukar dengan pakaian kotornya.
Setelah mandi dan makan baru August memeriksa email yang di kirim dari team fotographynya. Dia memang minta dikirim semua foto dan video dari team 1 dan team 2. Tentu saja yang pertama dia cek adalah kiriman team 2. Sengaja dia buka email di laptopnya agar bisa lebih jelas melihat foto-foto kegiatan pagi tadi. August bersyukur kegiatan amal yang dilakukan kelompoknya berjalan lancar. Dia juga senang karena tadi ada beberapa istri anggota genk motornya yanag menyumbang dadakan. Mereka tersentuh melihat para bayi dan balita yang menghuni panti asuhan pimpinan Laura. Saat sedang mengamati banyak foto tentang Laura,August menatap foto candid yang membuatnya sedikit kecewa. Fokus foto adalah saat pidato pamong daerah setempat. Tapi diujung foto terlihat tangan dokter Syahrul melingkar di pinggang Laura. Walau mereka bukan fokus foto, tapi karena berkaitan dengan Laura, mata August selalu jeli melihatnya.
‘Apa mereka punya hubungan khusus sehingga di tempat ramai pun dokter Syahrul berani melingkarkan tangannya ke pinggang Laura?’ August menerka-nerka arti tangan Syahrul di pinggang Laura.
‘Tapi apa urusanku selalu memperhatikan gadis itu? Apa aku mulai tertarik lagi pada perempuan? Cukup luka yang aku berikan pada Julia. Aku tak ingin memulai kisah baru. Setidaknya saat ini,’ August memantapkan hati untuk tidak memulai kisah baru.
***
Laura sedang memperhatikan foto-foto kiriman Nazwa dan Syahrul juga foto-foto dari ponsel nomor panti. Dari ponselnya sendiri dia sama sekali tak membuat foto pada acara tersebut. Dia cukup sibuk sehingga tak sempat membuat foto.
‘I love U Mom.’
‘Nice shoot make we like happy fams.’
‘U look so pretty in this frame.’
Dan banyak chat yang Nazwa kirim bersama foto-foto kebersamaannya dengan gadis kecil itu.
Sedang dari Syahrul hanya satu chat yang menjadi attensi Laura. ‘Fahri dan Nazwa sangat menyukai foto ini,’ pada foto itu mereka ber empat sedang tertawa lepas dan merupakan foto candid dengan ponsel Syahrul yang sengaja dia berikan pada Karni. Tapi rupanya Karni banyak menjepret saat mereka belum bergaya. Sehingga didapat foto natural itu.
Sejak di mobil memang Nazwa sudah meminta pada Syahrul untuk melihat jepretan camera ponselnya hari ini. Untung Syahrul selalu memindah foto atau file lain di folder yang terkunci. Sehingga Nazwa hanya bisa melihat foto yang masih tersimpan di folder camera saja.
\==================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta