TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PAMIT



“Selama ini sepulang sekolah saya kerja di supermarket. Kalau saya bilang pada bibi dan paklek, saya pindah kerja dan mengharuskan tidur di mess karyawan tentu paman tak keberatan. Bibi tentu akan suka karena dia bilang saya hanya benalu yang numpang hidup saja di rumahnya. Sejak bulan ke tiga saya tinggal di rumah paman, saya sekolah membayar sendiri dari uang gaji paruh waktu saya di supermarket. Karena bibi bilang dia tidak sanggup menanggung biaya sekolah saya,” jawab Wulandari.


“Ok, saya akan bantu kamu. Saya akan terima kamu kerja di sini kalau kamu datang ke sini diantar paklekmu sebagai dasar kalau kamu tidak kabur. Sebutkan nama asli paklekmu dan alamatnya sekarang agar besok saya bisa cek KTP nya. Yang ke dua, kamu kerja di sini paruh waktu, maka gaji kamu juga separo. Kamu ada percobaan 3 bulan, kalau tidak lulus kamu harus keluar. Soal pekerjaan, kamar dan gaji nanti akan ada mbak Karni dan Nengsih yang akan mengatur. Bukan dengan saya lagi,” akhirnya Laura kembali menerima pegawai baru hanya karena tak tega ada orang menderita.


Sukma mencatat nama dan alamat oknum yang diakui oleh Wulandari sebagai pamannya. Karena kalau hanya lisan takutnya bisa dibilang salah ucap. Setelah itu Wulandari mohon pamit pada Laura dan Sukma.


‘Anak itu sangat hebat motivasi untuk majunya. Gadis lain mungkin akan menyerah tak mau lagi melanjutkan sekolah. Aku akan membantunya sesuai kemampuanku,’ walau di bibir Laura bilang hanya menerima sebagai pegawai sesuai ketentuan. Namun di hatinya dia akan membantu agar Wulandari bisa berkembang maksimal. Itulah sosok peri dalam diri Laura. Laura kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan membuat design baju.


***


“Paklek, kulo bade matur,” malam saat sehabis salat isya Wulandari bicara pada pamannya yang sedang mengelap motor tuanya yang habis dia cuci. Ndari, demikian biasa pamannya memanggil bilang pada pamannya kalau dia ingin bicara. Dengan adik ibunya ini memang dia selalu berbahasa Jawa. Selain menghormati leluhurnya, juga agar bibinya tak terlalu mengerti. Saat itu sang bibi dan 3 anaknya sedang asyik menonton sinetron sehabis makan malam. Memang siang tadi sepulang sekolah Ndari sudah izin keluar dari mini market tempatnya bekerja. Jadi besok dia bisa pindah ke panti asuhan.


“Nang opo cah ayu?” sahut pamannya yang bertanya, ada apa cantik? Sang paman memang sangat mencintai anak kakaknya yang dia bilang wajah Ndari selalu mengingatkan pada almarhumah sang kakak. Karena bantuan ibu Ndari lah sang paman bisa menamatkan STM nya sehingga bisa kerja di sebuah bengkel. Karena orang tua sang paman yang hanya buruh tani sudah sakit-sakitan jadi tak ada biaya untuk sekolah sang paman. Untuk berobat dan makan saja sangat kurang. Akhirnya sang kakak yang suah menikah menampung adiknya dan menyekolahkan hingga tamat STM.


“Benjang kulo bade pamit, kulo pindah nyambut ndamel teng panti asuhan. Pegawene mesti tilem mriko,” Wulan, demikian biasa ia dipanggil oleh orang sekitarnya mengatakan besok dia mau pamit karena pindah kerja di panti asuhan. Dan pekerja panti harus tinggal di sana.


“Lha, pegaweanmu nang mini market piye Nduk?” sang paman bertanya, bagaimana dengan pekerjaan Ndari di mini market.


“Teng mriko njih sae Paklek, nanging kulo ‘kan mboten saget bebas sinau, kulo meh ujian, mesti katah moco pelajaran. Nek teng panti ‘kan nek bayi-bayi sampun tilem kulo saget sinau,” itu alasan yang Wulan katakan pada pakleknya. Dia bilang di mini market juga bagus, tapi dia tidak ada waktu untuk belajar. Dia juga katakan hampir ujian sehingga harus banyak membaca pelajarannya. Kalau di panti sehabis para bayi tidur, dia bisa belajar. Wulandari gadis yang baik. Dia tak membuat alasan dengan menjelekkan tempat kerjanya yang lama. Dia membuat alasan yang sangat masuk akal yaitu butuh waktu belajar.


“Paklek ra iso ngganduli kowe Nduk, Paklek mung iso ndongake kowe sukses. Paklek malah isin karo wong tuwomu ning suwargo, anake koq malah disio-sio. Sing njembar ngapuromu yo Nduk,” sang paman sangat sedih. Pakleknya bilang tak bisa menahan, hanya bisa mendoakan saja agar Ndari sukses. Pamannya malu pada kedua orang tua Ndari di surga, karena anaknya malah hidup dengannya disia-sia.


“Injih Paklek, mboten nopo-nopo. Kulo maturnuwun sanget pun pareng numpang teng mriki,” sahut Ndari lagi. Dia katakan tidak apa-apa. Ndari berterima kasih sudah boleh numpang di rumah itu.


“Kaleh niku Paklek, kulo bade nyuwun tulung, mbenjang mesti diterke teng panti. Mergo ibu panti mboten purun nampung pegawai sing minggat saking omahe. Dados mesti diaterke kalih diprisani KTP sing ngeterke,” Ndari memberi tahu pamannya dia juga minta tolong diantarkan ke panti. Karena ibu panti tidak mau menerima pegawai yang datang karena kabur dari rumah. Jadi pengantar harus memperlihatkan KTPnya. Ini sengaja Ndari beritahu lebih dulu agar pamannya tidak kaget saat diminta memperlihatkan tanda identitasnya di panti nanti.


Wulandari segera masuk ke kamarnya dan mulai memasukkan buku serta pakaiannya ke dalam kardus yang tadi dia sudah bawa dari mini market. Untuk membawa semua dus, tadi 2 temannya mau membantu mengantarkan ke panti dengan 2 motor mereka. Wulan memang cerita dia pindah agar tidak ditindas sang bibi. Namun dia tak menceritakan tentang aibnya dijual sang bibi dan sedang hamil.


***


Paginya Wulan masih biasa, menyapu dan mengepel rumah serta membuat sarapan bagi semua penghuni rumah. Lalu dia segera bersiap berangkat sekolah. Dia bersyukur tidak mengalami morning sickness atau lemah. ‘Makasih ya sayang, kamu ngertiin kondisi ibumu,’ dengan lembut Wulan mengusap perutnya sambil memperhatikan angkot yang akan menuju ke sekolahnya. Sepulang sekolah Wulan sengaja tak langsung pulang ke rumah. Bisa banyak pertanyaan dari bibi nya bila dia di rumah. Dia sengaja ke perpustakaan. Dan akan pulang saat ashar langsung dengan kedua teman yang akan membantunya pindahan. Sang bibi tak aneh ada beberapa rekan kerja Wulan sering main sekedar pinjam buku atau bertanya tentang pelajaran. Wulan sudah berniat akan pamit mendadak ketika sang paman sudah di rumah agar ada backing bila si bibi masih mau menahannya.


“Kamu koq ke sini?” tanya teman yang akan membantunya.


“Kalau aku di rumah, nenek lampir akan curiga. Lebih baik aku menunggu kalian di sini saja,” jawab Wulan. Dia sengaja duduk di luar mini market. Karena biar bagaimana pun dia sudah bukan pegawai di sana lagi.


“Ya sudah. Sabar ya, sepertinya Krismi juga mau ikutan. Dia ‘kan sekarang sedang off. Jadi kita sekalian nunggu dia,” jawab sang teman lalu kembali masuk ke min market. Tak enak lama ngobrol bila masih jam kerja.


“Iya, aku menunggu di sini aja.”


=========================== 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta