TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
TAK PERLU MENGEJAR CINTANYA LAGI



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lalu Julia mengambil puding buah yang dia buat untuk kedua pacarnya. Mereka bertiga bercerita dengan bahagianya tanpa mempedulikan 3 orang dewasa yang tak lepas memperhatikan mereka. Julia menyuapi kedua pacarnya bergantian. “Habis ini Aunty pamit ya, jangan lupa kalian langsung tidur,” Julia mulai mempersiapkan mental pacar-pacar kecilnya bahwa dia akan pamit.


“Ok,” jawab Guntur dan Topan hampir berbarengan. Mereka percaya Julia pasti akan memenuhi janjinya pada mereka. Setelah puding habis dan Julia membasuh mulut kedua jagoan kecil itu dengan tissue basah agar tidak lengket, maka Julia pamit pada keduanya.


“Aunty pamit ya sayangku,” Julia mencium Topan dan Guntur bergantian.


“Ibu, Bapak, saya pamit dulu,” Julia pun pamit pada pasangan suami istri Achdiyat.


“Terima kasih kamu mau datang untuk mereka,” bu Adi hanya bisa memeluk dan mencium kedua pipi gadis muda yang dia harap bisa berjodoh dengan anak bungsunya.


“Terima kasih ya YA,” pak Achdiyat menepuk lembut mantan sekretaris yang sejak dulu sudah dia anggap sebagai putri bungsunya.


“Aku antar,” Bastian memberanikan diri berkata, setelah sejak perempuan cantik itu masuk ruang rawat inap dirinya tak dianggap sama sekali.


Tanpa menoleh apalagi menjawab, Julia langsung keluar ruangan setelah memberi ucapan salam.


“Kita perlu bicara YA,” Bastian memegang pergelangan tangan Julia dengan lembut dan terus menggandengnya. Julia diam tak memberontak, dia merasa tak enak bila menjadi tontonan sepanjang koridor rumah sakit. Julia terus melangkahkan kakinya menuju lokasi mobilnya terparkir.


“YA, please beri waktu aku buat bicara,” Bastian memohon pada Julia.


Julia menghentikan langkahnya. “Silakan bicara,” jawabnya datar.


“Ya enggak sambil berdiri di jalanan juga lah, kita ke cafe dulu ya?” pinta Bastian lembut. Karena Julia diam maka Bastian menggandeng perempuan yang dipujanya itu ke cafe seberang rumah sakit.


“Kamu mau makan atau minum apa?” tanya Bastian.


“Tidak usah. Saya tidak mau makan atau minum,” jawab Julia formal, dengan  menggunakan kata saya.


‘Dia masih sangat marah,’ Bastian memandang wajah Julia dengan penuh penyesalan. “Minta capuchino dingin 2, yang satu es nya sedikit saja.” Bastian memesan minuman pada pramusaji yang menghampiri meja mereka.


“Tambahan lainnya Pak?”


“Sementara itu saja dulu!”


“YA, A’a minta maaf ya,” dengan tulus Bastian meminta maaf. Dia pegang jemari Julia dan dikecupnya.


“Saya sudah maafkan. Masih ada yang ingin anda bicarakan?” tanya Julia tanpa mau memandang Bastian.


“Kamu hanya memaafkan di mulut, tapi tidak dari hatimu,”keluh Bastian. “if you forgive me, look my eyes when we talk.”


Tanpa ragu Julia memandang Bastian, dia ingin menguji apa yang dia rasa saat ini terhadap lelaki di depannya. ‘Matanya sendu dan ada gurat putus asa. Wajahnya tirus dan tidak fresh,’ selintas Julia memindai wajah Bastian.


“Apa A’a tidak pantas mendapat maafmu? Apa tak ada yang ingin kamu jelaskan dengan kepergianmu? Apa A’a sama sekali tak ada artinya bagimu?” Bastian memberi pertanyaan beruntun dengan penuh putus asa.


“Seperti saya bilang tadi. Saya sudah memaafkan Anda. Tak ada yang perlu saja jelaskan tentang kepergian saya. Saya sudah bukan pegawai Anda lagi pak Bastian.” Lugas Julia menjawab dua pertanyaan Bastian. Tersisa satu pertanyaan terakhir yang dia bingung harus menjawab apa atau bagaimana.


Bastian putus asa mendengar barisan kata yang keluar dari mulut Julia. Kata-kata formal dan datar. Seakan mereka tak pernah dekat dan saling menyayangi. “Apa A’a sama sekali tak ada artinya bagimu?”


“Baiklah, silakan diminum dulu. Dan saya pamit,” Bastian menghabiskan minumannya lalu dia menuju kasir dan keluar cafe tanpa mengindahkan Julia yang masih terpaku di kursinya.  Bastian merasa sudah tak perlu dia memperjuangkan cinta Julia. Dia merasa hati perempuan muda itu sudah tertutup rapat untuknya. Bastian sampai dititik terendah rasa percaya dirinya. Ditambah dia merasakan badannya sangat lelah.


***


Pagi ini Namira belanja lebih banyak, karena ternyata banyak pesanan risol frozennya, dia memang meninggalkan nomor ponsel dikemasan risol dan donatnya. Ternyata pesanan yang frozen malah banyak masuk lewat chat. Dia membeli banyak bahan baku dan juga mika untuk kemasan. Namira bersyukur bisa mendapat income sendiri. Karena sekarang hari Minggu maka jelas Ilyas mengetahui kepergian Namira. Saat Namira pulang dilihatnya Ilham dalam gendongan Ilyas. “Maaf kalau Ilham merepotkan Aden,” Namira segera memasukkan bahan belanjaannya. Dia mencuci tangannya dengan sabun dan mengeringkannya lalu bergegas ke depan untuk mengambil Ilham.


“Apa dia ingin minum?” tanya Ilyas dengan masih mendekap Ilham erat.


“Tidak Den,” jawab Namira dengan tertunduk.


“Lalu mengapa dia tak boleh aku gendong? Mengapa mau kamu ambil?” tanya ilyas dengan nada tak suka.


“Saya takut Aden terganggu,” jawab Namira lagi.


“Kamu kerjakan saja tugasmu. Nanti bila Ilham membutuhkanmu akan saya berikan dia. Sekarang biar dia denganku dan Nindi,” ilyas segera berlalu meninggalkan Namira yang diam terpaku.


Namira cepat ke dapur, dia segera membereskan semua belanjaannya. Memisah bahan kering dan kemasan dengan bahan basah yang akan dia olah. Mumpung ada yang memegang ilham. Biasanya bila ilham sudah kenyang dan belum tidur, bayinya di baringkan di kasur lantai yang dia gelar di pojok dapur sehingga dia tetap bisa bekerja. Tentu hal itu tak akan berani dia lakukan bila ada dokter Ilyas di rumah. Saat ini dia dahulukan masakan bagi orang rumah. Tadi bik Iyah merencanakan masak sayur asem, dengan lauk tahu dan ikan asin goreng dilengkapi sambal dan lalapan. “Kamu sudah pulang belanja?” bik Iyah yang baru selesai mencuci tak menduga kalau Namira sudah sampai rumah.


“Sejak tadi Bik, ini sayur asem sudah mau matang. Tinggal bikin sambal sambil menggoreng tahu lalu ikan asin,” Namira menjawab sambil menyiapkan bahan sambal. Bibik mengupas ketimun dan memotong kacang panjang muda yang akan dihidangkan sebagai lalap. Setelah semua menu makan siang siap, Namira langsung mengerjakan adonan isi risol yang hendak dia buat. Namun beberapa kali dia mengintip Ilham, dia takut putranya merepotkan majikan mereka.


“Paman, ini apa sudah benar?” tanya Nindi memperlihatkan rakitan lego yang dibuatnya.


“Jika kamu ikuti petunjuk gambar, kamu akan bisa buat seperti yang tertera. Tapi kamu juga bisa membuat sesuai keinginanmu. Jadi tidak ada benar atau salah. Itu bisa kita sesuaikan dengan keinginan kita sendiri,” jawab Ilyas bijak. Dia ingin Nindi tidak terpaku pada contoh gambar yang ada, melainkan berkreasi sesuai dengan imajinasinya sendiri.


“Jadi aku enggak harus bikin seperti contoh?” Nindi memperjelas ucapan Ilyas.


“Kamu bisa membuat sesuai contoh gambar. Tapi kamu juga bisa membuat sesuai keinginanmu sendiri,” kembali Ilyas memberi motivasi pada anak usia hampir sepuluh tahun itu.


“Ok, kalau begitu aku akan membuat sesuai dengan contoh dulu, nanti baru aku akan buat sesuai keinginanku!” Nindi memutuskan apa yang akan dia buat selanjutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


judul cerita  MY SEXY BODYGUARD, I LOVE YOU  penulis EVELINIQ   pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


Cerita ringkasnya seperti ini :


My Sexy Bodyguard I love you


DIA MENOLAK DAN TERUS MENOLAK TAPI PADA AKHIRNYA IA TAK MAMPU MENOLAK PESONA BODYGUARD PRIBADINYA


Seorang gadis bernama Cinta yang berasal dari keluarga yang kaya, mandiri, pintar dan baik hati.


Pada suatu ketika saat orang tuanya hendak tinggal di luar negeri untuk waktu yang agak lama memutuskan untuk memberi anak tunggal seorang bodyguard pribadi.


Cinta menolak dan terus menolak merasa mampu dan tidak membutuhkan seorang bodyguard.


Tetapi takdir berkata lain akhirnya ia jatuh cinta dan bertekuk lutut pada pesona bodyguardnya


Ikuti kisahnya bagaimana pesona seorang bodyguard bisa mengalahkan beberapa cowok cowok tajir dan ganteng lainnya. bahkan menundukan kedua orang tua Cinta