
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\===============================
“Ilyas.”
“Nadia.”
“Duduk saja, maaf kalau saya duduk, anak kami suka ngambek,” Ilyas mempersilakan Nadia duduk.
“Bund, Ayah bawa dede jalan ya?” Ilyas pamit pada Namira. Dia tahu perempuan itu ingin bercerita tanpa ada dia antara mereka.
“Iya Yank, dede udah kenyang koq,” Namira berdiri sebentar untuk menciumi pipi Ilham.
“Jangan rewel ya sayangnya Bunda. Sama Ayah dulu,” Namira berpesan pada Ilham seakan bocah itu sudah mengerti.
“Yank, nanti kesini lho. ‘Kan barusan pesan es teler,” Namira mengingatkan Ilyas tentang es teler yang tadi dia pesan.
“Semoga aja dede enggak dapat Bunda baru yang bikin Ayah lupa balik kesini,” canda Ilyas yang langsung mendapat cubitan diperutnya.
“Sakit Honey,” keluh Ilyas sambil meringis kesakitan.
“Makanya jangan asal ngomong sembarangan depan anak,” balas Namira keqi.
Ilyas langsung memeluk Namira dengan lembut dan mencium kening perempuan itu. “Cuma becanda koq Babe. Ya udah Ayah bawa dede jalan ke taman ya.”
“Aku masih enggak ngerti. Ilham anakmu. Tapi Ilyas baru calon suamimu,” Nadia langsung bicara saat Ilyas baru saja pergi beberapa langkah meninggalkan mereka berdua.
“Ilham memang bukan anak Ilyas. Ilham anak kakak iparku. Dia hasil perkosaan,” sahut Namira getir. Dia sangat pilu bila mengingat awal kejadian itu.
“Cerita dimulai saat mertua kakakku sakit. Lalu kakak iparku meminta aku mengurus Nindi, anak Almira. Kamu ingat Nindi dan teh Almi ‘kan?” tanya Namira.
“Ingatlah. Aku masih waras belum lupa ingatan,” sahut Nadia. Dia kenal Mira sejak SMP. Jadi tahu tentang latar belakang keluarga sahabatnya itu.
“Teh Almi memintaku lewat telepon untuk pindah ikut ke rumah yang dia bangun. Aku jangan tinggal kost lagi. Akhirnya dengan berat hati aku pindah ke rumah kak Almi. Satu bulan pertama aku aman. Kak Almi pun masih terus mengirim uang untuk anak dan suaminya lewat rekening yang dia buat sebelum berangkat ke Taiwan. Tapi bulan kedua ibu kang Halim meninggal dan kang Halim makin sering mabuk.” Namira menjeda ceritanya. Saat itu pelayan kios mengantar dua mangkuk es dan sebuah gelas berisi juice.
“Suatu pagi sehabis Nindi berangkat sekolah kang Halim yang baru masuk rumah memperkosaku. Dan itu terjadi kembali seminggu kemudian. Sejak saat itu aku tak pernah mau dirumah bila tak ada Nindi,” Namira mulai meminum sedikit juicenya.
“Penderitaan belum berakhir. Saat aku tahu aku hamil, banyak orang datang menagih hutang karena rumah digadai oleh kang Halim dan dia tak pernah bayar angsuran. Aku menghubungi teh Almi saat kami diusir dari rumah itu.” Namira mulai terisak.
“Saat itu teh Almi mengirim sedikit uang untuk aku gunakan. Aku langsung mencari kamar kost sederhana dan membayar satu tahun agar tidak bingung. Sisanya aku pakai untuk makan. Bulan berikutnya masih masuk kiriman dari Taiwan ke rekeningku cukup besar. Seperti yang biasa rutin teh Almi kirim untuk suaminya. Tapi bulan berikutnya teh Almi sudah tak pernah mengirim apa pun. Dia tak pernah bisa dihubungi lagi,” Nadia tak percaya sahabatnya menderita seperti itu.
“Aku bertahan hidup dengan uang terakhir dari teh Almi. Untuk makan sehari-hari aku menjadi buruh cuci. Sampai Ilham lahir dan Nindi terpaksa berhenti sekolah,” lanjut Namira.
“Sejak itu aku mengajukan cuti kuliah dan mengganti nomor ponselku agar tak dihubungi Wisnu. Aku sendirian saja keluarga Wisnu memandangku dengan ji-jik. Terlebih ada ilham dikandunganku,” cetus Namira sedih.
“Ternyata kak Almi mendengar aku main gila dengan kang Halim sehingga aku hamil. Itu sebabnya dia membenciku dan membuang Nindi. Dia juga tak mau mengirimiku uang untuk hidup Nindi. Dia pikir Nindi hidup dengan ayahnya.” keluh Namira.
“Saat Ilham berusia tiga puluh hari aku sudah tak punya uang untuk hidup. Sepanjang hari aku hanya makan bubur agar beras yang tersisa cukup mengganjel perutku dan perut Nindi. Diusia Ilham tiga puluh lima hari aku mulai keliling kampung menawarkan tenagaku. Saat itulah Ilyas mendengar tangis Ilham yang dalam pangkuan Nindi sedang aku tinggal mencuci. Dari situ kehidupan kami mulai berubah,” Namira mengingat dengan jelas kejadian itu.
“Ilyas membantuku karena kasihan pada Ilham. Dia lalu membawaku ke Bandung. Aku diberi fasilitas layaknya adik. Tapi aku tahu diri. Aku anggap aku adalah pembantu dirumah itu. Aku tetap bekerja layaknya pembantu. Aku pun berjualan risol dan kue lainnya untuk persiapan hidupku bila nanti harus pindah dari rumah Ilyas.” Namira menghela napas panjang.
“Aku baru menerima cintanya tiga hari lalu. Selama ini aku tak berani membalas cintanya karena menganggap diriku tak pantas untuknya.” Namira mengambil ponselnya untuk memanggil Ilyas.
“Dimana Yank?” tanya Namira saat teleponnya diangkat oleh Ilyas.
“Dihatimu Honey,” jawab Ilyas dengan cool.
“Aku serius sayank,” Namira merajuk.
“Tengok kebelakang,” pinta Ilyas. Ternyata Ilyas sudah dibelakang Namira walau tak terlalu dekat. Ilham sudah tidur dan posisinya sekarang menghadap dadaa Ilyas, bukan menghadap depan lagi.
“Sini, biar dede sama Bunda,” pinta Namira.
“Udah santai aja. Ayah bisa koq makan es sambil gendong dede,” jawab Ilyas. Nadia melihat Ilyas sangat mencintai Namira dan Ilham.
“Kamu ada kuliah?” tanya Ilyas pada Nadia.
“Hari ini free Om,” sahut Nadia.
“Kesannya aku tua banget ya Honey, temanmu panggil Om ke aku,” Ilyas sedikit terkekeh mendengar panggilan om dari Nadia.
“Masih bagus enggak dipanggil Aki,” balas Namira dengan jenaka.
“Lihat Bunda mu De. Apa Ayahmu setua itu?” Ilyas berkata lirih pada Ilham yang tertidur didadanya.
“Bun, teteh barusan telepon Ayah. Dia minta sore main dengan Gilang dan Galang bersama Ayah tanpa dede. Dia bilang Ayah sekarang curang enggak bawa dia,” Ilyas cerita tadi Nindi menghubunginya menggunakan telepon bik Iyah.
“Jadi Nindi juga jadi anak kalian?” tanya Nadia.
“Dia anakku,” sahut Ilyas cepat. “Anak itu sudah dibuang ibu dan ayahnya. Jadi dia resmi anakku. Begitu aku dan Namira menikah, aku akan urus resmi adopsinya.”
Namira kaget mendengar Ilyas menyebut rencananya. Dia tak pernah menyangka Ilyas sangat bertanggung jawab pada Nindi.
‘Aku tak perlu lagi memberitahu Wisnu tentang Namira. Dia sudah mendapat pria terbaik. Wisnu mungkin akan menerima Namira, tapi belum tentu menerima Ilham dan Nindi seperti yang Ilyas lakukan,’ Nadia akhirnya memutuskan tak akan melaporkan apa yang dia tahu soal Namira pada Wisnu.
“Makasih Yank,” Namira berdiri dan memeluk Ilyas yang masih tetap duduk menikmati es telernya.
“Bund, udah jam satu nih. Kamu ambil berkasmu. Kita nanti ketinggalan salat,” Ilyas memberitahu Namira untuk mengambil berkasnya.
“Kamu tunggu disini Yank?” tanya Namira.
“Kenapa? Mau ditemani lalu kita sekalian pulang?” tanya Ilyas.
“Iya gitu aja, biar enggak bolak balik,” balas Namira. Mendengar itu Ilyas menghabiskan es teler miliknya.
\===================================
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : AZELLEA RENSIMA
Judul cerita : TAUTAN TAKDIR