TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MEMULAI CERITA



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ilyas memandangi ilham yang masih dalam gendongannya. Tadi sehabis makan malam jagoan kecil itu terdengar menangis padahal Namira ada di kamar. “Bik, coba lihat mengapa ilham menangis padahal ibunya ada di kamar,” perintah ilyas.


“Ibunya sedang salat Den,” bibik membawa keluar ilham yang masih terisak dalam gendongannya. Ilyas langsung mengambil alih jejaka kecil itu dan menina bobokannya sampai ilham tertidur. Sejak tadi Namira sudah selesai salat dan hendak mengambil ilham, tapi ilyas menggeleng dan memberi isyarat telunjuknya di bibir agar Namira jangan berisik.


“Kamu makan saja, apa Nindi sudah makan?” tanya ilyas.


“Belum Pak,” jawab Namira lirih sambil menunduk. Kadang dia menyebut ilyas dengan panggilan Pak, kadang Den mengikuti bik Iyah.


“Mulai besok kalian makan bersama saya, sama seperti bik Iyah selama ini.” Ilyas memberitahu Namira. Karena selama ini memang bik Iyah makan bersama dengan dirinya saat sarapan dan makan malam bila dia di rumah. Tak pernah sekali pun ilyas membedakan derajat mereka. Sebaliknya Namira merasa tidak enak, maka dia selalu makan sesudah ilyas selesai.


“Baik Den,” Namira mengangguk lalu mengajak Nindi untuk makan malam. Gadis kecil itu harus segera tidur karena besok mulai sekolah.


“Kamu ingat jalan menuju ke sekolah ‘kan? Hanya ke kanan kalau keluar perumahan,” ilyas memastikan Namira tahu letak sekolah Nindi karena besok hanya Namira yang mengantar keponakannya sekolah.


“Iya, ingat Pak,” jawab Namira lirih.


“Kunci motor di Bibik ya, kalau bisa pulang mengantar bisa mampir warung sayur besar seberang sekolahan sehingga tidak perlu menunggu tukang sayur yang datangnya sangat siang. Bibik tiap hari belanja di depan sekolah. Ada 4 warung di sana,” bibik memberitahu kebiasaannya belanja sayuran.


“Muhun Bik, kasih catatan saja yang mau dibeli biar saya sekalian belanja. Nanti kalau ada yang kurang saya beli saat menjemput Nindi,” jawab Namira. Setiap selesai salat dia selalu mengucap syukur bertemu dengan dokter ilyas yang membantunya tanpa pamrih. Dia selalu mendoakan semoga dokter ilyas dan keluarga bu Novia selalu sehat.


Ilyas menaruh ilham di box nya, sesudah dia puas menciumi bayi yang makin chubby saja. Dia langsung keluar kamar sebelum Namira masuk. Tentu tak enak masuk kamar itu bila ada Namira. Selintas dia lihat kamar ini bersih dan rapi. Tak ada buku atau baju berserakan. Boneka yang ilyas belikan untuk Nindi ada yang diatur di kasur Nindi, ada yang berjajar rapi di meja belajar gadis kecil itu.


“Paman, terima kasih bonekanya. Itu terlalu banyak,” sehabis makan Nindi mendatangi Ilyas di depan televisi di ruang keluarga.


“Sama-sama, enggak apa-apa, ‘kan jenisnya enggak sama,” jawab ilyas sambil mengusap puncak kepala gadis kecil yang duduk di sebelahnya. “Kamu sudah lancar membaca ‘kan?”


“Sudah,” jawab Nindi.


‘Aku akan berlangganan majalan BOBO untuk Nindi di tukang koran di depan rumah sakit,’ demikian Ilyas berniat dalam hatinya mendengar jawaban Nindi. Dia ingin Nindi banyak membaca. “Ya sudah, sekarang kamu bersiap tidur. Besok mulai sekolah. Ingat kamau harus sarapan dulu sebelum berangkat sekolah ya. Sekarang jangan lupa sikat gigi,” ilyas memerintah Nindi segera tidur.


***


Kita kembali kerumah Laura ya.


“Abang yakin mereka jujur, karena sebelum Abang bicara dengan mereka, guru BP bicara lebih dulu,” jawab Syahrul.


Laura diam, kalau dia tidak tahu Nazwa ada di kamarnya, jawaban Syahrul barusan masuk akal. Karena anak SMP tentu tak akan berani bohong bila yang bertanya adalah guru BP mereka. “Saya bisa percaya kamu enggak tahu alasan Nazwa kabur dari rumah. Selama ini apa pernah dia kabur?” pancing Laura. Saat itu bik Sanah mengantarkan sekoteng yang memang sedang ada di rumah. Karena tadi bi Ganis meminta bik Sanah membuatnya.


“Nazwa anak yang manis dan penurut. Dia tidak pernah marah apalagi sampai kabur dari rumah,” dengan jujur Syahrul berkata bahwa Nazwa tak pernah senekat ini. Syahrul tambah sakit mendengar Laura menyebut dirinya dengan kata SAYA, bukan aku lagi.


“Kalau begitu, kamu bisa dong menerka alasan kemarahan Nazwa kali ini. Bohong besar kalau kamu enggak tahu. Kamu tahu dia sakit karena depresi sampai demam. Masa masih bisa bilang enggak tahu alasan dia pergi,” jelas Laura semakin marah mendengar Syahrul bilang Nazwa tak pernah marah besar seperti sekarang.


“Baik, Abang akan cerita,” akhirnya Syahrul menyerah. “Abang yakin waktu di kamar Nazwa sudah cerita selintas alasan dia marah hingga sakit. Tapi serius Abang enggak pernah terpikir kalau akan berakibat fatal seperti ini. Abang dan Nazwa belum sampai diskusi. Abang sedang berupaya memecah persoalan ini. Tapi Nazwa tidak sabar dan bertindak diluar perkiraan,” Syahrul belum masuk ke pokok persoalan. Dia masih tak percaya persoalan ini membuat anak-anaknya begitu marah dan tertekan.


Laura tetap diam. Dia ingin mendengar tuntas persoalan ini versi Syahrul agar bisa menjadi penengah antara anak dan bapak. “Dua minggu lalu ibuku telepon, menyuruhku berkenalan dengan seorang perempuan yang dia rekomendasikan untuk menjadi ibu sambung anak-anakku. Aku tentu langsung menolak. Tapi ibu bersikeras kenalan saja dulu. Soal ke depannya kalau tidak cocok ya tak usah dilanjutkan.” Syahrul mulai membuka cerita perjodohannya.


“Minggu lalu aku memutuskan menerima desakan ibu yang tiap hari menelponku untuk bertemu dengan sosok yang dia calonkan. Sebagai seorang duda, aku membawa kedua anakku saat perkenalan. Saat itu aku dan anak-anak langsung tidak menyukai perempuan itu. Faiza namanya. Dia hanya bicara padaku dan langsung bergelayut manja di lenganku di depan anak-anak. Baru pertama kali langsung seperti itu tentu saja kami ilfill. Terlebih dia tak ada basa basi menawarkan anak-anak makan atau menanyakan sekolah mereka atau hal lainnya. Padahal ibuku bilang dia sarjana pendidikan dan bekerja sebagai guru TK.” Syahrul menarik napas panjang, dia ingat kejadian mengesalkan diperjumpaan pertamanya dengan Faiza.


“Selanjutnya setiap hari dia datang ke rumah sakit. Entah Nazwa tahu dari mana, dia pernah marah dan bertanya apa Abang serius hendak menikah dengan Faiza. Abang jawab tidak, Nazwa langsung bilang : lalu ngapain tante itu tiap hari ke rumah sakit? Esoknya Nazwa langsung panas dan aku memintanya tidak sekolah. Sore itu Abang tidak praktik dan sejak siang Abang sudah pulang dari rumah sakit karena Nazwa ada di rumah. Abang tidak tahu tetiba Faiza datang ke rumah. Abang tidak memberitahu alamat rumah Abang ke dia. Sama sekali tidak.” Syahrul tak ingin Laura mengira dia mengundang Faiza untuk datang ke rumahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


judul cerita  BELENGGU BENANG KUSUT  penulis  TIE TIK,   pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


sekilas ceritanya :


"Aku tidak pernah menyangka … jika sosok yang selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ternyata memiliki perasaan cinta layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Dia membuatku berada dalam situasi yang sulit—menjadi ibu tiri sekaligus sahabat dari putrinya sendiri. Aku harus bersandiwara dengan baik dalam belenggu benang kusut yang tidak pasti di mana ujungnya." Anne Malila.


"Sosok wanita di masa laluku hadir dalam dirimu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang sudah lama terkubur ketika melihatmu. Rasa ingin memiliki dan mencintai yang sempat hilang di masa lalu tidak akan aku ulang kembali. Aku harus memilikimu, Anne, karena kamu seperti inkarnasi ibumu di saat dia masih muda dulu." Rudianto Baskoro.