
Pria itu menghampiri Namira, tangannya hendak merengkuh perempuan itu, namun Namira segera mundur dan separuh badannya berdiri dibelakang Ilyas. Dia sangat takut bertemu kembali dengan lelaki ini.
“Maaf, jangan asal peluk calon istri saya,” Ilyas langsung menghalangi lelaki itu.
“Mira. Apa itu benar?” tanya lelaki itu gusar.
“Yank, ayok kita pulang,” bisik Namira ketakutan.
“Siapa dia? Dan mengapa kamu takut? Ada aku Honey,” Ilyas membujuk Namira agar tidak ketakutan.
“Saya Wisnu, pacar Mira,” sahut lelaki itu dengan percaya diri. Namira hanya menggeleng seakan menolak perkataan lelaki yang mengaku sebagai Wisnu itu.
“Maaf. Mungkin dulu benar dia kekasih anda. Tapi sekarang dia tunangan saya. Jadi mohon jangan mengganggunya lagi,” Ilyas berkata pelan namun tegas.
“Kami tidak pernah putus. Dia masih kekasih saya,” sahut Wisnu juga dengan pelan tapi penuh penekanan.
“Honey, kamu bicara dulu dengan dia. Selesaikan semuanya agar tak ada lagi kejadian seperti ini,” dengan bijaksana Ilyas memberi Namira kesempatan untuk bicara berdua dengan Wisnu. Ilyas sadar, hubungannya dengan Namira nantinya bukan hanya sesaat. Dia tak mau nanti ada lagi keributan seperti ini.
“Maaf. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Saya sudah tidak cocok dengan anda dan saya sekarang telah punya tunangan,” Namira segera berlalu menuju mobil.
“See … anda lihat sendiri. Saya sudah memberi dia kesempatan bicara dengan anda. Tapi dia tidak mau. Jadi maaf. Untuk selanjutnya anggap persoalan anda dengannya sudah selesai. Bukan saya yang menghalangi kalian bicara. Dia yang tak ingin,” Ilyas pun berlalu meninggalkan Wisnu yang hanya bisa terpaku.
Wisnu tak sadar, saat itu ada sosok yang terluka mendengar dia dengan tegas mengakui Namira adalah kekasihnya. Walau sosok itu juga mendengar Namira menyangkal dan mengatakan tak cocok lagi dengan Wisnu dan sudah bertunangan dengan lelaki berpakaian dokter. Tapi tetap saja hati sosok itu merasa teriris. Dia menyadari selama ini hati Wisnu suaminya tak bisa dia raih.
Wienarni, sosok itu adalah istri Wisnu sejak tiga bulan lalu. Mereka sudah dua tahun bertunangan. Saat tunangan Wiwin tahu, Wisnu tak mencintainya dan masih punya pacar. Wiwin tahu Wisnu menerima pertunangan hanya demi kesehatan ibunya.
Beberapa kali Wiwin mengetahui Wisnu masih pergi dengan Mira. Tapi dia bisa apa? Jangankan untuk menegur kelakuan Wisnu. Bahkan mereka tak pernah sekali pun bertemu bila tidak dengan orang tua mereka. Mereka tak pernah bicara.
Bahkan sudah tiga bulan menikah, Wisnu tak pernah sekali pun ngobrol dengannya walau mereka tinggal satu rumah. Wisnu bicara hanya untuk memberi tahu atau memberi perintah. Tak pernah bertanya sehingga ada komunikasi dua arah.
‘Andai tidak sedang menjaga ibu dan hendak membeli obat, aku pasti akan mengejarmu Mir,’ batin Wisnu. Dia sedang menjaga ibunya yang sedang dirawat dirumah sakit ini.
***
‘Besok aku dan Bayu akan ke Bandung. Bayu disuruh ayahnya untuk menengok saudara jauh ayahnya yang dirawat di rumah sakit,’ Nadia mengirim chat pada Namira.
‘Main ke rumahku ya,’ balas Namira.
‘Memang itu tujuanku. Sejak pagi aku sudah bilang pada Bayu dan dia setuju main ke rumahmu. Kasih alamatmu ya,’ balas Nadia cepat.
Namira segera mengirim alamat rumah Ilyas.
***
Laura baru saja selesai makan siang dengan papa dan mamanya. Mereka segera berpisah. “Enggak perlu khawatir, Laras pasti akan lama dihukum karena dari semua sudut sudah sulit dia bergerak. Kalau sampai hakim menjatuhi hukuman ringan, ada kemungkinan hakim kena suap dan itu bisa Mama usut,” Claudia memberi semangat sebelum mereka berpisah.
“Iya Ma. Kalau hukumannya terlalu ringan semua juga bisa menilailah. Tapi yang Kakak senang dia sekarang sudah tak punya taring. Berkali-kali dia menginjak Kakak tanpa Kakak lawan,” jawab Laura.
“Kalau kasus ini sudah selesai, Papa minta Syahrul segera kasih kepastian ke Jakarta ya,” Anjas meminta agar Laura segera menikah.
Laura pun masuk ke mobilnya. ‘Kami baru selesai makan. Sekarang aku on the way pulang ke Cimahi.’ Laura sadar Syahrul sedang meeting sehingga dia hanya mengirim pesan saja.
Adnan melajukan motornya perlahan. Dia dan Toha juga baru selesai makan siang. Mereka hendak kembali ke kantor saat melihat lokasi kecelakaan yang sudah ramai. Sudah ada mobil ambulans dan polisi yang bertugas. Sebenarnya Adnan tak akan peduli bila tak melihat selintas korban yang baru saja dipindah kedalam ambulans. Dia langsung menepi dan turun dari motornya membuat Toha bingung.
“Maaf permisi,” Andan mencoba menguak penonton kecelakaan. Untung dia menggunakan seragam dinas sehingga tak ada yang bisa menghalanginya.
“Dokter Syahrul, ya ampuuuuun,” Adnan langsung istigfar. Dia melihat nama rumah sakit yang tertera di mobil ambulans.
“Ada saksi mata?” tanya Adnan pada penonton dilokasi kejadian.
“Mobil ini sedang berhenti di lampu merah. Tiba-tiba ada truk menerobos lampu merah dari sana ( arah berlawanan dengan posisi mobil Syahrul yang sedang berhenti ). lalu truk menabrak mobil dan truk terpental ke pembatas jalan setelah menabrak dua motor yang ikut terseret,” cerita beberapa orang yang melihat kejadian.
Adnan segera menghubungi nomor ponsel Laura. “Iya Kang, kenapa?” tanya Laura. Dia merasa aneh Adnan menghubunginya.
“Kamu dimana?” tanya Adnan pelan.
“Belum jauh dari pengadilan, habis makan siang,” jawab Laura.
“Balik arah sedikit, saya tunggu di rumah sakit Persada. Jangan tunda. Ini penting,” Adnan langsung mematikan sambungan telepon. Dia tak ingin menceritakan kondisi Syahrul melalui telepon. Bisa membahayakan Laura yang sedang menyetir.
Sesuai dengan arahan Adnan, Laura memutar mobilnya menuju rumah sakit Persada.. rumah sakit tempat Ilyas bekerja. Dia melihat Adnan dan Toha sudah menantinya saat dia masuk ke lokasi parkiran rumah sakit.
“Ada apa Kang?” tanya Laura setelah di mendekat pada dua polisi muda itu.
Adnan memeluk bahu Laura. “Akang minta kamu kuat, kita ke IGD ya.”
“Ada apa Kang? Siapa yang sakit?” Laura segera berlari menuju ruang IGD.
“Pasien yang baru masuk, karena kecelakaan dimana?” Adnan bertanya pada petugas di ruang IGD.
“Sebelah sana Pak,” jawab petugas yang ditanya Adnan.
“Maaf, tunggu sampai dokter selesai menangani,” seorang petugas menahan Laura yang ingin mendekat. Laura sudah melihat sosok yang terbujur penuh darah adalah Syahrul kekasih hatinya. Dia histeris menangis memanggil Syahrul. Adnan memeluknya agar tak masuk mendekati brankar tempat Syahrul sedang dibersihkan lukanya agar bisa segera ditangani
Tak bisa ditahan, Laura langsung terjatuh karena lemas. Dia tak percaya dengan pemandangan yang baru dilihatnya barusan. Adnan memapahnya untuk duduk diruang tunggu IGD.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***