TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PENERTIBAN ADMINISTRASI WARGA



PENGEN CEPET BIKIN NOVEL INI TAMAT AHHH


SELAMAT MEMBACA



Tanpa menjawab August menyuapi Wulan satu sendok ketoprak. “Jangan banyak-banyak ya. Ini pedas. Sejak kemarin perut Ibu kosong. Nanti siang boleh makan sedikit pedas,” seperti biasa August selalu memperhatikan apa yang sudah dimakan oleh istrinya.


“Tapi enak Mas,” rengek Wulan. Entah mengapa dia sekarang sangat suka makanan yang pedas.


“Satu suap lagi aja ya?” dan August menyuapi satu sendok ketoprak lagi.


“Habiskan buburnya. Sebentar lagi kalau suster datang kita sudah siap,” August meminta Wulan bersiap.


“Dan nanti sehabis periksa, Ayah pulang dulu ambil baju ganti buat Ibu ya? Jadi biar segar. Sekarang dari rumah sakit dikasih handuk dan alat mandi, kalau enggak ganti baju kan enggak seger,” dengan hati-hati August memberi pengertian istrinya.


Tadi August juga sudah membeli diapers. Jadi saat dia pulang Wulan tak perlu repot bila ingin buang air kecil.


“Nanti sehabis periksa dokter, kamu pakai diapers saja selama Mas pergi. Biar enggak repot turun dari tempat tidur,” August memberitahu kalau dia sudah prepare suatu hal yang penting selama nanti dia pulang mengambil baju ganti untuk dirinya dan sang istri.


“Mau dibawa kemana menantu Mami?” suara Nenden menghentikan sebentar kursi roda yang suster dorong menuju ruang dokter kandungan.


“Lho Mami,” Wulan kaget mertuanya datang ke rumah sakit. Dia mengulurkan tangan untuk salim. Tapi Nenden sedikit membungkuk untuk memeluknya. Perempuan ini kalau sudah kenal memang mudah jatuh hati. Dulu dengan Julia juga dia sangat menyayangi calon menantunya itu. Terlebih Julia juga selalu menjaga hubungan baik dengannya dan mami mertuanya yang asli bule German.


“Mau ke ruang dokter kebidanan Bu,” sahut suster yang mendorong kursi roda. File rekam medis Wulan ada dipangkuan perempuan itu.


“Papi tunggu sini aja, Mami ikut August nemani Wulan,” dengan cepat Nenden memutuskan dia akan melihat kondisi calon cucunya. Dia tak ingin cucunya mengalami masalah.


***


“Ibu kemarin tensi sangat drop sampai pingsan ya. Dan itu bisa bahaya untuk calon bayi. Seorang yang sedang hamil itu tak boleh lelah, tak boleh kurang asupan gizi dan yang pasti tak boleh stress. Kasihan bayinya kalau ibu stress. Dia juga ikut sedih,” dokter melihat data milik Wulan.


“Ayok kita cek kondisi bayi ya Bu,” dokter meminta suster membantu Wulan untuk naik ke bed pemeriksaan karena Wulan masih diinfus.


“Bapak, Ibu, bisa dengar ya, denyut jantung bayi kalian sedikit melemah. Saya harap kedepannya Ibu bisa menjaga mood jangan bersedih. Jangan sampai Ibu menyesal bila bayinya sedih dan tak kuat. Saya yakin dia akan kuat bertahan bila Ibu selalu optimis,” Wulan, August dan Nenden mendengar denyut jantung bayi mereka dan juga melihat tampilan bayi di monitor.


Nenden tentu baru satu kali ini mendengar dan melihat langsung tampilan bayi di monitor USG. Zaman dia hamil August dulu USG belum seperti saat ini. Hanya bila ada keperluan medis saja USG digunakan. Dan hanya rumah sakit besar yang memiliki alat USG. Tak seperti sekarang, hampir semua ruang praktik dokter kandungan ada alat ini.


“Jari-jari mulai terbentuk sempurna Pak, Bu. Pertahankan dia ya. Ibu yang semangat,” dokter memberi afirmasi agar Wulan tidak drop. Hormon ibu hamil memang cepat naik turun.


“Beneran lelaki kan Dok?” tanya Nenden memastikan. Dia sepanjang jalan ke Bandung juga berpikir kasihan bayinya bila dia perempuan. Karena saat menikah nanti akan tahu dia bukan anak kandung August.


“Tak bisa dipastikan 100% Bu. Sesuai pantauan alat dia berjenis kelamin lelaki. Tapi kuasa Allah tentu tak bisa kita lawan,” sahut sang dokter bijak.


***


Almi dan Misah sampai di rumah pak RT saat pak sekretaris RT dan wakil RT sudah selesai memarkirkan motor mereka. Orang sekarang walau dekat tentu saja naik motor, malas jalan kaki.


“Kamu teh beda Mi,” sapa sekretaris RT yang ternyata mantan teman Almi saat SMA dulu.


“Enggak. Aku menutup ini biar Halim enggak tahu aja. Nanti juga aku buka setelah selesai pengusiran ini,” sahut Almi pelan. Dia sadar memanipulasi diri mengenakan pakaian muslim ini.


Tanpa mereka tahu, bu RT memanggil rekan-rekannya untuk melihat eksekusi itu. Dia kirim chat broadcast pada ibu-ibu yang tak suka pada Anna.


“Bismillah. Ayok kita segerakan saja. Takutnya Halim berangkat lebih awal karena ini akhir minggu awal bulan. Toko pasti ramai,” pak RT mengajak teamnya diikuti Misah dan Almi. Sementara bu RT menunggu teman-temannya karena tadi dia dilarang suaminya ikut langsung ke TKP walau hanya didepan rumahnya saja.


***


“Assalamu’alaykum,” pak wakil RT mengucap salam sambil mengetuk pintu rumah Halim.


“Wa’alaykum salam,” suara perempuan menjawab salam itu dan membuka pintu rumah.


“Eh pak RT, pak Wakil ada apa yah? Mangga atuh masuk,” Anna yang sudah rapi mempersilakan lima orang tamunya masuk. Almi dan Misah melihat ada kiss mark dileher Anna yang cukup terlihat jelas walau letaknya agak kebelakang.


“Kami mau bicara dengan bu Anna dan pak Halim bisa?” tanya sekretaris RT. Dia tak mengenal Halim yang kakak kelasnya di SMA. Baru tahu tadi malam ketika diberitahu pak RT.


“Bisa Pak. Sebentar saya panggilan suami saya,” jawab Anna dengan sopan.


‘Suami? Wow,’ Almira mendesis dalam hatinya.


Halim keluar tak lama setelah dipanggil Anna. Dan Anna bersiap membuat minum untuk para tamunya.


“Bu Anna. Kami tak punya waktu banyak. Jadi tak perlu membuat minum untuk kami,” wakil RT mencegah Anna masuk ke dapur.


Anna dan Halim pun duduk menghadapi lima tamu mereka. Halim dan Anna tentu tak kenal dua perempuan ber nikob. Ya, Misah juga memakai nikob karena bila tidak bisa dikenali Halim dan Anna sejak awal.


“Pak Halim. Maaf kami baru lima bulan serah terima menjadi pengurus RT disini. Pastinya pak Halim juga tahu kan?” sekretaris membuka percakapan pagi ini.


“Iya Pak. Waktu pemilihan pengurus saya datang koq. Hanya pas serah terima saya tak bisa datang,” sahut Halim tenang. Dia tak merasa menyalahi aturan RT.


“Berkaitan dengan itu, saya mau mentertibkan administrasi kependudukkan warga. Di data saya, Bapak terdaftar menikah dengan Almira dan punya seorang anak perempuan. Mengapa sekarang Bapak tinggal dengan bu Anna. Apa saya bisa lihat surat nikah kalian?” dengan santai sekretaris RT membuka buku besar data warga.


==================================================================== 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta