
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\========================================================================
Namira tersenyum sangat manis pada suaminya yang mengerti kebutuhannya. “Terima kasih cintaku, suamiku, kekasih hatiku,” bisiknya. Dia lalu mengambil satu buah tas yang lebih dekat ke warna gaun yang akan dia kenakan.
Namira dan Ilyas memang tak cukup satu panggilan atau sebutan sayang. Jadi jangan aneh bila setelah menikah mereka menggunakan beberapa sebutan seperti tadi yang Ilyas sebut. Honey, cintaku, istri sholehahku. Dan Namira juga menyebut : cintaku, suamiku, kekasih hatiku.
Entah siapa yang mengawali, tapi seperti itulah mereka sekarang. BUCIN.
“Andai enggak diruang publik, Ayah cium kamu Bun,” balas Ilyas gemas melihat kelakuan istrinya.
“Ayah ih,” Namira gemas mendengar kata-kata suaminya, dia cubit kecil dilengan lelaki itu.
“KDRT nih Bunda,” keluh Ilyas merasakan sakit akibat cubitan istrinya.
Mereka lanjut membeli sepatu, dan juga beberapa baju untuk mereka berdua juga anak-anak.
“Miraaaaaa,” suara sedikit memekik menyebut nama Namira.
“Wiiiiin,” sapa balik Namira melihat Wiwin atau Wienarti istri Wisnu mantan pacar Namira dikampus dulu.
“Kamu mborong?” tanya Wiwin sehabis mereka bercipika cipiki ramah.
“He he he, enggak. Kebetulan suamiku minggu ini akan wisuda menjadi dokter spesialis. Aku cuma cari sepatu yang pas aja untuk datang di acara itu,” jawab Namira merendah.
“Mir, kenalkan. Ini ibunya Wisnu,” Wienarti memberitahu siapa sosok yang saat ini bersamanya.
“Salam kenal Bu, saya Namira dan ini suami saya,” sapa Namira sopan memperkenalkan diri sendiri dan juga Ilyas.
“Bu, ini yang Wien ceritakan. Dia untung selalu bisa jaga diri. Tak pernah sekali pun mau diajak tidur Wisnu. Dan dia tak pernah tahu kalau selama menjalin hubungan, Wisnu sudah tunangan dengan Wien,” Wiwien memberitahu ibu mertuanya siapa Namira.
“Ibu Minta maaf. Selama ini yang Ibu tahu kamu perempuan matre yang mengejar Wisnu karena hartanya. Jadi dulu ibu sangat benci dengan sosokmu yang belum pernah Ibu kenal,” perempuan tua itu tanpa malu minta maaf atas rasa tak suka sebelum mereka bertemu.
“Enggak ada yang perlu dimaafkan Bu. Karena saya juga tidak tahu. Dan sekarang saya tidak ingin tahu. Karena saya punya suami dan anak,” sahut Namira.
“Kami lanjut lagi Bu, Wien. Kasihan anak-anak bila terlalu lama kami tinggal. Karena masih ada yang harus kami cari,” Ilyas memutus pembicaraan. Dia malas berhubungan dengan ibu mantan pacar Namira.
“Iya mangga Kang. Selamat ya atas gelar barunya,” Wiwien pun maklum bila pasangan yang punya bayi itu ingin segera berlalu.
***
Misah adalah sepupu jauh ibunya Almira. Sehingga walau usia mereka sepantaran, Almi harus menyebutnya bibi.
Misah, sang bibi lah yang membantu Almira mengurus surat-surat persyaratan. Saat itu Misah adalah istri kedua secara resmi dari wakil lurah. Istri pertama yang melamar Misah karena istri pertama tak bisa melayani suaminya akibat sakit.
Usia Misah dan Almi terpaut empat tahun. Dan mereka cukup akrab. Saat bapaknya Almi sakit, maka surat rumah diserahkan pada Almi untuk disimpan baik-baik karena rumah itu milik Almi dan Namira.
Karena saat Almira berangkat ke Taiwan Namira masih SMP, maka Almi menitipkan ijasah asli dan surat-surat berharganya pada Misah. Namira tinggal dengan seorang pamannya dari pihak ayah. Sebelum Almi memintanya tinggal dengan Halim untuk mengurus Nindi.
“Wa’alaykum salam,” terdengar sahutan dari dalam rumah saat Almi mengucap salam.
“Saha nya’?” sapa orang didalam rumah melihat kedatangan Almi yang sengaja datang dengan gamis panjang dan nikob. Almi menggunakan pakaian ini karena dia sadar dan isyaf. Dia hanya ingin menyamarkan jati dirinya agar tak ada yang mengenaali saat penyelidikannya kali ini.
“Abdi Almi Bi,” sahut Almi sambil erat memeluk Misah dan menangis terisak. Dia memang salah. Tak pernah tanya keberadaan Nindi dan Mira sejak kepulangannya sebelum ini. Bahkan kepulangan yang kedua dari Taiwan, dia tak mengunjungi Misah sahabat sekaligus bibinya. Dia bagai kacang lupa pada kulitnya.
“Ya ampuuuuuuuuuun Mi, maneh tos berubah?” Misah kaget melihat Almi yang sangat berubah. [ maneh tos berubah = kamu sudah berubah ].
“Aku bukan berubah. Ini hanya samaranku saja. Karena aku ingin tahu mengenai semua yang terjadi selama aku tinggal,” sahut Almi.
“Eh mana Mang Sakir?” tanya Almi. Dia menanyakan suami Misah yang memang dia panggil Mamang. Selain karena menikah dengan bibinya. Saat menikah juga usia suami Misah sudah cukup umur yaitu 45 tahun.
“Mang Sakir sudah meninggal dua tahun lalu, kena Covid,” jawab Misah.
“Maaf. Aku enggak tahu. Turut berduka. Lalu apa selama ini kamu punya anak?” tanya Almi.
“Pan dari dulu juga kita sudah tahu Mang Sakir mandul. Anak dari mana? Yang ada hanya Mae ( Maesaroh ) anak angkat Mang Sakir dan almarhum bu Ningsih. Sekarang sudah kelas tiga SMP atau kelas sembilan. Dia ikut bibiknya. Adik bu Ningsih,” balas Misah.
Malam ini bila ada bom meledak ditelinganya, rasanya tak akan lebih mengagetkan dari berita yang Almi dengar dar Misah mengenai nasib buruk adiknya juga kelakuan be-jad suaminya.
Halim sudah menikah lagi walau secara siri dengan Anna Rustini, teman main Almi sejak SMP dan selalu iri terhadap apa yang dimiliki oleh Almi.
Saat Almi mulai menjalin kasih dengan Halim ketika Almi kelas dua SMA atau kelas sebelas, Anna sering menggoda Halim. Tapi Halim tak membalasnya.
Ketika Almi pergi maka Anna kembali mendekati Halim. Perempuan pemilik toko sembako itu memberi Halim pekerjaan di tokonya agar bisa selalu bersama.
Dari Misah, Almi baru tahu kalau rumah orang tuanya tak pernah bisa digadai karena taka da surat-suratnya. Anna memberi uang dengan ‘jaminan’ rumah hanya melalui kata-kata saja. Tanpa bukti fisik surat rumah.
Buat Anna tak masalah memberi uang pada Halim, karena niatnya hanya ingin membuat Halim terikat dengannya saja. Maka dibuatllah skenario pengusiran Mira dan Nindi dari rumah itu agar Halim dan Anna bisa hidup tenang bersama.
Masalah kehamilan Mira, Misah baru tahu saat Nindi pindah sekolah dari Bogor ke Bandung. Misah bertemu dengan Kepala Sekolah Nindi yang menceritakan derita Mira menjadi buruh cuci untuk makan Nindi.
Kepala Sekolah itu juga bercerita Nindi sempat berhenti sekolah karena Mira tak ada biaya. Padahal saat itu Mira sedang hamil akibat perbuatan Halim. Semua tentu Misah tahu karena Kepala Sekolah itu sepupu Sakir almarhum suaminya.
Almira ingat perkataan lelaki yang mengaku sebagai suami Namira adiknya. Ternyata lelaki itu benar. Mira bukan selingkuhan suaminya. Bahkan Almi menyesal mendengar Mira pernah terpuruk menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah demi sesuap nasi agar anak kandungnya bisa hidup.