TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
LAMARAN WULAN



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\===========================================================================


“Kamu cantik bangeeeeet,” August memuji Wulan yang baru keluar kamar tidur mereka. Mereka akan menuju rumah paklik Suparman lebih dulu. Baru menuju ke resto tempat lamaran akan diadakan.


“Enggak usah ngegombal,” Wulan maalu menerima pujian tulus dari calon suaminya itu.


“Serius Sweety, Mas enggak ngegombal. Kamu emang cantik koq,” August menggandeng tangan calon istrinya untuk segera berangkat. Yudha sejak tadi sudah menunggu di mobil.


***


Wulan dan August tak lama dirumah paklek Suparman. Sehabis salat maghrib mereka langsung berangkat. Tentu saja sicantik Riesty tak ketinggalan. Augus baru kali ini bertemu dengan adik sepupunya Wulan tersebut.


"Nyonya sudah ditempat Bos,” Yudha memberitahu August ketika mereka akan berangkat menuju resto. Yudha memang bertukar khabar dengan Farhan.


“Kasih tahu aja kita sedang on the way,” balas August.  Sampai saat ini dia juga masih tak percaya akan menikah. Tanpa proses percintaan panjang dan berliku seperti dengan Julia, malah dia langsung akan menikah anak bau kencur. Anak kecil yang baru saja mengganti seragam abu-abunya.


Jujur baru dengan Julia August pacaran lalu bertujuan menikah. Dengan perempuan lain dia hanya dekat untuk memenuhi kebutuhan sexualnya saja. Tak ada cinta dan tak ada tujuan ke pernikahan.


Sekarang dengan Wulan berbeda lagi. Karena dengan anak kecil ini dia tak mengalami pacaran. Tetiba suka lalu langsung mau dia nikahi. Tapi bukan berarti dia tak serius. Dalam kamus hidup August dia hanya berniat satu kali saja menikah. Karena menikah itu berjanji pada Allah. Bukan sekedar janji pada pasangan.


Sampai di resto Wulan gugup. Dia takut kedua orang tua August akan menghinanya. “Ayok turun,” ajak August dia menunggu Wulan taak juga keluar dari mobil padahal semua sudah turun.


Wulan menatap lekat mata calon suaminya. Dia ingin tahu apakah August memang serius ingin menikaah dengannya? Apa alasan pria ini tetiba ingin menikahinya? August yang ditatap lekat Wulan segera mendekat dan memasukkan kepalanya kedalam mobil. Dia ulur tangannya pada perempuan muda itu.


“Jangan ragu, Mas serius ingin menikah denganmu. Bukan karena kasihan. Tapi memanag Mas ingin kamu jadi istri Mas. Jadi ibunya anak-anak Mas. Jangan takut. Everything will be fine.”


Wulan menyambut tangan August yang membimbingnya keluar mobil. Augus mendekap erat tubuh Wulan yang terlihat gugup. Dia kecup kening Wulan lembut dan dia bisikkan kata-kata yang membuat Wulan tak percaya.


“Kamu mungkin enggak percaya, tapi sejak pertama Mas lihat kamu saat Mas kunjungan bakti sosial di panti, Mas sudah suka sama kamu. Selanjutnya rasa suka itu semakin dalam dan Mas merasa jatuh cinta tanpa bisa dicegah. Bahkan sejauh Mas terbang, hanya bayanganmu yang hadir di benak Mas.”


***


Nenden dan Prabu melihat putra tunggalnya datang  bersama seorang perempuan sederhana tanpa polesan berlebih yang didampingi seorang lelaki pendek paruh baya dan anak perempuan kecil berusia sekitar delapan tahun.


“Assalamu’alaykum Mi, Pi. Ini paklek Suparman dan ini Wulan,” August memberi salim ( cium punggung tangan ) pada mami dan papinya.


“Assalamu, alaykum Pak, Bu,” paklek Suparman pun mengulurkan tangan pada calon besannya.


“Assalamu, alaykum Om, Tante,” sapa Wulan lirih karena ragu. Dia pun memberi salim pada kedua calon mertuanya itu.


“Wa’alaykum salam,” sahut pak Prabu pada August.


“Wa’alaykum salam,” sahut pak Prabu, dia menerima salim yang Wulan berikan.


“Wa’alaykum salam, kirain Mami kamu enggak jadi datang” godan Nenden pada putranya.


“Wa’alaykum salam, Pak” sahut bu Nenden pada paklek Suparman.


“Wa’alaykum salam calon mantu Mami,” bu Nenden membiarkan Wulan mencium punggung tangannya lalu dia menarik bahu perempuan itu dan memeluknya erat. Walau kondisi Wulan sedang hamil anak orang lain, itu bukan karena kenakalannya.


Dan karena Wulan lah August putranya bisa berniat berkomitmen menikah secara resmi. Dia kagum pada perempuan calon menantunya yang bisa menaklukkan hati August yang selalu tak puas berpetualang.


“Jadi Bapak ini pakleknya Wulan?” tanya pak Prabu. Saat ini Wulan baru tahu darimana mata biru August didapat. Mata pak Prabu pun sama biru bening seperti maata August. Hanya kulit August lebih njawani, sedang kulit pak Prabu masih dominan bule.


“Benar, ibunya Wulan kakak kandung saya. Kami hanya dua bersaudara,” jawab pak Suparman.


“Kalau kerabat Wulan dari ayahnya, apa masih ada?” tanya pak Prabu. Ini penting karena yang berhak menjadi wali nikah Wulan seharusnya dari garis ayah terlebih dahulu.


“Bapaknya Wulan sejak kecil yatim piatu dan dia tinggal dipanti asuhan sehingga kami tak pernah tahu ada kerabat lelakinya atau tidak yang berhak menjadi wali saat pernikahan Wulan nanti,” paklek tentu tahu maksud pak Prabu bertanya silsilah Wulan.


Akhirnya pak Prabu mengerti, dia langsung menyampaikan tujuannya melamar Wulan bagi anaknya. Tak ada kendala. Tak ada cincin pertunangan karena pembicaraan langsung to the poin pada pernikahan yang akan diselenggarakan hari Senin depan pukul 10.00 wib.


Sehabis itu Prabu menanyakan kesiapan tempat dan makanan untuk hari Senin depan. Dan August menjawab sudah siap.


Sejak tadi Yudha dan Farhan mengambil foto. Lalu mereka juga mengatur foto keluarga, foto pasangan, foto calon mertua perempuan dengan calon menantu dan seterusnya. Selesai semua baru mereka makan malam.


“Plong rasanya,” bisik August pada Wulan saat akan makan malam.


“Alhamdulillah ya Mas. Semoga Senin depan enggak ada kendala ya,” balas Wulan.


“Aamiiiiiiiin.”


“Lan, Mami enggak sempat belanja. Semoga kamu suka ini ya. Ini hadiah pertunangan kalian. Nanti hadiah pernikahan biar Papi yang belikan,” Nenden memberi bungkusan besar pada calon menantunya.


“Papi mah siap aja,” jawab pak Prabu. Dari beberapa kali tanya jawab, Prabu bisa menilai sifat keras hati Wulan. Dia juga tahu perempuan muda ini pintar karena sejak SMA selalu mendapat beasiswa.


“Gust, kamu menginap di hotel?” tanya Nenden.


“Boleh. Awalnya mau nginap di rumah baru sehabis antar Wulan. Tapi ya sudah mau ngobrol. Nanti Mas ke hotel,” jawab August.  Jadi nanti dari mengantar  paklek lalu dia mengantar Wulan ke panti asuhan dia akan kembali ke hotel walau rumahnya kelewatan. Dia juga akan menyuruh Farhan dan Yudha mengosongkan apartemennya agar bisa dia jual.


“Rumah kontrak atau beli?” tanya Prabu. Niatnya hadiah pernikahan dia mau membelikan rumah untuk anaknya.


“Beli, sahut August santai. Beli rumah untuk mereka bukan hal besar.


“Kirain ngontrak, mau kasih hadiah rumah saat pernikahan kalian besok,” jawab Prabu sesuai dugaan August.


‘Mereka bicara beli rumah seperti bicara beli sebotol air mineral saja,’ batin Wulan. Dia sedang mengelap tangan Riesty yang kotor dengan tissue basah miliknya.