
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Dan saat Laura dan Syahrul baru saja jadian, musibah menimpa Syahrul yang menyebabkan Laura harus selalu berada disisi Syahrul. Itu sebabnya Claudia dan Anjas tak mau terjadi hal yang dilarang agama kalau mereka tak segera dinikahkan.
Mieske langsung menghubungi Claudia membahas kostum juga semua hal tentang pernikahan. Dan mereka berangkat bareng dengan janjian bertemu di rest area pertama jalan tol menuju Bandung.
FLASH BACK OFF
“Kak, bawa Abang istirahat di kamar Fahri. Malam ini Abang disana karena besok malam kalian bisa satu kamar,” Claudia menyuruh Laura membawa Syahrul istirahat.
“Nanti saja Ma. Sehabis makan siang dan salat Dzuhur,” sahut Laura.
“Bapak, itu yang pasang tenda sudah datang,” bik Sanah memberitahu Anjas ada tukang tenda yang datang.
“Ya sebentar saya keluar,” sahut Anjas.
“Kak, Bang. Kalian undang beberapa teman agar tahu kalian menikah. Besok akad dimulai pukul 10.00 pagi. Jadi teman kerja kalian tahu kalian sudah menikah. Nanti resepsi di Jakarta, takutnya mereka tak bisa hadir,” Anjas memberitahu pasangan calon pengantin.
“Baik Pa,” sahut Laura tak percaya.
“Abang, kita ke Gazebo belakang aja yok,” ajak Laura. Dia juga seperti Syahrul. SPEECHLESS atas kejutan kedua orangtuanya.
***
Wulan sangat senang bisa bertemu Kemuning dan empat kawan lainnya. Dia bercerita kalau dia sedang hamil dan kandungannya lemah sehingga harus bedrest satu minggu sebelum nanti bisa kembali berkegiatan seperti biasa.
“Beneran kamu sedang hamil? Wah senangnya,” seorang teman Wulan senang mendengar khabar bahagia ini. Tak ada yang memandang Wulan dengan pandangan merendahkan. Karena mereka tahu Wulan menikah sejak SMA dengan alasan suaminya takut Wulan kecantol lelaki lain. Terlebih saat ini mereka tahu suami Wulan satu minggu berada diluar negeri karena tugasnya. Mereka makin percaya alasan Wulan menikah cepat-cepat dulu.
“Nanti di kampus, kamu jangan banyak gerak ya. Kami akan membantumu,” Kemuning pun mendeklarasikan akan membantu Wulan.
“Aku enggak apa-apa. Semoga sehabis istrirahat ini bayiku enggak rewel lagi,” sahut Wulan.
“Non, makan siangnya sudah siap,” wak Jum memberitahu Wulan untuk makan siang.
“Non, ada telepon,” wak Jum memberikan ponsel Wulan yang sejak tadi berdering.
“Assalamu’alaykum Mas,” Wulan menjawab sambungan teleponsatelah minta izin pada teman-temannya.
“Kamu sedang apa?” tanya August yang hendak tidur malam.
“Lagi makan siang Mas. Ada lima teman kuliah datang,” sahut Wulan.
“Sussu ibu hamil sudah diminum? Vitamin? Dede rewel enggak?” cecar August.
“Suusu ibu hamil pagi sudah. Vitamin siang nanti aku minum sehabis makn ini. Dede enggak rewel Yah,” sahut Wulan.
“Mas lagi apa?”
“Baru mau tidur,” jawab August.
“Ya wis, Mas istirahat ya. Love you Ayah,” Wulan pun mengakhiri percakapan setelah memberi salam. Semua teman Wulan mengerti bagaimana perhatiannya calon ayah dibelahan bumi sana yang menanyakan apakah istrinya sudah minum vitamin dan susuu untuk ibu hamil.
***
“Besok pagi kita ke pernikahan dokter Syahrul. Mereka juga menikah mendadak padahal dokter Syahrul baru keluar rumah sakit tadi pagi.” Ilyas memberitahu tujuannya kembali menghubungi istrinya.
“Baik Yah, nanti Bunda siapkan baju kita,” sahut Namira. Tadi Ilyas memberitahu mereka berangkat pagi bareng Nindi sekolah. Absent dulu di rumah sakit baru ke rumah Laura.
Untung besok siang Misah dan Almi masih menginap di rumah mereka sehingga tak bingung meninggalkan Ilham. Terlebih bila bibik harus menjemput Nindi pulang sekolah. Misah dan Almi rencananya pulang besok malam dengan travel.
“Ada apa Neng?” tanya Misah. Mereka sedang makan siang di rumah. Kemarin mereka sudah berkeliling melihat toko kue Namira.
“Ada undangan mendadak besok pagi. Aku titip Ilham saat bibik menjemput Nindi ya,” Namira memberitahu alasan Ilyas menghubunginya lagi.
“Kami bisa lah jaga Ilham. Kamu santai aja,” sahut Misah.
“Iya, kalau enggak ada Bibi, Ilham akan aku bawa. Waktu aku urus pindah kuliah saja Ilham dibawa. Karena Ilyas tak mau sendirian menungguku,” Namira memberitahu bagaimana care nya Ilyas pada anak-anak mereka.
“Bersyukurlah kamu bertemu dengan Ilyas Neng,” celetuk Almi yang baru selesai salat Dzuhur.
“Dia terlalu baik. Itu sebabnya aku enggak yakin ketika berkali-kali dia memintaku menjadi istrinya. Dia tidak menggoda, tapi langsung serius meminta menjadi istrinya. Walau kami satu rumah, tak satu kali pun dia bertindak tidak sopan sebelum aku bersedia menjadi kekasihnya,” sahut Namira. Mereka memang makan siang tidak bersama. Tadi Namira harus mengurus Ilham yang harus ganti diapers karena buang air besar.
***
Sementara Bastian kembali uring-uringan karena persoalan data di kantornya yang belum di save lalu tetiba listrik padam.
“Enggak perlu panik Pak. Nanti begitu menyala akan tersave otomatis difolder yang belum tertutup. Bapak copas saja lalu di save di folder Bapak,” Julia sekretarisnya menenangkan bossnya itu.
“Bukan soal ke save. Data ini mau segera saya kirim ke rekanan,” sahut Bastian.
“Mengapa panik kalau hanya mati lampu? Data di laptop juga aman karena lapotop masih menyala. Pandangan kita masih bisa jelas. Mengapa panik karena listrik padam? Bapak stress menjelang pernikahan?” tanya sekretarisnya lagi.
“Honey, jangan menggodaku seperti itu,” akhirnya Bastian pun sadar. Bukan soal mati listrik yang membuat pikiran kalut. Semua persiapan pernikahan sudah berjalan lancar. Dia hanya takut batal. Dia tak ingin hal itu terjadi.
“Pasangan mau menikah memang sering seperti itu. Kita sudah sangat enak sama sekali tidak ribet dengan semua persiapan. Kamu jangan stress. Semua pasti lancar,” Julia mendekati Bastian dan memberi kecupan dibibir lelaki itu. Dia tahu tunangannya sedang ketakutan.
“Iya Honey. Aku hanya takut ada hal tak terduga yang membatalkan pernikahan kita.” jelas Bastian. Dia tak terpancing dengan kecupan Julia. Kalau sedang normal, pasti pancingan itu bisa mendapat balasan berkali-kali lipat.
“Kalau stress seperti ini, mulai minggu depan A’a enggak usah masuk kerja aja. Kasihan pegawai kalau kena marah padahal mereka enggak salah,” Julia memberi usulan pada Bastian.
“Di rumah A’a tambah stress karena enggak ada kerjaan,” balas Bastian. Dia memang serba salah.
“Di rumah A’a main ama twins aja, jangan mikir yang enggak-enggak,” bujuk Julia. Mulai lusa Julia sudah cuti. Karena kedua orang tuanya mengharuskan calon pengantin perempuan sudah di rumah seminggu sebelum akad. Jadi dia dan Imah akan kembali ke Bogor. Sekalian Imah akan berhenti bekerja karena tak boleh oleh orang tuanya bila ada lelaki muda di rumah majikannya. Nanti bubu akan mencarikan tenaga yang cukup umur untuk membantu Julia di rumah itu.
\=========================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta