TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PANGGILAN KEPALA SEKOLAH UNTUK WULAN



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


=============================================================================


“Besok ade Mommy tunggu di panti saat Kakak les bahasa inggris ya?” Laura memberi peluang Fahri untuk bercerita. “Sekarang Mommy pulang dulu,” dikecupnya kening Fahri. “Mommy love you too, Son.”


“Thank’s Mom. I love you,” Nazwa pun memeluk Laura yang hendak pulang.


“Jangan lupa itu ayam di bawa pulang untuk makan malam dan kalian tidak boleh telat makan ya? I love U too my sweet heart,” balas Laura pada Nazwa.


Laura mengambil tasnya dan akan keluar ruangan ketika dengan santainya terdengar suara bariton Syahrul. “Cuma Daddy yang enggak Mommy pamitin, enggak Mommy peluk dan enggak dikasih ucapan I love you?”


Laura terpaku mendengar keusilan Syahrul di depan anak-anaknya. Tapi karena malu Laura tak menggubrisnya dan langsung menuju pintu keluar. “Assalamu’alaykum.”


Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Laura menyempatkan mengirim pesan untuk Syahrul. ‘Anak-anakmu sedang dalam masalah. Biarkan besok Fahri ke panti. Sesudah itu aku minta kita ketemu.’


Sehabis Laura keluar dari ruangannya Syahrul mengambil ponselnya karena mereka juga hendak pulang. Saat ponsel aktiv langsung masuk pesan Laura. Dia cukup kaget membacanya. Langsung dia menjawab pesan itu. ‘Ok, thanks honey.”


“Kita bersiap pulang yok, jangan lupa ayam dari Mommymu dibawa pulang,” Syahrul mengajak kedua buah hatinya pulang. Dia mulai cemas karena info yang Laura berikan barusan.


“Mommy mah beda, enggak ada kami aja dia inget belikan lauk. Enggak kayak yang itu. Di depan kami makan sendiri. Enggak peduli.” Ketus Fahri berucap sambil menenteng lauk ayam bumbu lada hitam kegemarannya.


“Mommy is the best,” sahut Nazwa. Syahrul tak bisa membantah, karena memang itu kenyataannya.


***


Makin hari pertumbuhan Ilham makin menggemaskan. Tentu saja Ilyas selalu memantaunya dalam sudut pandang medis selain juga sebagai “ayahnya”.  dia memiliki catatan kesehatan Nindi dan Ilham. Secara berkala dia menimbang dan mengukur tinggi kedua anak itu. Dia juga memperhatikan reaksi Ilham terhadap suara dan benda. Ilyas sudah mengetes Nindi tentang warna. Semua dia lakukan tanpa sepengetahuan Namira. Walau sebenarnya melalui cerita Nindi, Namira tahu anak dan keponakannya selalu dalam pantauan dokter Ilyas.


“Bik, sepertinya saya lupa mencatat kalau merica habis. Saya keluar sebentar untuk membeli ‘ladaku’ ya. Di warung ujung aja,” Namira pamit pada bik Iyah untuk jalan kaki ke warung. Ilham sedang tidur.


“Sok atuh, tinggal aja. Dede tidur ‘kan?” Sahut bik Iyah yang sedang santai menonton sinetron pagi kesukaannya sambil melipat pakaian yang sudah di cuci.


“Eneng teh yang tinggal di rumah dokter muda yah?” tanya seorang ibu di warung saat Namira baru saja datang untuk membeli ladaku.


“Muhun Bu,” jawab Namira sopan. ( Muhun= iya atau benar ).


“Emang kamu siapanya dokter muda, koq enak aja tinggal serumah?” selidik si ibu dengan nyinyir.


“Ibu silakan cek ke pak RT saja, siapa saya. Pak dokter sudah melaporkan keberadaan saya. Di sana juga ada copy identitas saya Bu,” lanjut Namira seraya menerima kembalian dari pemilik warung. “Permisi.” Namira enggan meladeni mulut nyinyir seperti ibu tadi. Karena saat dia dan Nindi tiba, dokter Ilyas langsung melaporkan kepada RT. Dia sendiri tak tahu apa yang disebut oleh dokter. Yang pasti copy KTP dan KK miliknya sudah dia berikan untuk pelaporan itu. Namira langsung berlalu.


“Saya enggak nyangka, keberadaan kami tinggal di rumah ini jadi pembicaraan beberapa ibu di warung Bik,” keluh Namira yang masih kesal. Dia menangkap ibu tadi menuduhnya tinggal satu atap dengan lelaki tanpa ikatan pernikahan. Namira jadi ingat dengan kakak iparnya yang bia_dab, sehingga dia bisa hamil ilham. Namira juga teringat kekasihnya yang terpaksa dia tinggal karena dia malu hamil diluar nikah. Walau hamil karena perkosaan, belum tentu Wisnu kekasihnya mau menerima keadaan dirinya. Kalau pun Wisnu menerimanya, belum tentu keluarga Wisnu yang kaya dan masih termasuk dalam keluarga ningrat berkenan menerima dirinya.


“Ada ibu-ibu yang tanya status saya siapanya dokter Ilyas. Pandangannya seakan menuduh saya tinggal bareng dengan lelaki tanpa ikatan resmi. Saya merasa sangat kotor Bik,” ada air mata di sudut mata Namira. Dan dia langsung menghapusnya agar tak terlihat. Tapi bik Iyah sempat melihat saat Namira menghapus air matanya.


***


Tak terasa, Wulan berhasil melewati UAN dengan lancar. Dia sujud syukur karena kehamilannya belum diketahui siapa pun di sekolah. Dia berharap semua tetap aman hingga pengumuman ujian kelulusan nanti. Hari ini, 3 hari setelah UAN selesai, dia dipanggil ke ruang guru. Ternyata di sana ada beberapa temannya yang juga mendapat panggilan. Wulan sangat ketakutan. Dia tak ingin gagal mendapat ijasah SMA. Wulan duduk tertunduk seperti menunggu vonis pengadilan. Masih banyak yang ditunggu oleh para guru. Termasuk kehadiran ibu kepala sekolah. Wulan hanya bisa bertasbih di dalam hatinya untuk menenangkan perasaannya. Dia hanya bisa pasrah.


***


“Assalamu’alaykum,” sapa Fahri saat memasuki ruang tamu panti asuhan.


“Wa’alaykum salam kak Fahri,” balas bik Ani yang sedang mentitah ( membantu bayi untuk belajar jalan dengan memegang kedua tangannya ) seorang bayi lelaki yang gemuk.


“Hallo dede Juna,” sapa Fahri pada batita gembul itu. Dia berjongkok dan menciumi pipi Arjuna, sebuah nama yang bunda panti berikan pada bayi tampan itu. Sang dede sangat senang mendapat cium dari Fahri.


“Mommy ada Bik?” tanya Fahri.


“Sepertinya sedang pulang Kak, coba kakak Fai lihat di ruangannya. Bila tak ada Kakak bisa ke rumahnya,” jawab sang bibik sambil terus mengikuti kemauan langkah Juna. Fahri mencari Laura di ruang kerjanya. Tak ada jawaban dari ketukan yang dia lakukan. Fahri langsung ke belakang untuk menuju rumah utama di belakang panti.


“Assalamu’alaykum,” sapa Fahri saat memasuki ruang tamu rumah nini Ganis.


“Wa’alaykum salam Jalu,” balas uwak Ganis ramah. Dia sedang menonton televisi. “Masuk sayang.” Fahri memberi salim pada perempuan tua yang tetap terlihat cantik itu.


“Nini sehat?” tanya Fahri penuh perhatian.


“Sehat sayang. Kamu baru pulang sekolah? Sudah makan?” uwak Ganis memberondong pertanyaan pada Fahri.


“Iya Ni, baru pulang sekolah. Belum makan,” jawab Fahri. Dia mengenal perempuan tua yang dia panggil nini ( nenek ) ini sejak dia bisa mengingat. Karena sejak usia 2 tahun daddynya sering membawanya ke panti.


“Kamu langsung masuk. Mommymu baru saja akan makan. Makanlah dengannya,” perintah uwak Ganis. Laura memang baru saja masuk untuk makan siang.


“Assalamu’alaykum Mom,” sapa Fahri saat memasuki ruang makan dan dilihatnya Laura baru akan duduk.


“Wa’alaykum salam sayang. Sini makan bareng Mommy. Mommy kira kamu masih lama pulang sekolahnya,” Laura mengajak Fahri makan siang bersamanya.


“Aku pulang cepat Mom, ada keluarga guru yang meninggal sehingga para guru pergi takziah. Dan siswa dipulangkan semua,” jawab Fahri.


\========================================


Apakah Wulan ketahuan sedang hamil?


Apa pupus harapannya untuk kembali menuntut ilmu?


Baca kelanjutannya di episode berikut yaaaa