TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MASMU



Wulan sudah siap saat Yudha datang menjemput. Dia sudah membawa baju nikah yang dibuatkan Laura juga satu koper miliknya serta semua barang yang ada dikamarnya. Dia memang sudah memindahkan semuanya. Nanti kalau dia akan menginap di panti lagi, dia akan membawa baju ganti secukupnya saja.


Tak ada perpisahan haru karena Wulan masih akan tetap ada dipanti bila August bekerja. Mereka semua membantu Wulan membereskan barangnya yang memang tak seberapa. Yang banyak adalah buku-buku kuliahnya.


“Kang Yudha, jangan lupa baju akad nikah pak August nanti dibawa pulang ya,” pinta Wulan. Sebenarnya hari ini mereka juga menjemput paklek untuk ikut tidur di hotel. Tapi sejak minggu lalu paklek menolak. Dia bilang besok jam enam pagi akan sudah stanby di hotel.


‘Mas, nanti barang aku enggak usah dibongkar ya. Biar aku yang beresin,’ Wulan mengirim pesan pada August. Dia tak enak bila August membereskan barang miliknya. Karena barang-barang itu akan tiba bersama dengan Yudha yang balik ke rumah setelah dari hotel nanti.


‘Kamu dimana Sweety?’ tanya August.


‘Baru on the way ke hotel dari panti,’ balas Wulan.


‘Oke. Take care ya. Love you,’ balas August cepat. Sejak kemarin memang mami melarang mereka bicara ditelepon, apalagi video call.


“Masih mending kalian masih bisa chat,” begitu kata mami soal pingitan yang dia terapkan.


Kalau sudah nyerempet perasaan, tentu Wulan tak akan membalasnya. Dia belum bisa mengungkapkan suka apalagi cinta pada calon suaminya. Dia hanya merasakan nyaman karena ada sosok yang ‘mendekapnya’ hangat. Wulan merasa ada yang peduli, ada yang melindungi, ada yang memayunginya.


"Sayaaaaaaang, kamu cape?” sambutan mami mertuanya diluar dugaan Wulan. Mami menyewa sebuah suite room. Dalam ruangan itu ada tiga kamar tidur, ruang tamu dan dapur serta ruang makan.


“Enggak koq Mam,” sahut Wulan. Dia langsung memberi salim pada papinya August serta mami August yang langsung memeluknya dengan hangat.


“Ini omanya August. Maminya Papi,” Nenden membimbing calon menantunya pada sosok bule sepuh yang sedang duduk di sofa ruang tamu ruangan itu. Bule asli karena memang 100% Belanda. Dan menikah dengan pria ningrat Solo.


“Assalamu’alaykum Nek,” sapa Wulan sopan.


“Wa’alaykum salam. Panggil Oma saja ya,” Stelle menerima salim dari Wulan lalu dia menarik gadis itu untuk dia peluk dan cium.


“Ini buleknya August, adiknya Papi,” Nenden memperkenalkan iparnya, ibunya Bagas.


"Ini kakaknya Mami, pakde Jarwo dan itu istrinya. Sedang ini adik bungsu Mami, dia sampai saat ini tak mau menikah walau seharusnya sudah punya cucu,” Nenden memperkenalkan kakak dan adiknya juga Bagas dan istrinya.


Yudha menaruh pakaian akad yang akan digunakan Wulan besok sambil memberitahu bu Nenden. Tadi Wulan hanya menyuruh Yudha menurunkan itu serta sebuah tas pakaian kecil untuk dia ganti malam ini. Karena setelah menikah besok Wulan langsung tinggal di rumahnya bukan di hotel bersama keluarga besar suaminya.


“Yud, baju akad August sudah kamu bawa?” tanya Nenden.


“Ada di mobil Bu. Tidak diturunkan,” sahut Yudha.


“Ini selopnya serta peci. Bawa sekalian ya,” pinta Nenden.


“Peci mah sudah satu stel dengan baju yang dari designer Bu,” jawab Yudha. Dia tahu Laura sudah membuatkan peci sesuai atasan yang dibuat untuk August.


“Owh begitu? Ya sudah bawa aja enggak apa-apa. Buat dia pakai sehari-hari,” jawab Nenden.


“Kalau begitu saya langsung kembali ke rumah Bu,” Yudha langsung pamit pada semua. Dia sudah dipesan oleh August untuk sekalian membeli makan siang untuk semua yang dirumah.


Rupanya Wulan ditempatkan diruangan itu. Satu kamar untuk mami dan Papi August. Satu untuk Wulan dan satu untuk Oma yang akan ditemani ibunya Bagas. Yang lain tidur di kamar luar. Jadi besok mami dan oma mudah melihat Wulan saat didandani oleh MUA.


Ruangan diketuk dan Bagas segera membuka. Itu adalah makan siang yang memang dipesan oleh pak Prabu untuk semua anggota keluarga yang menginap di hotel ini.


“Enggak Oma,” balas Wulan santun.


“Ya sudah. Ayok makan yang banyak. Biar cicit Oma sehat,” Oma menggandeng Wulan kearah meja makan diruang itu. Siang ini memang makanan yang dipesan pak Prabu berbahan dasar *s*eafood dan banyak udang juga karena mereka tahu tak ada August disini.


‘Allah terlalu baik padaku. Keluarga mas August sangat menerima bayiku. Aku tak boleh meragukan mas August lagi,’ batin Wulan. Sekarang dia mencoba meyakinkan dirinya. Kalau hanya August yang menerima bayi ini mungkin rasa syukur yang Wulan punya tak sebesar ini.


“Kamu makan udang ini, biar bayimu enggak alergi udang seperti papanya,” Nenden menyorong piring udang asam manis pada Wulan.


“Semoga Dedek enggak seperti ayahnya yang alergi udang,” sahut Wulan sambil mengelus perutnya. Ada senyum kecil dibibirnya.


“August itu niru opanya. Kebanyakan alergi,” Oma bercerita tentang almarhum suaminya. Opa selain udang juga alergi dingin dan debu.


“Tapi Mas August hanya alergi udang saja ‘kan Oma?” tanya Wulan. Karena kemarin August hanya cerita tentang alergi udang saja. Tak ada yang lainnya.


“Iya, Masmu hanya alergi udang. Itu saja sangat merepotkan. Karena kalau anfal bisa sesak napas dan harus diinfus serta diberi bantuan oksigen. Bila telat ya bisa membawa kematian,” jawab Nenden. Wulan mendengar jelas kata MASMU yang Nenden sebutkan. Mereka benar-benar tak merendahkan dirinya. Wulan makin bersyukur.


“Iya, Mas August sudah wanti-wanti soal alerginya,” jawab Wulan. Dia harus makin hati-hati ketika tahu semua memberitahu secara tak langsung soal alergi August saat makan siang kali ini.


‘Keluargamu cerdas. Mereka memberitahu soal alergimu secara tak langsung’. Untung dia tak terlalu buta soal August walau mereka baru ‘kenal’.


Sehabis makan Oma menyuruh Wulan istirahat. Yang lain pada mau keluar mumpung di Bandung. Yang tinggal hanya Nenden dan Prabu serta Oma. Maka Wulan pun mematuhi perintah oma. Dia masuk kamar dan mengambil ponselnya. Ternyata sejak tadi ada pesan dari August.


‘Kamu lagi apa?’


‘Kamu sudah makan?’


‘Koq enggak dibaca?’


‘Mas, maaf. Sejak tadi ponsel di kamar dan aku diruang tengah dengan yang lain. Kami disini baru selesai makan. Sekarang oma nyuruh aku istirahat jadi aku masak kamar dan membuka ponsel deh,’ Wulan menjawab semua pesan yang August tanya.


‘Aku bobo siang dulu ya Mas. Met bobok Ayahnya Dedek. We love you,’ Wulan memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.


***


Minggu pagi ini sehabis jalan-jalan dengan Fahri dan Nazwa, Laura sengaja ke panti. Sudah lama dia tak begitu memperhatikan panti asuhannya. Karena kesibukan di persidangan lalu selalu tidur di rumah sakit menunggui Syahrul. Pagi ini dia ingin menengok bayi dan anak-anak asuhannya.


================================================================= 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta