
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
*S**alam manis dari Sedayu~Yogyakarta*
\=======================================================================================
“Assalamu’alaykum calon imamku,” bisik Laura ditelinga Syahrul. Tentu saja dia sudah menggunakan baju khusus penunggu ruang ICU.
“Tadi Nazwa dan Fahri kesini, mereka lihat Abang dari luar aja karena enggak boleh masuk oleh penjaga. Walau Nazwa udah tiga belas tahun. Mereka doain Daddy biar cepat sembuh. Daddy cepet bangun dong. Kita ‘kan mau ke Jakarta. Kita nikah disana ya? Nanti disini kita bikin syukuran aja biar semua temanmu tahu.” lirih Laura membisikkan tentang kedatangan kedua anaknya.
“Kita baca al quran ya,” Laura lalu membuka ponsel untuk mencari surat yang akan dia baca ‘bersama’ Syahrul.
Selesai sudah. Sekarang Laura harus keluar. Dia mencium pipi, kening kedua mata hingga mengecup bibir Syahrul walau agak susah karena hidung Syahrul ditutup alat bantu oksigen. Membuat bibirnya sedikit tertutup.
“i love you Daddy. Tidur nyenyak malam ini ya. Dan besok pagi aku menunggumu buka mata,” Laura kembali berbisik kata-kata cinta agar Syahrul mendengarnya sebelum dia keluar ruang ICU untuk tidur bersama belasan penunggu lainnya.
***
Pagi ini August pergi sendiri. Yudha dia bebas tugaskan. Sehabis mereka berdua sarapan, August sengaja meluncur ke perumahan yang akan dia beli. Dia membawa copyan KTP milik Wulan yang dia print di sebuah toko foto copy yang bisa ngeprint data dari ponsel.
“Saya minta ukuran semua jendela ya. Saya ingin beli kordeyn sekarang juga,” August baru saja selesai membayar sebuah rumah yang diatas namakan Wulandari calon istrinya. Wulan tak tahu August meminta copy KTP untuk melengkapi pembelian rumah ini.
August bertekad hari ini membeli semua barang sehingga mulai hari Senin dia bisa tidur di rumah barunya. Rencananya apartemen di Jakarta ingin dia jual saja karena sejak dia menikah nanti dia akan tinggal di Bandung.
“Bisa minta tolong ubah warna cat dinding kamar utama? Juga membersihkan semua lantai dan sampah di halaman rumah saya hari ini?” pinta August pada pegawai developer.
“Saya akan bayar jasa ubah warna dan biaya beli catnya,” lanjut August cepat.
“Harus pagi ini juga Pak?” tanya petugas.”Kami bisa ubah seluruh warna custom koq Pak.”
“Iya. Saya ingin nanti sore sudah rapih karena besok hari Senin akan langsung saya huni,” balas August. Untungnya rumah di pengembang ini kamarnya sudah menggunakan AC, sehingga August tak perlu menunggu pemasangan bila hendak langsung tidur disana.
“Baik. Kami sanggupi Pak. Jadi yang mau diubah apa saja?” tanya sang pegawai. Untuk pengembang besar merubah warna cat satu rumah bisa dikerjakan hanya dalam satu hari. Karena banyak tukang yang bisa mereka kerahkan.
“Kamar utama menjadi warna cream yang ini. Dapur menjadi hijau ini dan ruang makan hijau yang ini,” August menunjuk sample warna yang dia inginkan.
“Ruang tamu dan ruang keluarga cream yang ini. Dan dua kamar lain beri warna biru telur asin yang ini.” August akhirnya merubah hampir seluruh ruangan. Hanya tampak luar yang tidak dia ubah.
“Jadi total tambahan biayanya berapa?” tanya August.
***
‘Cantik,’ batin August melihat Wulan keluar dari ruang tengah panti asuhan.
“Bik, saya pamit,” August pamit pada bik Ani yang kebetulan ada diruang depan panti asuhan. Dan perempuan tengah baya itu menjawab dengan santun
***
“Kamu sudah bikin list untuk seserahan yang aku minta?” tanya August.
“Enggak Mas. Aku mumet kalau bikin list. Karena seserahan itu ‘kan terserah calon suami. Nah sesuai perkembangan zaman dibuat barang yang biasa digunakan oleh calon pengantin perempuan agar barang yang diberikan tidak mubazir. Jadi intinya semua terserah pihak lelaki. Aku mah apa aja yang dikasih akan aku terima. Jadi aku enggak akan memberi list karena aku enggak minta,” jawab Wulan.
‘Perempuan lain akan minta baju, sepatu, tas branded. Kosmetik lengkap dari merk ternama. Kamu malah enggak mau minta apa pun. Udah tau aku bakal kasih apa pun yang kamu mau. Tetep aja kamu enggak mau nyebut apa yang kamu mau,’ August makin gemas terhadap calon istrinya ini.
“Ya sudah. Sekarang Mas mau belikan kamu tas, sepatu, alat make up, baju, mukena, al quran, dan mungkin beberapa barang yang nanti mas lihat. Mas mau kamu pilih yang terbaik. Jangan lihat harganya! Pilih barang itu karena kamu suka. Ingat, enggak perlu kamu lihat harga karena Mas mau yang terbaik,” August memberi rincian yang akan dia berikan pada paket seserahan.
“Oh iya Yank, ruang tamu rumah kita tadi Mas minta ganti warna cream agar netral. Nanti kita beli kordeyn ya. Ini ukuran jendela ruang tamu dan kamar juga jendela dapur. Kamar kita juga cream hanya lebih gelap. Kamar lain biru telur asin. Kamar pembantu enggak diubah dan dapur jadi hijau sesuai warna favoritemu. Ruang makan hijau lebih tua sedikit dari dapur. Jadi kordeyn nya disesuaikan dengan warna ruangnya.” August memberitahu Wulan perubahan warna dirumah mereka nanti.
August berhenti di toko khusus kordeyn. Dia menunggu Wulan keluar dari mobil dan mereka masuk toko untuk memilih motif dan warna yang akan mereka gunakan.
“Saya minta besok pagi dipasang disana ya. Karena siang saya sudah akan isi rumah saya,” August membayar semua biaya jasa pemasangan kordeyn yang Wulan pilih. Dia memberi alamat lengkap rumah baru miliknya.
‘*U*ntuk beli kordeyn aja habis segitu. Berapa lagi dana yang akan dia keluarkan untuk mengisi rumah?’ Wulan tertegun melihat nominal yang August bayarkan. Jumlah itu sangat … sangat besar untuk dirinya.
***
Hari ketiga sejak kecelakaan kondisi Syahrul masih tak ada perkembangan. Tapi kondisi batin Laura seakan hendak meletus seperti gunung Semeru yang sedang erupsi. Laura, Nazwa, Fahri dan Claudia sedang makan siang diruang tunggu ICU saat seorang tamu yang tak pernah diinginkan kehadirannya datang bertamu dengan tidak sopan.
“Nazwa, Fahri! “ sapa perempuan itu cukup keras tanpa memberi salam sebagai pembuka percakapan.
“Sampaikan salam dulu Nak,” Claudia, yang 100% bule menegur perempuan tak sopan itu dengan panggilan NAK. Itu menunjukkan dia lebih tua dari perempuan itu dan wajib dihormati.
“Saya memanggil anak saya, untuk apa memberi salam pada mereka?” jawabnya ketus.
“Kalau anda ibu yang baik, seharusnya memberi contoh yang baik. Anak-anak itu butuh panutan,” Claudia tahu dengan siapa dia berhadapan saat ini.
Claudia melihat Fahri sudah sembunyi dibalik tubuh Laura, dan Nazwa beringsut duduk mendekatinya.
“Anda siapa? Anda tak perlu campur tangan urusan saya dengan anak-anak kandung saya!” dengan sombong perempuan itu menjawab dan dia ingin menarik tangan Nazwa.