TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ABANG?!?



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=========================================================================


Laura merasakan usapan lembut dikepalanya. ‘Apa mama mbangunin aku buat salat Subuh?’ batin Laura yang masih mengantuk. Semalam tidurnya terganggu karena pasien yang meninggal itu.


‘Tapi ini ‘kan dikamar rumah sakit, enggak ada mama,’ Laura tersentak dan segera mengangkat kepala memandang tangan siapa yang mengusap kepalanya.


“Abang?!?” Laura melihat mata Syahrul terpejam tapi tangannya tadi mengusap rambut Laura.


Laura menciumi wajah Syahrul, pipi, kening dan matanya. Dia langsung memencet tombol memanggil petugas jaga.


Syahrul membuka matanya, dia lihat kekasih hatinya. Wajah yang selalu dia rindu.


“Permisi sebentar ya Bu, kami periksa dulu,” dokter jaga yang bertugas dan dua orang perawat segera memeriksa kondisi Syahrul.


‘Abang sudah sadar,’ chat langsung Laura kirim untuk mama, papa dan Gerry. Dia kirim juga untuk Ilyas, August dan Adnan.


‘Alhamdulillah daddy sudah sadar,’ chat untuk Nazwa juga segera dia kirim.


‘Alhamdulillah dokter Syahrul telah sadar,’ chat ini dia kirim untuk ponsel panti asuhan.


“Suster, saya pamit salat subuh dulu. Nanti saya kembali,” sambil menunggu pemeriksaan, Laura bergegas keluar karena waktu salat Subuh pendek. Dia ingin segera menemui kekasih hatinya setelah selesai menjalankan kewajibannya.


Tak ada Gerry di ruang tunggu. Adiknya pasti sedang salat di masjid. Dia segera salat tanpa membuang waktu.


‘Mama meluncur sehabis salat Subuh ya, Mama bawakan kamu baju bersih juga untuk Gerry dan sarapan,’ Claudia menjawab chat anak sulungnya dengan penuh syukur.


“Oma, kami boleh mbolos dan bertemu Daddy?” tanya Fahri dengan antusias.


“Boleh sayang. Nanti Oma yang tanggung jawab. Kalian bersiap karena Oma akan berangkat sebentar lagi. Kalian salat Subuh dulu,” sahut Claudia. Tak mungkin dia melarang anak-anak untuk bertemu dengan daddynya.


***


“Assalamu’alaykum Bang,” sapa Laura. Dia tak percaya penantian panjang selama tiga minggu berbuah manis.


Syahrul menggapai tubuh Laura untuk bisa dia peluk. Laura mendekat dan memeluk tubuh yang masih terbaring. Dia kecupi lagi wajah Syahrul. Kali ini dia mengecup selintas bibir lelaki itu karena alat bantu napas dihidung sudah tak dipasang sehingga bibir Syahrul tak tertutupi.


“Jang … an mena … ngis,” pelan dan terbata Syahrul bicara, dia hapus air mata dipipi gadis pujaannya.


“Aku bahagia Abang mau kembali,” Laura menjawab ucapan Syahrul sambil lekat memandang wajah tirus calon suaminya.


Syahrul kembali menarik Laura dalam pelukannya dan dia kecupi puncak kepala perempuan yang dengan sabar menungguinya. Tadi dia sempat mendengar cerita koleganya bagaimana istrinya itu selalu berada disisinya. Rupanya rekannya mengira Laura sudah resmi menjadi istrinya.


“Ibu, ini resep yang harus ditebus karena sekarang dokter Syarul sudah sadar,” seorang petugas memberi selembar resep saat bersamaan Gerry masuk untuk menengok Syahrul.


“Terima kasih. Akan segera kami tebus,” jawab Laura.


“Abang, ini Gerry, dia datang bersama mama,” Laura memperkenalkan adiknya pada Syahrul.


“Maaf mengganggu lagi. Ibu diminta menemui dokter,” petugas tadi kembali mendatangi Laura.


“Baik Sus. Saya segera kesana,” jawab Laura.


“Abang, aku tinggal sebentar ya. Abang ditemani Gerry dulu,” Laura pamit pada Gerry dan tanpa malu pada adiknya, perempuan muda itu mencium bibir Syahrul selintas.


***


“Ibu, kita tunggu enam jam ya. Kalau keadaan dokter Syahrul stabil, kita pindah ke ruang rawat biasa saja. Nanti semua alat akan kita copot kecuali infus,” dokter menerangkan hal medis yang susah Laura mengerti. Intinya keadaan Syahrul suatu keajaiban disaat team dokter sudah angkat tangan dan berserah diri.


“Apa saya mesti pesan ruang sejak sekarang?” tanya Laura.


“Tidak perlu Bu. Ibu tinggal katakan saja nanti kami yang urus karena dokter Syahrul kan karyawan sini. Dia mendapat jatah kamar kelas I,” sahut dokter itu.


“Baik, saya pesan kamar VIP saja, biar selisih biayanya kami tanggung,” jawab Laura. Dia ingin fasilitas terbaik untuk calon suaminya juga keluarganya yang datang. Karena dikelas VIP ada bed untuk penunggu, juga ruang keluarga sendiri. Dikelas I tak ada ruang keluarga walau ada bed penunggu.


“Baik Bu, akan saya catat permintaan Ibu,” sahut dokter itu


***


“De, mama sudah sampai di parkiran. Kamu keluar gantian dengan Nazwa. Mama bawa anak-anak,” Laura memberi tahu Gerry yang sedang menjawab pertanyaan Syahrul.


“Sekalian beli obat ini De,” tak lupa Laura memberikan resep dokter tadi. Dan dia segera memberitahu Gerry uang untuk membeli obat sudah dia transfer ke rekening adiknya.


“Abang, saya keluar dulu,” pamit Gerry dan sekali lagi Syahrul hanya menjawab dengan anggukan pelan serta seulas senyum.


“Daddy,” sapa Fahri pelan. Ada kaca di bola matanya yang dengan sekuat tenaga dia tahan agar tak jatuh. Rupanya Fahri masuk lebih dulu karena hanya boleh dua orang didalam. Sementara Syahrul tak mau bila Laura keluar.


“Salamnya mana sayang?” tanya Laura. Dia peluk bahu lelaki kecil itu dan dia bawa mendekat pada ayahnya.


Fahri memegang tangan Syahrul dan mencium punggung tangan lelaki pujaannya. “Assalamu’alaykum.”


Syahrul mengusap puncak kepala Fahri dan menjawab terbata salam yang anaknya berikan. “Wa … a … alaykum … sa … lam.”


“Ade, Daddy belum bisa diajak ngobrol banyak. Ade cerita aja, tapi jangan minta Daddy jawab ya. Mommy akan keluar ambil kak Nazwa,” Laura mengatakan pada Fahri bagaimana kondisi ayahnya saat ini.


“Aku keluar sebentar ambil kakak. Enggak akan lama. Ada Fahri disini sama Abang ya,” bisik Laura. Tapi Syahrul tak mengizinkan Laura keluar. Dia takut perempuan itu meninggalkannya. Syahrul terus menggeleng.


“Kepalanya jangan banyak bergerak. Iya Mommy enggak keluar. Kepalanya diam ya?” bujuk Laura. Dia dekap erat kepala Syahrul sambil dia kecupi pelipis pria itu.


‘Hanya Mommy yang bisa membuat Daddy seperti ini,’ batin Fahri.melihat bagaimana kolokannya sang ayah dan telatennya Laura menghadapi.


‘Kak, daddy rewel. Mommy enggak boleh keluar biar kakak bisa masuk. Kakak sabar ya gantian dengan Ade,’ Laura segera mengirim chat untuk anak gadisnya. Dia kasihan membuat Nazwa menunggu lama.


‘Iya Mom, Kakak ngerti koq. Kami sarapan dulu biar nanti bisa gantian dengan Mommy. Om Gerry lagi ke apotek,’ Nazwa mengerti kondisi labil yang saat ini diperlihatkan daddynya.


“De, gantian sama kakak ya. Sepertinya daddy bakal tidur lagi karena pengaruh obat. Kasihan kakak kalau daddy sudah tidur sebelum kakak ketemu,” Laura meminta Fahri gantian. Dia juga menyuruh jagoannya sarapan dengan Gerry.


“Assalamu’alaykum Dadd,” Nazwa memberi salam sambil mencium punggung tangan ayahnya seperti yang tadi adiknya lakukan.


“Wa … a … alaykum … sa … lam.” Syahrul menjawab dengan senyum dan menarik Nazwa agar bisa dia peluk.


JANGAN LUPA, KITA BERTEMU DI BAB SELANJUTNYA NANTI MALAM YA