
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
======================================================================
“Sedikit demi sedikit akan mulai Mas biasakan dengan memantau jarak jauh saja tanpa harus ada Mas secara fisik di kantor. Zaman sekarang zoom meeting kan sudah biasa,” jawab August. Dia mulai tahu istrinya insecure pindah ke Jakarta.
‘Aku kira dia hanya seorang pilot. Ternyata dia juga pewaris tunggal perusahaan papinya selain memiliki usaha sendiri. Pantas beli rumah seperti beli jagung bakar aja,’ Wulan hanya bisa membatin. Dia sungguh tak mengharap harta berlebih yang dimiliki suaminya. Dia hanya butuh rasa nyaman untuk dirinya dan anak dalam kandungannya kelak.
Kalau sekarang dia ternyata menjadi istri seorang pengusaha dan calon pemimpin perusahaan, itu jujur tidak dia ketahui sama sekali. Yang dia tahu saat August melamarnya, pekerjaan lelaki itu adalah seorang pilot.
***
Hari Senin kemarin Ilyas membawa Namira ke rumah sakit untuk suntik KB. Setelah sejak dini hari Ilyas berhasil menyuntik Namira dengan jarum tumpul miliknya. Sesuai permintaan Namira, istrinya belum ingin hamil sebelum Ilham berusia satu tahun.
Selain itu Ilyas juga membawa Namira ke HRD untuk mengurus penyesuaian status dirinya yang telah berkeluarga.
“Hai Yas, wah bawa calon istri nih?” sapa seorang kawan sejawat Ilyas siang itu, saat Ilyas baru akan makan siang.
“Hai Tom. Kenalin. Ini Namira istriku, bukan calon istri,” jawab Ilyas dengan tersenyum.
“Serius?” temannya tentu tak percaya.
“Serius lah. Kami sudah menikah hari Sabtu kemarin. Kalau tak percaya cek ke HRD. Hanya kami menunda resepsi saja,” balas Ilyas. Dia yakin habis ini berita pernikahannya akan segera tersebar.
“Wow, congrats ya. Semoga kalian selalu bahagia. Aku yakin akan banyak yang patah hati mengetahui statusmu terbarumu ini.” sang teman langsung menjabat erat tangan Ilyas.
“Terima kasih,” sahut Ilyas. Lalu mereka berlalu untuk makan siang karena Namira akan segera pulang. Tadi mereka menitipkan Nindi di sekolah sebelum Namira menjemputnya.
Dan sekarang hari Rabu, kalau August sejak pagi sudah mengantar istrinya yang hari ini akan kuliah pagi, maka Ilyas sedang sibuk mengurus nilai mata kuliah spesialisasinya. Dia sudah lulus dan bergelar menjadi dokter spesialis anak. Cita-cita yang ingin dia raih sejak awal dia masuk ke fakultas kedokteran.
Kemarin Namira bersedia mereka mulai membicarakan resepsi setelah Ilyas selesai dengan wisuda dan penempatan kerja diposisi baru. Namira juga akan mulai mendaftar kuliah semester depan. Atau tiga bulan lagi.
“Rasanya sudah lengkap semua Dok,” bagian administrasi kampus memberikan satu lembar tanda terima untuk Ilyas gunakan mengambil baju wisuda serta undangan wisuda yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.
“Oke, terima kasih,” jawab Ilyas lalu dia meninggalkan ruang itu untuk ke ruang sebelah mengambil perlengkapan wisudanya
***
Seperti rencana kemarin, pagi ini sehabis sarapan Wulan berangkat kuliah diantar oleh August suaminya. “Bawa apa?” tanya August melihat Wulan membawa kotak dalam paper bag.
“Ini kue basah Mas. Biasa aku juga bawa dan aku makan saat enggak tahan lapar. Kalau antara mata kuliah kan cuma ada selisih waktu duaa puluh menit. Kalau jalan ke kantin enggak cukup waktu. Jadi aku ganjel pakai bekal dulu. Nanti pulang kuliah baru aku makan dikantin atau makan di panti,” jawab Wulan.
August sadar perut ibu hamil memang beda. Masih untung Wulan tak tersiksa oleh morning sickness.
“Asal kamu begitu selesai pelajaran langsung pulang ya enggak perlu kamu bawa. Tapi kalau habis pelajaran kamu harus diskusi dulu dengan teman-temanmu gimana? Nanti anak Ayah kelaperan,” August tentu memikirkan bila Wulan tak langsung ke mobil. Namanya kuliah kan enggak cuma nerima materi didalam kelas.
“Apalagi hari ini Wulan pasti akan banyak ditanya oleh teman-temannya tentang status yang baru mereka publish.
“Anak Ayah kuat koq. Lagian Ibu bawa satu botol susuu coklat untuk ganjel kalau anak Ayah lapar,” balas Wulan dengan tersenyum manis. Tentu saja August bahagia mendengar Wulan menyebut anak ayah bagi bayi yang dikandung oleh istrinya itu.
***
Seperti dugaan August tadi, sebelum dan sesudah Wulan menerima pelajaran banyak temannya yang bertanya tentang status pernikahannya. Mengingat mereka baru semester pertama. Artinya baru saja lulus SMA.
“Aku menikah 14 Februari tahun ini. Saat itu calon suamiku tak tenang bila kami tidak menikah karena kami beda kota dan dia juga jarang di Indonesia,” itu alasan yang telah Wulan dan August rancang.
“Kami memang harus menyembunyikan pernikahan kami sampai aku lulus SMA, agar aku tidak di DO.”
Selesai satu tahap kehidupan Wulan. Dia sekarang bebas tertawa tanpa harus takut kehamilannya diketahui umum.
“Kamu dijemput suamimu?” tanya Kemuning saat dosen baru saja keluar ruangan.
“Iya Ning. Selama dia didarat aku tak boleh pergi kemana pun tanpa dia kawal. Aku bisa berangkat dan pulang kuliah sendiri bila dia sedang dinas,” sahut Wulan.
“Jadi dia akan berangkat kerja dari Bandung?” tanya Kemuning. Karena sesuai cerita Wulan jalur penerbangan yang biasa August lakukan belum tersedia di Bandung. Dan Kemuning baru tahu kalau August sudah memutuskan pindah rumah di Bandung karena tidak bisa pisah lama dengan Wulan.
“Iya. Jalur yang dia biasa lakukan belum tersedia disini. Kecuali dia mau pindah hanya untuk melayani penerbangan Bandung ~ Singapore dan Bandung ~ KL saja,” sahut Wulan sambil merapikan bukunya.
“Nanti kalau suamimu kerja, aku main ke rumahmu ya,” pinta Kemuning.
“Boleh main, tapi selama dia kerja aku tidur di panti asuhan. Jadi habis main kerumahku, kita ke panti ya. Suamiku tidak membolehkan aku sendirian dirumah. Sedang aku tak mau kami pakai pembantu selama kami masih berdua,” Wulan tentu tak melarang Kemuning main kerumahnya.
“Oh begitu. Baiklah. Aku tunggu kapan suamimu kerja saja,” jawab Kemuning. Lalu mereka berpisah diarea parkir karena kali ini mobil mereka tidak parkir bersisian.
***
“Bagaimana? Anak Ayah laper?” tanya August saat Wulan baru saja masuk ke mobil.
“Laper pake bingiiits Yah,” balas Wulan sambil membasuh tangannya dengan tissue basah. Lalu dia langsung mengambil kue yang dia bawa. Dia sodorkan ke mulut August untuk ikut makan kue yang dia bawa.
“Dede dulu aja,” August berupaya menampik.
“Ini Dede lagi maem koq,” jawab Wulan.
“Aa Yah, Dede pengen maem kue bareng ayahnya,” Wulan meminta August membuka mulutnya.
“Iya sayanknya Ayah,” sahut August dan dia membuka mulutnya.
“Mau maem dimana?” tanya August.
“Mas bosan ama makanan yang aku olah?” tanya Wulan. Kalau dia harus memilih, tentu akan berupaya menghabiskan makanan yang ada dirumah dulu.