
“Kami akan memulai besok ya,” Ariano menjelaskan kalau pekerjanya akan mulai bekerja esok hari.
“Berapa orang Pak?” tanya Sukma. Karena dia akan memberitahu yang piket masak untuk menambah porsi masakan sejumlah orang yang bekerja.
“Delapan,” Ariano ingin proyek ini cepat selesai agar tak lama mengganggu bayi dan balita penghuni panti. Biasanya untuk order kecil seperti ini dia hanya menurunkan empat atau lima orang pekerja saja.
“Tugas saya sudah selesai, saya mohon izin keluar,” Sukma yang merasa sudah selesai tugasnya langsung pamit terlebih dahulu.
“Apa aku boleh minta nomor ponsel pribadimu?” Ariano langsung menyerang Laura. Tak ada SAYA lagi. Dia menggunakan AKU.
“Untuk apa Pak? Apa tidak bisa dengan nomor panti saja,” seperti biasa Laura memang tak sembarangan memberi nomor pribadinya. Laura punya tiga ponsel. Satu nomor panti, Stahrul, Nazwa, August dan Ilyas serta semua pegawai panti tahu nya nomor ini. Satu nomor butik untuk semua urusan butiknya termasuk para konsumen. Dan satu nomor private. Hanya keluarganya yang tahu. Tak ada orang luar yang tahu nomor ini.
“Apa aku sangat tua sehingga kamu panggil aku PAK?” Ariano bukan menjawab pertanyaan Laura,malah protes akan panggilan yang Laura berikan padanya.
“Saya memanggil semua yang berhubungan dengan panti dengan sebutan itu,” Laura menjawab dengan sejujurnya.
“Usia kita tak beda terlalu jauh. Jadi ubah panggilanmu. Aku mau kita berhubungan personal diluar pekerjaan. Untuk itu aku minta nomormu agar mudah berkomunikasi secara personal. Bukan dengan para pegawaimu.” Dengan tegas Ariano menjelaskan apa yag diinginkannya. Dia memang berhasil mengintimidasi Laura. Dan gadis itu luluh dengan pesona ketegasan Ariano.
“Saya harus panggil anda apa?” tanya Laura. Dia tak ingin berkepanjangan berdebat dengan lelaki tampan didepannya.
“Abang!”
“Baik, saya akan panggil sesuai keinginan anda,” Laura pun meng iyakan permintaan Ariano.
“Mana nomormu?” Ariano kembali bertanya penuh tekanan.
“0811 …,” Laura menyebut nomor ponselnya yang untuk hubungan berkaitan dengan panti. Nomor ini pun bukan untuk semua orang. Biasanya untuk urusan umum cukup dengan nomor panti asuhan yang dipegang pegawai panti secara bergantian tergantung siapa yang piket.
Tak mau dibohongi, Ariano langsung memanggil nomor yang disebut oleh Laura. “Ya, saya save nomor Abang,” Laura merespon panggilan dengan men save nomor Ariano.
Setelah mendapat nomor yang langsung dipegang oleh Laura, Ariano mohon pamit.karena masih ada dua konsumen yang harus dia temui.
Laura mengantar Ariano ke depan. Lalu dia segera mendatangi kamar anak-anak. “Beritahu semua ya, pengerjaan akan dimulai esok pagi,” di kamar pertama yang dimasukinya Laura bertemu dengan Karni.
“Iya Mom, barusan Sukma sudah memberitahu saya,” jawab Karni.
“Siip lah. Berarti Sukma juga sudah memberitahu tentang porsi tambahan untuk para peerja besok ‘kan?” Laura tak ingin mereka lupa kan hal ini.
“Sepertinya sudah sejak kemarin Mom. Kami tambahkan sepuluh porsi. Karena menurut kami porsi makan pekerja keras tentu lebih besar dari orang normal,” Karni menjelaskan keputusan para pekerja.
“Bener bangeeet,” Laura pun pindah ke ruangan lain. Dia menyapa satu persatu anak asuhnya. Dia ciumi juga didekap dengan hangat. Tak ada satu pun yang terlewat. Memang seperti itu yang dia anjurkan pada semua pegawainya. Dia minta mereka bekerja dengan hati.
“Aku serius,” Ilyas berkata lirih. Tadi sehabis makan dia mengirim pesan pada Namira untuk bicara ketika anak-anak sudah tidur. Saat ini mereka bicara di ruang tamu. Bukan di ruang tengah. Sengaja agar bik Iyah tak terlalu dengar.
“Maksud Aden apa?” tanya Namira. Dia sungguh tak percaya Ilyas memintanya menjadi pendamping hidupnya.
“Aku mau kita serius tunangan. Jangan berpura-pura tak mengerti!”
“Kita tak mungkin bertunangan. Saya ibu dua orang anak. Kita tidak saling mengenal apalagi saling mencinta. Kalau kita putus nanti, tentu saya harus keluar dari rumah ini. Sedang saya belum bersiap-siap. Tapi kalau karena penolakan ini Aden mengusir saya. Saya pasrah dan akan menerimanya. Besok saya akan mencari kontrakan,” Namira tetap menolak Ilyas. Dia tak ingin membebani lelaki baik hati ini.
“Wait … saya jabarkan semua kata-katamu,” Ilyas geram mendengar jawaban Namira.
“Satu, kamu bilang tidak mungkin karena kamu ibu dua anak. Kedua kamu bilang kita tidak saling mengenal. Ketiga kita tidak saling mencinta. Dan keempat kamu bilang kalau putus,” Ilyas berupaya sabar.
“Dengarkan saya NAMIRA SABILLA binti GALIH KESUMA, sejak awal saya tahu kamu bukan gadis. Saat itu bahkan usia Ilham belum genap empat puluh hari. Apa saya tidak tahu hal itu? Saya tidak peduli dengan statusmu!”
‘Darimana dia tahu nama lengkapku juga nama ayah?’ Namira tak percaya Ilyas menyebut jati dirinya secara lengkap.
“Kamu kenal saya sudah empat bulan. Saya tahu keseharianmu, kesukaanmu dan kamu juga sama mengetahui pekerjaan saya, keseharian saya, kesukaan saya, itu yang kamu bilang kita tidak saling mengenal?”
“Mungkin cinta kita memang belum ada, tapi tak mungkin juga tak bisa tumbuh bila kita saling membuka hati. Kecuali kamu memang menutup hatimu karena kamu masih berharap kembali pada Wisnu.”
“Dan terakhir, saya tidak suka kalau saya dituduh picik! Sejak awal saya membawamu kesini tak pernah sekali pun kepikiran akan mengusir kalian! Walau kita tak berjodoh, saya tak akan mengusir kalian. Kalian bisa pergi kapan pun kalian mau!” geram Ilyas langsung meninggalkan ruang tamu. Awalnya dia menggunakan AKU, tapi mendengar kalimat Namira dia langsung menggunakan SAYA.
‘Kenapa jadi begini? Aku hanya tak ingin banyak berhutang budi. Sejak awal aku berupaya menekan rasa cinta yang aku pendam. Aku tak berani menyirami rasa itu karena tak ingin cintaku padanya tumbuh subur. Aku hanya perempuan miskin yang dia tolong!’ Namira terisak diruang itu. Dia masih bingung.
‘Aku takut bu Novia dan bik Iyah mengira aku menyodorkan diri pada dia. Aku tak mau dinilai tak tahu diri. Apa besok aku harus mulai mencari kontrakan saja? Sepertinya uang tabunganku cukup juga bila harus kontrak dan membeli kulkas bekas. Aku harus cari kontrakan dekat sekolah Nindi agar Nindi bisa jalan kaki ke sekolah,’ Namira membulatkan tekad untuk mandiri. Dia akan bergerak besok. Dia masuk ke kamarnya dengan lesu.
‘Maafkan ibu ya sayang, kita akan keluar dari kenyamanan ini. Kita akan mulai berdiri sendiri,’ Namira terisak membelai kepala Ilham. Seperti mengerti dengan kondisi sang ibu yang kalut, Ilham menjadi rewel. Dia menangis tak henti. Diberi ASI pun masih menangis. Pakaiannya tidak basah karena ompol. Namira bingung. Suhu tubuhnya pun tidak panas.
“Kamu kenapa sayang? Jangan siksa Ibu sepert ini,” Namira menggendong Ilham sambil mengajak bicara anaknya yang terus menangis. Namira pun ikut menangis karena tak pernah Ilham seperti ini.
\===========================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta