TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MENGENANG AWAL PERKENALAN



SEPERTI BIASA, YANKTIE MUNGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI



Sebulan sudah August memberi talak pada April, tepat di hari yang sama dengan pernikahan mereka. Sudah dua bulan dia berpisah dengan Julia. August ingat, seminggu lagi ulang tahun mantan tunangannya itu. Dia ingin memberi kejutan manis untuk Julia. Dia sudah menyiapkan cincin dan kalung yang dia beli di Singapore minggu lalu saat dia terbang ke negara singa itu. Dia ingin memperbaiki hubungan mereka.


August mengenang perkenalan pertama dengan Julia. Saat itu Bagas adiknya minta jemput di rumah seorang teman sesudah belajar kelompok. Bagas adalah anak adik ayahnya yang sejak kecil di rawat sang mami karena tantenya sakit-sakitan sehingga Bagas kecil tak terawat.


Saat itu Bagas tidak diantar sopir karena istri sopirnya sedang melahirkan. Hujan deras sehingga sudah satu jam Bagas tak dapat memesan taksi. Di rumah teman Bagas tersisa tiga anak remaja yang baru saja lepas seragam SMA. Saat itu Bagas baru kuliah semester pertama. Seorang adalah Satrio pemilik rumah, seorang lagi Bagas dan seorang adalah Julia, yang belum di jemput sopirnya.


Bagas meminta August mengantar Julia karena dia tak tega meninggalkan Julia berdua di rumah Satrio. Berpikir buruk bila meninggalkan seorang gadis berdua dengan lelaki di rumah itu, maka August pun setuju mengantarkan Julia lebih dulu.


Itu awal mereka berkenalan. Sejak itu August berupaya mengikat Julia. Julia mau tunangan setelah dia empat tahun kenal. Yaitu saat Julia akan selesai kuliah dan mau menikah setelah dua tahun kerja. Karena Julia ingin merasakan menjadi pegawai sebelum menikah dan menjadi full ibu rumah tangga.


Dengan berbagai cara, August mampu meminang Julia dan mereka bertunangan saat Julia sedang menyusun skripsi, tidak menunggu hingga Julia selesai wisuda. Sebelum wisuda Julia yang pandai, mendapat panggilan kerja dan langsung menjadi sekretaris pak Achdiyat.


Yang menentukan siapa yang bakal diterima sebagai sekretaris pak Achdiyat adalah istrinya. Bu Achdiyat menilai Julia sopan dan jujur. Dia tak mau pak Achdiyat sepanjang hari bekerja dengan perempuan muda yang berniat menjerat suaminya.


Walau belum lulus kuliah, bu Achdiyat yakin Julia bisa cepat belajar menggantikan Sarwendah sekretaris lama pak Achdiyat yang akan pindah mengikuti tugas suaminya yang di mutasi ke Papua. Dugaan bu Achdiyat terbukti, Julia cepat mengerti apa yang diajarkan Sarwendah.


***


Saat berkenalan dengan Julia sebenarnya August sudah mempunyai kekasih. Seorang perempuan sangat cantik yang bekerja sebagai pramugari. Mereka bahkan sudah tinggal satu apartemen. Karena August langsung pindah ke apartemen June, saat mereka sudah making love dan berikrar akan hidup bersama.


Sayang ketika August membawa June ke rumah untuk di perkenalkan pada kedua orang tuanya, sang oma langsung menyatakan tidak suka. Kalau oma sudah berkata tidak, maka papinya akan menuruti apa pun yang keluar dari bibir ibunya itu. Namun June dan August tak peduli. Mereka tetap hidup bersama, sampai August mendengar sendiri kata-kata June pada Grace teman sesama pramugari, kalau ternyata dia bukan satu-satunya lelaki dalam hidup June.


Sejak itu August langsung kembali ke apartementnya dan hubungan dia dengan June berakhir. Saat itu  August sudah tujuh bulan berkenalan dengan Julia.


Sejak putus dengan June baru August mulai mendekati Julia dengan serius. Dalam berhubungan dengan June dan Julia, August selalu serius, tak pernah mendua. August mulai mendua saat dia tergoda sesaat dengan April padahal sudah bertunangan dengan Julia.


Mungkin karena sebagai pria normal dulu dia terbiasa dengan kegiatan hubungan badan dengan June, sedang dengan Julia mereka tak melakukan. Maka ketika bertemu April, August merasa mendapat segelas air untuk menyegarkan dahaganya.


***


Hari Jum’at, bu Achdiyat mengajak Julia jalan berdua ke pasar Beringharjo, sedang para lelaki termasuk kedua boss kecil main di taman pintar dan akan langsung salat Jumat. Mereka janjian akan bertemu untuk makan siang.


Julia dan bu Tuti tak pernah sungkan untuk memberi masukan atas pilihan baju yang mereka taksir. “Sepertinya warnanya terlalu nge-jreng Bu, nanti malah Bapak enggak suka. Dia akan pakai baju ini tapi dengan hati yang enggak ikhlas. Pakai baju karena terpaksa kembaran dengan Ibu aja.” Demikian Julia memberi pendapat soal pilihan baju couple yang ditaksir oleh bu Tuti.


“Iya juga. Bapak ‘tu suka protes kalau warnanya agak terang. Beda ama Bastian, dia berani pakai baju yang warnanya menyala,” bu Tuti membenarkan pendapat Julia.


“Mungkin karena Pak Bastian masih muda Bu, jadi pede dengan warna menyolok. Pak Adi pasti merasa enggak percaya diri bila pakai baju berwarna terang,” kembali Julia memberi pendapat. Dia sendiri mencari gaun batik untuknya. Sengaja kemarin dia belum membawa baju kerja. Dia memang ingin selama lokakarya besok menggunakan batik saja.


“Iya, Ade emang pede pakai warna terang,” balas bu Tuti sambil minta warna lain dari baju pilihannya. Ade adalah panggilan Bastian di rumah. Dia adalah bungsu dari dua bersaudara. Dulu Rita sang kakak dipanggil teteh.


Banyak baju yang mereka beli, kadang Julia membayar sendiri, tapi lebih banyak dibayari oleh bu Tuti. Termasuk baju couple untuknya dengan Bastian yang tadi bu Tuti bilang harus dipakai makan malam Minggu nanti.


‘Mengapa malam Minggu aku harus pakai baju couple dengan monster itu?’ beribu tanya dalam benak Julia, tapi dia tak berani membantah pada perempuan yang sejak dia bekerja dan hidup sendirian di Jakarta sudah menjadi ibu ke duanya.


Dulu saat mulai kuliah di Jakarta, dia di dampingi bibiknya, adik ayahnya. Sayang sang bibik harus kembali ke Cianjur ketika neneknya mulai sakit. Sejak itu Julia hidup hanya dengan pengasuhnya sejak kecil di rumah orang tuanya di Jakarta. Sekarang pengasuhnya sudah berganti dengan seorang gadis karena pengasuhnya sudah terlalu tua.


Hari ini dihabiskan dengan mengikuti semua kemauan si kembar. Makan siang mereka minta junk food ayam goreng tepung di gerai ayam goreng berlogo badut, sesudah itu mereka minta berputar dengan delman dan becak.


Bu Tuti dan Julia hanya menunggu mereka di cafe di jalan Malioboro. Karena delman hanya muat untuk dua orang dewasa dan dua anak.  Sedang becak hanya muat untuk satu dewasa dan satu anak. Tentu saja bu Tuti menugaskan suami dan anaknya menemani kemauan si kembar.


Sehabis makan malam, Bastian mengajak kedua keponakannya menikmati sepeda berlampu warna warni di alun-alun kidul. Julia dan bu Tuti menunggu para lelaki berkeliling dengan sepeda. Dan mereka duduk di rerumputan yang dilapisi alas plastik dengan menikmati aneka kuliner di sana.


Selama itu sikap Bastian sangat manis, tak ada sikap ototriter kecuali ketika Julia memanggilnya Pak. “Sudah berapa kali aku peringatkan, jangan panggil PAK!”


“Iya Jul, kita ‘kan keluarga, jangan panggil Pak kecuali di depan karyawan lain. Biar di kantor sekali pun, kalau kalian hanya berdua, kamu jangan panggil Bastian dengan sebutan Pak,” pak Achdiyat malah membela anak bungsunya itu.


“Iya Pak,” Julia mengiyakan perintah mantan direktur utamanya itu dengan tergugu dan menunduk.


\==========================================================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta