TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KUNJUNGAN PERTAMA AUGUST KE PANTI ASUHAN LAURA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA



Pagi ini Laura kembali menuju daerah Kopo Bandung, lokasi butiknya berada. Dia sudah berjanji dengan kak Witri untuk menuntaskan design yang dipesan calon istri kak Ubby itu. Kali ini kak Witri datang berdua ibunya karena kak Ruben atau yang biasa dipanggil Ubby tak bisa menemani. Kak Ubby sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya agar ketika waktu pernikahan dia sudah tak ada beban lagi.


“Fix seperti ini ya Kak, warna broken white,” Laura kembali menegaskan pesanan kak Witri. Laura juga memisahkan bahan mana yang dipilih perempuan anggun itu.


“Pasti yang ini ya Kak, udah enggak bakal berubah? Kalau udah pasti akan aku lagsung pisahin,” Laura kembali memastikan pilihan bahan yang Witri pilih.


“Iya, Kakak ambil yang itu,” jawab Witri dengan yakin.


Laura senang kakak angkatnya akan meminang gadis yang memang sangat cocok dengan kak Ubby.


‘Pasangan yang serasi,’ batin Laura.


Laura ingat istri pertama kak Steve tidak cocok dan tak disukai mami Clara. Dan perjalanan jodoh keduanya tidak panjang, karena kak Steve dan kak Steffy sama-sama tak ada yang mau mengalah.


Akhirnya di pernikahan tahun ke tiga kak Steve dan kak Steffy berpisah, untungnya belum ada anak. Dua tahun kemudian kak Steve menikah kembali dengan mbak Ningrum yang lembut dan disayang mami Clara. Mereka kini tinggal di Semarang dengan tiga anak mereka.


Jodoh kak Dipta juga lembut dan bisa mengajak siapa saja ceria dengan canda tawanya. Sudah tujuh tahun kak Dipta dan Uni Franda menikah, dan mereka tetap belum dikarunia anak. Tapi pasangan itu tetap saja tak pernah terlihat sedih atau saling menyalahkan. Mereka tetap harmonis.


Semalam mami Clara cerita di telepon, kalau Kak Dipta lah yang tak bisa punya anak. Memang sejak minggu lalu, Laura dan mami Clara sering ngobrol di malam hari lewat telepon. Sejak lama mami  menyarakan agar Dipta dan Franda mengangkat anak saja. Sudah hampir dua tahun mereka berniat seperti itu tapi belum juga terealisasi.


Mami Clara berharap dengan bertemu kembali dengan Laura, harapan mereka untuk mengadopsi anak bisa terjadi. Karena minggu lalu uni Franda dan Dipta sudah mengajak mami Clara menemani mereka untuk datang ke panti asuhan yang dipimpin adik bungsu mereka.


Di keluarga aslinya Laura adalah anak kedua, tapi kakaknya meninggal beberapa bulan sebelum dirinya lahir. Sehingga dia menjadi anak sulung. Tapi dikeluarga mami Clara, dia adalah anak bungsu dengan tiga kakak lelakinya.


“Makan siang diluar yok,” ajak Witri pada Laura.


“Boleh Kak, mau makan di mana?” Laura tak menolak ajakan itu.


“Aku lagi pengen salad dan ice cream, gimana kalau kita makan pizza aja, biar puas makan salad di sana?” tanya Witri.


“Oke Kak, kita jalan sendiri-sendiri ya Kak, karena sehabis makan siang aku mau langsung belanja kebutuhan panti dan langsung pulang ke Cimahi,” tanpa keberatan Laura mengambil tas dan ponselnya. Dia pamit kepada pegawainya setelah memberi perintah pengerjaan pesanan Witri.


“Kak, terima kasih ya. Karena Kakak aku jadi bertemu lagi dengan mami Cla ( Clara ).” ucap Laura disela makan siang mereka.


“Padahal kita beberapa kali bicara by phone, tapi enggak tahu kamu adik angkat Ubby yang beberapa kali dia ceritakan,” Witri juga tak menyangka akan menjadi jembatan bagi Laura dan keluarga calon suaminya.


“Beneran kak Ubby pernah cerita tentang aku?”  Laura taak percaya akan berita ini.


***


“Teteh, tamu yang dari Jakarta sudah datang,” Nengsih melaporkan pada Laura akan kehadiran empat orang dari Jakarta yang ingin memberi santunan pada panti.


“Suruh mereka tunggu di ruang tamu, sediakan minum dan snacknya ya. Sebentar lagi saya keluar,” jawab Laura. Dia segera membereskan berkas kerjanya, tak ingin sketsa yang dia buat beterbangan bila tak segera dirapikan sebelum dia tinggal keluar.


Di ruang tamu, Laura melihat empat pria dewasa yang sedang mengobrol menanti kedatangannya. Di meja selain minum yang sudah disiapkan Nengsih, ada sebungkus rokok dan korek. Dia harus tegas melarang tamu untuk tidak merokok. Namun bila hanya diletakkan di meja tentu tak masalah.


“Maaf harus menunggu,” Laura menyampaikan salam perkenalan dengan meminta maaf.


“Saya Laura, yang memimpin pondok ini.” gadis itu memperkenalkan diri dengan sopan.


‘Pimpinan pondoknya muda banget, apa dia bisa me manage pondok dengan baik?’ begitu pikiran empat pria mapan yang datang saat itu. Mereka memandang kemapuan kerja berdasarkan penampakan usia Laura.


“Saya Wicak, ini Wahyu, Ini Septian dan ini August. Kami dari komunitas motor, ingin memberi sedikit rizky yang kami punya. Kebetulan saat ini kami survey lebih dulu, karena rencananya kami akan datang dengan anggota sekitar satu bulan lagi.” Seorang dari keempat lelaki itu memperkenalkan diri dan mengutarakan niat mereka yang merupakan team survey dari sebuah komunitas motor.


“Saya pribadi dan kami sebagai pengelola panti, pada prinsipnya tidak menolak uluran tangan donatur. Hanya kami sangat menolak donasi yang digunakan sebagai promo. Bukan sombong, kami hanya tak ingin setelah untuk promo lalu panti ini akan menjadi sasaran promo donatur lainnya. Karena biasanya organisasi sejenis tak mau kalah, dan akan ikutan memberi donasi lebih besar dengan promo lebih gencar. Lalu tak akan habis, walau rejeki berdatangan, tapi kami tak mau panti menjadi bahan promo.” Laura memberi prinsip yayasan yang dia pimpin.


Selanjutnya dibahas juga ketentuan tidak merokok di semua lini dalam lingkungan yayasan, dan kapan pelaksanaan kunjungan serta berapa perkiraan rombongan yang akan hadir. Mereka saling bertukar nomor yang bisa dihubungi.


Laura memberi nomor ponsel yang memang khusus untuk yayasan. Nomor itu berbeda nomor dengan yang untuk butiknya. Apalagi nomor untuk pribadi. Memang ketiganya mempunyai nomor berbeda agar tak bingung bila sama. Biasanya ponsel dengan nomor yayasan dipegang oleh Nengsih atau pegawai yang sedang piket. Nomor itu yang tertera di kartu nama yayasan.


“Kalau saat ini, kami mau memberi sumbangan pribadi, apa ada nomor rekening yang bisa kami tahu?” tanya Septian sebelum mereka pamit.


“Nomor telepon untuk urusan donasi dan nomor rekening ada dalam kartu nama,” balas Laura sopan.


“Jadi nomor ponsel yang tadi anda berikan bukan nomor pribadi anda?” penasaran Wahyu bertanya, dia tak ingin bila iseng nge chat pribadi ternyata bukan Laura yang memegang nomor itu.


“Bukan, saya tidak memberikan nomor ponsel pribadi untuk urusan yayasan,” jawab Laura tegas, membuat August, Wahyu dan Septian berpandangan. Ketiganya tentu punya niat yang sama, cari peluang mendekati Laura. Wicak sudah berumah tangga, maka tak punya niat itu.


================================================================= 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta