TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
NINDI MENDAPAT ORANG TUA TERBAIK



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Almira sedih melihat respon putri kandungnya. Dia sadar kesalahan yang telah dia buat. Dia semakin yakin Nindi lebih baik hidup dengan didikan Namira daripada dengan dirinya yang tidak menyukai anak-anak.


“Assalamu’alaykum anak Ayah,” Ilyas juga melihat respon Nindi. Dia ingin memberi rasa nyaman pada putrinya itu.


“Ayaaaaaah,” Nindi memeluk Ilyas dan tak mau dilepas. Namira mengambil tas kerja dan baju snelli Ilyas agar suaminya bisa menggendong Nindi untuk memberi rasa aman.


Ilyas menggendong Nindi dan membawanya ke kamarnya.


“Ayo Teh, Bi masuk. Aku ambilkan baju ganti, nanti kita salat Maghrib jamaah ya,” Namira mengajak kedua tamunya duduk diruang tengah. Untuk mengusir rasa serba salah akibat reaksi Nindi barusan.


“Ilham bawa sini Bik,” Namira meminta Ilham pada bik Iyah.


“Ini anak kedua kami. Ilham namanya,” Namira memperkenalkan Ilham pada Almi dan Misah.


“Bik, ini kakak kandung saya, dan ini bibi saya dari Bogor,” Namira memberitahu siapa tamu mereka malam ini pada bik Iyah.


“Sini aku gendong Ilham,” pinta Misah.


“Ambil aja Bi, dia gampangan koq. Dia mau sama siapa saja. Sekarang aku ambil baju ya,” Namira masuk ke kamarnya mengambilkan baju ganti, pakaian dalam serta handuk bagi bibi dan kakaknya.


“Bik, aku sudah panaskan rendang di micro wave, nanti tambahkan itu di meja makan ya. Sama salad buah. Tapi yang punya Bapak jangan, biar Nindi yang kasihkan,” Namira berbisik pada bik Iyah untuk menambah lauk. Tadi dijalan sebelum pulang dia sudah meminta bibik melihat nasi cukup tidak bila tambah dua orang tamu. Kalau kurang, dia minta bibik memasak nasi tambahan.


***


“Kenapa anak cantik Ayah seperti itu?” tanya Ilyas pelan. Mereka berdua dikamar Nindi.


“Aku takut. Dia yang marahin Bunda waktu di mall,” sahut Nindi jujur.


“Itu hanya salah paham. Tadi dia datang ke rumah sakit dan meminta maaf. Bunda aja sudah memaafkan. Masa Teteh masih takut?” tanya Ilyas.


“Dia enggak galak lagi?” tanya Nindi. Enggak. Dia sangat baik dan sayang ke Bunda juga ke Teteh koq. Sekarang kita keluar yok?” ajak Ilyas.


“Enggak mau. Nanti aja,” sahut Nindi masih belum bisa melupakan bundanya terisak karena dimaki-maki perempuan itu.


“Ayah mandi dulu ya. Nanti kita salat bareng seperti biasa lalu makan. Nanti Ayah kesini sehabis mandi,” Ilyas pamit pada Nindi.


***


Sehabis mandi Ilyas menjemput Nindi dikamarnya. Dia ingin mengenalkan putrinya pada sang “uwak” dan nenek muda yang datang mengunjungi mereka.


Tadi Namira menyilahkan kedua tamunya bila ingin istirahat di kamar tamu. Tapi keduanya malah senang bermain dengan Ilham.


“Teh, cobain atuh. Ini bikinan Eneng. Awalnya hanya taruh di warung sayur dan terima pesanan online. Sekarang pesanan langsung di handle toko. Besok kita ke toko ya. Habis Eneng antar Nindi sekolah,” Namira menyodorkan risol dan donat yang baru dia goreng dan beri toping.


“Teteh juga niatnya enggak balik ke Taiwan. Mau buka usaha di Bogor. Udah sewa toko dan udah bayar dua waralaba. Bismillah, semoga lancar,” Almi memberitahu niatnya tak kembali bekerja di luar negeri.


“Bibi enggak rencana nikah lagi? Masih muda atuh,” Namira menggoda bibinya yang sudah dua tahun menjanda.


“Insya Allah. Kalau ada jodoh sebentar lagi go publik,” sahut Misah.


“Waaaaah. Sejak aku di Bogor Bibi enggak cerita,” protes Almi.


“Ha ha ha,” Misah hanya tertawa.


“Wah seru nih ceritaannya, ini anak Ayah mau salim katanya,” Ilyas menggandeng Nindi yang malu-malu.


“Sini cantik,” Misah menyuruh Nindi mendekat. “Namanya siapa?”


“Nindi,” sahut Nindya lirih.


“Kelas empat,” sahut Nindi makin pelan. Rupanya dia masih takut pada Almi. Namira yang tahu itu langsung duduk dibawah kaki Almi.untuk memperlihatkan kalau dia dan Almi sudah baik-baik saja.


“Teteh sini. Ini Uwak Almi. Dia sama Bunda kakak adik seperti Ayah dan uwak Nopi,” Namira memperlihatkan dia sudah baik-baik saja dengan Almi.


“Atuh abdi mah juga dipanggil uwak ajah ya, jangan nenek ah,” Misah merasa terlalu tua dipanggil nenek oleh Nindi.


“Enggak apa-apa atuh. Nenek muda mah woke,” sahut Namira.


“Eh Teteh mana tadi katanya bikinin Ayah salad buah?” Namira terus memancing Nindi.


Ditanya seperti itu Nindi langsung berlari menuju dapur dan mengambil salad buatannya untuk Ilyas. “Ayah, Teteh tadi buatin ini buat Ayah.”


“Terima kasih cantiknya Ayah. Sebentar Ayah taruh Dede dulu di baby walker ya. Kita makan salad buatan Teteh berdua,” Ilyas menaruh Ilham di area berpagar yang memang dia pasang.


Pagar untuk balita ini memang dijual dan bisa bongkar pasang sesuai kebutuhan. Pagar ini untuk melindungi anak yang baru belajar menarik apa pun dimeja dan bisa berakibat kaki anak kena pecahan piring atau benda lain.


‘Aku yakin, Halim tidak semanis itu mendidik anak-anak. Alhamdulillah Nindi mendapat orang tua terbaik,’ Almi melihat interaksi Ilyas pada kedua anak tirinya itu.


‘Kalau Ilyas sayang pada Ilham mungkin orang akan berpikir karena Ilham masih bayi dan anak istrinya. Lha kalau ke Nindi? Bukan anak istrinya dan bukan bayi. Dia tetap mencintainya. Benar-benar lelaki dan ayah idaman.’


“Teh punten ya, aku sambi ngasih makan Ilham,” Namira membawa mangkuk bubur, gelas serta peralatan makan Ilham.


“Ayah, taruh Dede di kursi makannya dulu atuh,” pinta Namira pada Ilyas.


“Wah enak banget lho Bun salad yang Teteh bikin,” Ilyas menyuapi satu sendok salad kemulut Namira. Baru bersiap memindahkan Ilham pada kursi makan khusus bayi ( high chair ).


“Wah bener enak. Nanti uwak-uwak cobain bikinan teh Nindi ya, habis salat kita makan dulu.” puji Namira.


***


“Yok, seadanya ya,” Namira mempersilakan tamunya makan. Dia menyendok nasi dan tumis daun bayam serta rendang untuk suaminya. Lalu dia juga mengambilkan nasi dan sayur untuk Nindi.


“Teh Nindi lauknya ambil sendiri,” Namira tahu Nindi tak terlalu suka rendang karena dia bilang pedas. Dan saat itu ada ayam goreng serta perkedel. Pasti putrinya akan memilih kedua lauk itu.


“Mari silakan. Saya jangan jadi alasan untuk makan sedikit. Santai aja,” Ilyas pun mulai makan apa yang diambilkan istrinya.


“Perkedelnya nambah Teh Indi?” tanya Ilyas. Sekarang dia sering memanggil Nindya dengan panggilan Indi atau nDiya. Dia sendiri mengambil dua perkedel kentang yang ukurannya kecil itu.


“Enggak,” jawab Nindi. Dia lebih memilih ayam goreng.


“Bibi cuti sampai kapan?” tanya Namira.


“Satu minggu, jadi hari Senin depan aku masuk,” jawab Misah.


“Pantas bisa tahu nomor telepon saya ya. Rupanya Bibi pegawai di kelurahan,” Ilyas baru ingat dia mencantumkan nomor telepon di form isian adopsi Nindi dulu.


\=========================================================================


 SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR ANDA JOGJA  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta