TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ANAK AYAH



“Kasep kenapa Neng?” bik Iyah masuk ke kamar. Sejak tadi dia mengetuk pintu tapi Namira tak mendengarnya karena fokus pada tangis Ilham.


“Enggak tahu Bik, tiba-tiba dia nangis padahal celananya enggak basah dan diberi ASI juga enggak mau,” sambil terisak Namira menjawab.


“Coba sini ama Enin ya,” bik Iyah meminta Ilham untuk dia gendong. Entah mengapa Ilham tambah keras menangisnya sehingga Nindi bangun dan bertanya ada apa. Ditangan bik Iyah, lham juga memberontak seakan menolak digendong nenek angkatnya itu.


“Teteh bobo lagi ya, Dede cuma lagi rewel,” Namira meminta Nindi kembali tidur.


“Ada apa Bik?” Ilyas masuk kamar yang pintunya terbuka. Tadi bik Iyah rupanya tidak menutup pintu karena panik mendengar Ilham menangis.


“Tidak tahu Den, si Kasep rewel, dia tidak panas dan tidak ngompol,” jawab bik Iyah sambil terus mengayun Ilham.


“Sini saya gendong,” pinta Ilyas pada bik Iyah. Ilham pun pindah ke tangan Ilyas.


“Anak Ayah kenapa? Mau bobo sama Ayah ya?” Ilyas mengambil Ilham yang masih menangis tapi sudah tidak keras dan tidak memberontak. Ilyas membawa Ilham keluar kamar. Diayunnya lelaki kecil itu di ruang tengah. Perlahan Ilham mulai berhenti menangis.


‘Apa dia tahu akan aku bawa berpisah dengan den Ilyas? Apa dia merasakannya? Apa mereka sudah punya keterikatan emosional?’ Namira dan bik Iyah mengikuti dokter Ilyas keluar kamar. Namira tak habis pikir melihat Ilham yang mulai tenang dalam dekapan Ilyas.


Ilham sudah kembali tidur, tapi ilyas tidak mengembalikannya ke kamar Namira. Dia bawa Ilham ke kamarnya dan dibaringkan dikasurnya. Ilyas pun berbaring disebelahnya dengan tangan memeluk Ilham. ‘Lalu aku harus bagaimana?’ Namira bingung sendiri.


“Udah Neng, tidur aja sana. Nanti kalau Ilham bangun pasti akan diantar ke kamar,” bik Iyah menyuruh Namira masuk kamarnya dan pergi tidur.


Namira terbangun saat adzan subuh. Biasanya dia sudah bangun sebelum adzan. ‘Mengapa Ilham tak diantar? Dan aku kenapa sama sekali tidak bangun? Lalu Ilham minum apa?’


Ilyas tadi terbangun saat hendak salat tahajud. Dia yakin sebentar lagi Ilham akan bangun karena ingin minum. Dia langsung menyiapkan ASIP. Dia panaskan sebelum Ilham terbangun. Dengan pelan Ilyas memasukkan dot kemulut Ilham yang masih tidur. Bayi kecil itu langsung menyedot tanpa menangis. Hingga subuh Ilham sama sekali tidak bangun.


***


Yudha dan Farhan sejak kemarin minta waktu bertemu dengan August, tetapi kemarin August tidak bisa karena dia baru saja turun dinas. Dia harus tidur. Baru pagi ini mereka bisa bertemu. “Jam sembilan aja ya,” pinta August kemarin. Karena sore hari ini dia harus menemani papinya kontrol kedokter.


“Ini bos yang kami bisa ambil. Tapi itu enggak seberapa dibanding cerita yang kami punya,” Farhan menyerahkan beberapa foto dalam sebuah amplop pada August.


August melihat foto yang Farhan berikan. Sebisa mungkin dia tak mau berkomentar jauh. “Jelaskan cerita kalian saja, karena foto ini tak terlalu jelas ‘menyampaikan misi’. Aku tak mau salah berasumsi!”


“Cerita yang kami dapat, Stella dan Liz itu berteman sejak kakak Liz yang pacar Stella meninggal. Saat itu Edward baru mulai kuliah. Stella naik kelas sebelas dan Liz dikelas sepuluh.” Farhan membuka cerita.


“Merasa sama-sama kehilangan, Stella dan Liz menjadi akrab dan saling menghibur. Tak pernah ada yang berburuk sangka. Tapi ketika Liz sudah selesai kuliah managemen di Paris keluarganya kaget karena melihat akta pernikahan Liz dan Stella saat mereka kuliah di Paris. Sejak saat itu Liz diusir dan tidak diakui oleh keluarganya,” Farhan memberi info yang dia dapat dari satpam di rumah keluarga Liz.


“Perancis memang salah satu negara yang membolehkan pernikahan sesama jenis!” August memberi reaksi datar.


“Masalahnya bagaimana gue cerita ke oma masalah ini?” tanya August. Sedang foto-foto yang Yudha buat hanya tentang kebersamaan Liz dan Stella tapi tidak menjurus pada pernikahan yang mereka dengar.


“Itu dia Bos. Sepertinya keluarga Stella enggak tahu tentang pernikahan itu. Maka mereka aman di keluarga Stella.” sahut Yudha.


“Lebih baik kalian cari keluarga Liz yang bisa bantu gue. Gue malas harus drama ama Stella.” August memutuskan mencari info lanjutan tentang sosok perempuan yang dicalonkan oma untuk dia nikahi.


“Cari aja data keluarga dekat Liz yang tahu tentang pernikahan, pekerjaannya apa dan dimana. Nanti gue yang akan ketemu dan ngomong minta bantuan tu orang,” August menyudahi pertemuan mereka kali ini.


***


Laura membuka ruang kerjanya di butik. Dia merasa ada yang aneh. Lampu ruang kerjanya menyala. Padahal dia tak pernah lupa mematikan ketika dia pulang. “Teh, kadie heula,” panggil Laura pada seorang pegawai yang dekat dengannya. ( Teh, kadie heula \= kak, kesini sebentar ).


“Iya Bu, ada apa?” sang pegawai langsung menghampiri Laura sesuai perintah pemilik butik itu.


“Teteh lihat ya, saya baru buka pintu dan belum masuk. Ini kenapa ruang kerja saya lampunya menyala? Kunci saya bawa dan sebelum keluar saya selalu mematikan lampu. Temani saya masuk agar jadi saksi ya,” Laura membuka ponselnya dan menyalakan video untuk merekam. Dia mulai dengan lampu yang menyala, lalu dia masuk ke dalam menuju meja kerjanya.


“Teteh lihat ini ya, laci saya sedikit terbuka,” Laura mereka kondisi laci yang sedikit terbuka. Selain itu tak ada kejanggalan lain. Laura mengajak pegawainya itu keluar ruangannya.  Dia langsung menghubungi seseorang. Ternyata Laura harus menghubungi orang lain lagi.


“Jangan ada yang masuk ruangan saya. Saya akan bekerja disini saja,” Laura duduk di sofa ruang tamu yang biasa digunakan para konsumen. Dia meminta pegawai bagian produksi melaporkan kinerjanya di sofa itu saja.


“Tolong belikan saya juice atau es buah didepan ya,” pinta Laura. Sampai makan siang Laura tetap tidak memasuki ruangannya sama sekali.


“Bu, ada tamu,” Rose bagian administrasi butik memberitahu Laura ada dua lelaki mencarinya.


“Suruh masuk saja, dan kamu langsung belikan juice di depan ya,” di meja sofa sudah tersedia air gelas kemasan untuk konsumen yang datang. Tapi bila ada tamu khusus tentu Laura minta dibuatkan teh, kopi atau beli minuman dingin didepan.


“Adnan dan ini teman saya Toha,” seorang dari dua tamu itu langsung mengulurkan tangan pada Laura.


“Laura.”


“Toha.”


“Kita langsung saja ya?” Toha mengeluarkan berkas untuk diisi oleh Laura.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


***YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  ***


SEKARANG HARI SENIN LHOOO


JANGAN LUPA GUNAKAN VOTE GRATIS DARI MANGATOON/NOVELTOON UNTUK NOVEL INI YAAA


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta