
‘Saya sudah selesai mengidentifikasi sidik jari. Ada satu karyawan anda yang terlibat,’ chat yang Laura terima malam ini membuat Laura sangat terkejut.
‘Saya juga mendapat rekaman CCTV dari toko seberang butik anda,’ kembali chat masuk sebelum Laura menjawab chat pertama.
‘Lalu apa tindakan kita?’ tanya Laura
‘Lusa semua pegawai harus masuk. Kita briefing pukul 10.00 ya,’ jawab Adnan.
‘Baik, terima kasih,’ balas Laura.
“Koq malah sibuk chat?” Syahrul yang sedang berada didepan Laura protes karena Laura sibuk berbalas chat. Dia tahu ponsel yang digunakan adalah ponsel butik. Saat ini memang hampir semua ponsel bisa untuk dua kartu. Tapi Laura tak menggunakan satu ponsel untuk dua nomor, karena sering dia lupa menjawab pesan butik dengan nomor panti. Itu sebabnya dia memilih menggunakan ponsel berbeda agar tak ada kesalahan.
“Butikku bermasalah. Barusan polisi yang chat,” jawab Laura malas.
“Ada apa? Koq enggak cerita?” tanya Syahrul.
‘Jangankan cerita tentang butik, membahas tentang Ida saja dia tak mau,’ Syahrul sadar hal itu, tapi sengaja mengajku Laura dengan pertanyaan barusan.
“Enggak apa-apa koq,” balas Laura.
“Tadi pagi aku ke panti, ada renovasi ya,” Syahrul membuka pembicaraan.
“Iya,” jawaban Laura masih pendek.
“Please jangan begitu, Abang kan sudah minta maaf. Abang enggak akan menyuruh anak-anak menginap di rumah Ida bila mereka engga mau dengan kesadaran sendiri.” Syahrul berjanji pada Laura. Perempuan yang tak ada keterikatan secara hukum dengan dirinya sehingga berhak mengatur dirinya. Tapi mempunyai keterikatan emosional sangat dalam dengan kedua anaknya. Dia mengalah bila bersangkutan dengan anak-anaknya.
Tak ada seorang pun yang bisa mengatur Syahrul menyuruh atau melarang anaknya berbuat sesuatu selain Laura. Perempuan muda ini lebih dominan dari dirinya terhadap kedua buah hati Syahrul.
“Aku enggak ingin anak-anak depresi. Kamu ingat, mereka bahkan enggak mau cerita soal kedatangan ibunya kesekolah karena mereka beranggapan kamu akan bahagia bila balikan dengan Ida. Aku takut mereka akan mencoba melakukan apa yang kamu suruh asala melihat daddynya bahagia. Walau mereka melakukannya dengan tekanan batin. Bisa ngerti enggak apa yang aku maksud?” panjang kali lebar kali tinggi Laura menjelaskan mengapa dia marah pada Syahrul.
“Abang ngerti. Dan Abang janji enggak akan menyuruh mereka mendekati ibunya bila bukan karena keinginan mereka. Bahkan selama ini Abang juga enggak pernah bahas Ida didepan mereka. Abang akan bahas bila mereka yang duluan membuka topik itu,” Syahrul akhirnya lega karena Laura mau bicara. Itu artinya Laura sudah memaafkannya. Memang bila berhubungan dengan Laura harus face to face.
***
Bik Iyah bingung saat Ilyas datang bersama sebuah taxi. Dia baru mengerti ternyata taxi itu hanya berisi belanjaan tuannya saja. “Ayah, ini langsung Teteh bawa ke kamar Teteh ya?” Nindi langsung membawa buku, lem dan gunting kelinci yang dia pilih tadi. Juga tak lupa shampoo dan odol miliknya.
“Iya sayank, kamu bawa semua milikmu,” Ilyas mengizinkan Nindi membawa langsung barang-barang miliknya. Ilyas hanya membawa satu pak diapers isi sepuluh yang akan dia simpan di dalam kamarnya.
‘Mengapa dia belanja barang untuk Ilham sebanyak itu? Biasanya semua aku yang beli walau kemasan kecil dan sedikit-sedikit. Ini dia beli dalam kemasan besar dan jumlah banyak,’ Namira hanya melihat barang kebutuhan bayi tanpa berani menyentuhnya.
“Bik, punyanya Ilham langsung masukkan ke kamarnya saja. Botolnya langsung cuci ya. Dan jangan lupa rebus,” Ilyas meminta bik Iyah langsung memasukan barang yang dia beli. Tadi Ilyas juga membeli botol penyimpan ASI sebanyak satu lusin.
Namira terus melanjutkan menyetrika baju. Dia sudah selesai masak untuk makan siang hari ini. Pesanan konsumen juga sudah dia antar. Nanti sore baru dia akan membuat adonan baru. “Neng, ini ada botol ASI lagi selusin,” bik Iyah menyerahkan selusin botol ASI dan dua buah botol sussu.
“Iya Bik, nanti saya cuci dan sterilkan,” Namira menjawab sambil terus menyetrika. ‘Aku harus mengucapkan terima kasih karena dia sudah membelikan keperluan Ilham. Ini yang pertama kalinya. Walau kadang dia membelikan sisir atau sepatu, tapi bukan kebutuhan sehari-hari seperti ini.’
***
Bastian berhasil mengerjakan banyak berkas yang harus dia selesaikan. Dia ingin segera bisa berlibur ke Singapore seperti janji Julia kala di rumah sakit.
Bastian POV
Aku melihat Julia membuka ponsel usaha miliknya, aku jadi ingin pergi berdua dengannya ke Singapore.“Kalau A’a sudah sembuh, kita bisa ke Singapore berdua enggak?”
“Mau apa?” Julia malah bingung menanggapi ajakanku.
“Refreshing aja. Sekalian kamu bisa belanja barang daganganmu ‘kan?” usulku.
“Boleh aja, tapi ada syaratnya. Pertama kamu harus beneran udah fit. Kedua kamu harus kerjain semua pekerjaan yang tertunda selama kamu sakit. Dan yang terpenting nomor tiga, aku enggak mau belanjaan barang daganganku dibayarin!”
Syarat pertama dan kedua tentu wajar bagiku. Tapi syarat ketiga tentu aneh buatku. Perempuan lain tentu akan sengaja nambah quota belanjaannya mumpung dibayarin. Ini koq malah nolak.
“Aku enggak mau modal usahaku tercampur dengan uang orang lain. Aku ingin semua pakai uangku sendiri!” jawab Julianya tegas.
Aku tak menyangka, Julia tak menganggapku orang lain. Aku hanya diam. Pasrah menyikapi pendapatnya.
“Please jangan mulai ngambeg! Maksudku ini untuk urusan usahaku. Aku ingin tahu kekuatanku sendiri. Kalau untuk tiket dan makan tentu semua ditanggung yang ngajak,” akhirnya Julia menjelaskan apa yang dia maksud dengan poin ketiga. Dia berkata sambil mengusap lembut lenganku.
Bastian end POV
Itu sebabnya Bastian benar-benar ngebut agar semua kerjaannya selesai. Ngebut bukan membuat Bastian tidak teliti. Dia tetap Mr Perfeksionis. Kalau sudah bekerja Bastian akan lupa kalau sekretarisnya adalah tunangannya. “Ini berkas mengapa tidak lengkap?” tanya sadis. Tak ada senyum pada sekretarisnya itu.
“Kemarin Bapak hanya minta part itu saja. Saya sudah tanya Bapak mau full atau hanya part revisi. Dan Bapak jawab hanya part revisi,” Julia hanya menjawab sesuai dengan yang dia dengar kemarin.
“Tolong sekarang ambilkan full agar saya tidak bingung,” tanpa minta maaf Bastian minta berkas selengkapnya. Masih bagus sekarang dia mendahului perintahnya dengan kata TOLONG. Tidak seperti dulu yang selalu main perintah semaunya.
“Baik Pak, saya permisi,” Julia pamit keluar ruangan untuk menyiapkan berkas yang diminta Bastian.
“Uda, aku bisa minta file lengkap yang kemarin?” tanya Julia pada Manager marketing melalui sambungan telepon.
“Apa sih yang enggak buat nona cantik sepertimu?” goda Harun.
\==================================================
***YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya ***
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta