
Ilyas tertawa sejenak lalu dia menjawab pertanyaan Kusdi. “Aku jatuh cinta pada mata bening ilham sebelum melihat Namira.” Tentu kakak dan kakak iparnya menduga ilyas jatuh cinta pada Namira.
Kusdi dan Novia saling pandang tak percaya. “Kalian tahu, di panti asuhan, ada berapa ratus bayi yang aku peluk sejak 4 tahun lalu aku bergabung. Belum lagi bayi di rumah sakit dan tempat praktikku. Baru ilhamlah yang membuatku ingin selalu mendekap dan melindunginya. Itu sebabnya tanpa pikir panjang aku ingin dia selalu ada di dekatku. Aku tak peduli bila nanti Namira punya suami. Setidaknya bila ilham sudah biasa denganku, dia akan sesekali mengunjungiku bila Namira ikut suaminya kelak.
***
Pagi ini August free, semalam dia baru saja tiba dari tugasnya. Dia segera mandi dan bersiap keluar. Sebelumnya dia sarapan di bubur ayam depan apartemennya yaang selalu ramai. Sesudah itu dia melajukan mobilnya menuju tol. Dia ingin mendekap bayi-bayi di panti asuhan milik Laura. Tak ada janjian dengan sang pemilik karena dia hanya berniat mendekap bayi-bayi itu. Entah mengapa dia seakan ingin ke sana. Kalau hanya untuk mendekap bayi, bukankan banyak panti asuhan di Jakarta? Sebelum masuk ke Cimahi, August sengaja membeli aneka ukuran diapers dan su5u bayi yang datanya pernah club motornya minta dulu. Kalau merk su5u bayi tentu tidak bisa sembarangan karena bisa membuat perut bayi sakit bila tidak cocok. Dan merek diapers juga begitu. Banyak bayi mengalami iritasi kulit menggunakan beberapa merek tertentu.
“Assalamu’alaykum,” August menyampaikan salam saat tiba di panti siang itu. Dia sampai di panti pukul 13.12 karena sengaja salat dzuhur dan makan siang lebih dulu. Tentu tidak enak bila lama di panti dan lapar karena belum makan siang.
“Wa’alaykum salam. Silakan masuk Pak,” sambut satpam yang sudah pernah ngobrol dengan August saat acara club motornya dulu.
“Bapak janjian dengan mommy Laura?” tanya Sukma yang sedang di meja depan saat August datang menurunkan bawaannya dibantu satpam.
“Enggak. Saya tidak janjian dengan dia. Apa kalau mau melihat bayi harus janjian dulu?” tanya August serba salah.
“Owh tidak. Saya kira sudah janjian lalu mommy lupa. Karena hari ini beliau sedang ikut seminar di Bandung untuk 2 hari,” jawab Sukma.
“Tidak, saya memang tidak janjian,” balas August cepat. Dia lalu mencuci tangannya sebelum masuk ke kamar bayi karena itu memang keharusan di panti asuhan itu.
“Assalamu’alaykum,” sapa seorang gadis dengan seragam sekolah saat August sedang mendekap bayi lelaki yang baru dia ganti diapersnya. Dilihatnya gadis itu langsung masuk ke belakang.
‘Sudah pulang?” tanya bik Sanah yang kebetulan sedang di panti.
“Iya Bik,” sahut Wulan sambil mencium tangan bibik dengan takzim. Gadis ini memang selalu berlaku demikian pada orang yang lebih tua darinya. “Saya ganti baju dulu ya Bik.”
“Ya, makan dulu ya,” jawab bik Sanah. “Bibik bikin sayur bening kelor kesukaanmu.”
“Asyiiiiik, nuhun pisan Bik,” Wulan bergegas masuk ke belakang.
Menjelang sore August pulang dari panti asuhan itu. Di ruang depan dia melihat gadis berseragam sekolah tadi sedang membersihkan kaca jendela. Rencananya August ingin meluncur ke Dago menikmati malam di sana. Dia sedang ingin mengisi celah hatinya yang kosong. Tapi belum berniat untuk menjalin kedekatan dengan lawan jenis lagi. Dia masih sangat menyesalkan kandasnya hubungan cinta dengan Julia. Suatu perasaan penyesalan yang tak pernah dia rasakan ketika putus cinta dengan pacar atau teman kumpul kebonya.
***
“Barang sudah masuk semua?” tanya Ilyas pada Namira.
“Sudah Den,” jawab Namira sopan.
“Ya sudah, kita berangkat,” Ilyas pamit pada bibik dan Galang. Gilang sedang sekolah. Nanti kalau di jalan ingin berhenti karena ingin pipis atau hal lain bilang ya. Jangan ada rasa tidak enak,” pesan ilyas pada Nindi yang sebenarnya juga ditujukan pada Namira. Sungguh ilyas sendiri sebenarnya sungkan berhubungan dengan perempuan muda ini.
“Kamu duduk depan. Masa saya sendirian,” ilyas meminta Namira duduk di kursi depan saat melihat perempuan itu ingin duduk di sebelah Nindi.
“Baik Den,” jawab Namira sungkan. Dia pun duduk di depan dan segera memasang seat beltnya. Pagi ini Namira mengenakan celana jeans hitam dipadu dengan tunik lurus tanpa ploi dengan tangan dibawah siku. Tentu dengan kancing depan karena dia menyusui ilham. Sejak kemarin Namira sudah membeli diapers untuk ilham selama perjalanan. Dia tak ingin bajunya basah membuat pesing mobil bila ilham mengompol.
“Kamu suka?” tanya Ilyas pada Nindi. Dia bingung karena mau bicara dengan Namira juga bingung apa topik yang enak dibicarakan. Ilyas memberikan snack pada Nindi agar gadis kecil itu tidak bosan selama perjalanan.
“Suka paman, terima kasih,” balas Nindi sambil membuka snack dari ilyas.
“Nanti kak Nindi sekolah lagi ya,” Ilyas mulai memberitahu Nindi kalau gadis kecil itu akan mulai sekolah lagi.
“Iyah,” jawab gadis kecil itu dengan mulut penuh snack, membuat ilyas gemas karena dia melihatnya dari spion.
***
‘i really miss U Mom,’ Laura yang sedang serius memperhatikan materi seminar di sebuah hotel di Bandung merasakan ada getar di tasnya. Dilihatnya ada pesan masuk dari Nazwa.
‘Kamu sedang istirahat? Mengapa bisa bawa ponsel ke sekolah?’ cepat Laura menjawab karena jam sekolah Nazwa tidak diperbolehkan membawa ponsel oleh sekolahnya.
‘i’m at home. I’m sick Mom,’ balas Nazwa.
‘Share lock alamat rumahmu ya, nanti sesudah seminar selesai Mommy ke rumahmu. Mommy sedang seminar,’ Laura membalas chat Nazwa dan menjanjikan akan mengunjungi putri kecilnya. Laura tahu, sebagai dokter anak tentu Syahrul tahu apa yang diderita anaknya sehingga merasa tak perlu di rawat di rumah sakit. Seminar hari ini selesai pukul 17.00 dan akan dilanjutkan esok hari pukul 08.00. Laura segera keluar hotel dan menuju ke supermarket sebelum mengunjungi Nazwa. Dia membeli bahan salad, bahan puding serta ice cream untuk kedua buah hatinya. Walau dia belum bisa membalas cinta Syahrul, tapi sejak 4 tahun lalu masih ada Tommy dia memang sangat menyayangi kedua anak itu.
“Assalamu’alaykum,” sapa Laura ketika sampai di rumah Syahrul dan disambut pekik manja Fahri. “Mommyyyyyyyyyyyy!”
“Jawab salam Mommy dulu Jalu,” jawab Laura. Seringkali orang tua di wilayah Jawa Barat memanggil anak lelakinya dengan sebutan Jalu.
“Hehe … wa’alaykum salam Mommy,” sahut Fahri sambil mendekap laura yang langsung memberikan kotak ice cream padanya. Selain itu Laura menurunkan belanjaannya lalu masuk ke dalam mengikuti Fahri.
==============================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta